Citizen Reporter
Meja Dakwah yang Lahirkan Banyak Mualaf
HARI Rabu lalu saya bersama seorang teman berjalan-jalan mengitari indahnya Kota Melbourne, Australia. Kota metropolitan yang mendapat
HARI Rabu lalu saya bersama seorang teman berjalan-jalan mengitari indahnya Kota Melbourne, Australia. Kota metropolitan yang mendapat predikat sebagai the most liveable city in the world (kota yang paling layak untuk ditempati di dunia). Jadi, wajar saja kalau banyak orang dari berbagai penjuru dunia tertarik mengunjungi bahkan menjadi bagian dari kota ini.
Di samping kehidupan masyarakatnya yang sudah sangat maju, kota yang dikenal dengan empat musim dalam sehari ini juga dilengkapi dengan fasilitas dan transportasi yang sangat sophisticated (canggih). Di sini tersedia bus, train, dan tram yang sangat canggih dan selalu bisa kita nikmati untuk berpergian di seantero Kota Melbourne.
Melbourne juga sangat terkenal dengan kuliner internasionalnya. Bahkan relatif sangat mudah untuk kita jumpai kuliner-kuliner asli Indonesia di sini, sehingga bisa memanjakan lidah kita dan mengobati kerinduan akan makanan khas Indonesia.
Seperti kebanyakan kota metropolitan lainnya, di sini pun akan kita temukan beberapa keunikan dan keberagaman. Misalnya, para pengunjungnya baik dari segi warna kulit maupun bahasa yang sangat bervariasi serta style berpakaian yang sangat kontras, amat berbeda satu sama lain. Di sinilah saya melihat dan mengerti apa arti dari indahnya perbedaan dan mensyukuri setiap hal yang telah Allah cipta.
Di tengah suasana kota yang ingar bingar, tiba-tiba ada suatu hal yang menarik perhatian saya. Hari itu saat saya sedang asyik menikmati suasana kota, terlihat dua orang muslim yang sedang melaksanakan shalat Zuhur berjamaah dengan khusyuknya di salah satu perempatan jalan di tengah keramaian Kota Melbourne. Subhanallah, sungguh pemandangan seperti ini baru pertama kali saya lihat dan mungkin tak akan pernah saya jumpai di Aceh, karena di Aceh sangat banyak masjid maupun meunasah sehingga tidak akan ada orang yang harus shalat di pinggir jalan. Bahkan saking banyaknya masjid di Aceh, sehingga terkesan kurang jamaahnya. Diakui atau tidak itulah fenomena yang terjadi di nanggroe kita tercinta akhir-akhir ini. Bahkan ketika azan berkumandang lebih banyak kita temui orang yang asyik nongkrong di kafe-kafe atau tempat-tempat santai lainnya dibandingkan mereka yang bersegera mendirikan shalat berjamaah.
Tapi sungguh berbeda pemandangan yang saya saksikan di Melbourne ini. Begitu waktu shalat tiba, mereka langsung mendirikan shalat, tak peduli apakah itu di pinggir jalan ataupun di pusat keramaian kota. Luar biasa, mereka bisa sebegitu khusyuknya saat melaksanakan shalat. Yang membuat saya sangat terharu adalah mereka berani menunjukkan jati dirinya sebagai muslim di negara yang notabene Islam merupakan agama yang pemeluknya minoritas di sini.
Rasa penasaran saya terhadap mereka membuat saya sangat berhasrat mendapatkan informasi siapa sebenarnya mereka dan apa yang mereka lakukan di situ. Ternyata mereka adalah anggota dari kelompok tim dakwah IREA (Islamic Research and Education Academy).
Mereka punya meja dakwah. Dari meja inilah mereka menyebarkan syiar Islam kepada siapa saja yang melintasi kota metropolis, Melbourne. Mereka bagi-bagikan brosur tentang Islam dan menebarkan senyuman penuh kasih kepada setiap orang yang lewat. Tak heran kalau kemudian banyak mualaf yang lahir melalui meja dakwah ini.
Semoga saja di Aceh kita bisa menciptakan meja-meja dakwah seperti ini, sehingga kita bangga dengan keislaman dan syariat kita. Yang tak kalah pentingnya adalah menghidupkan shalat berjamaah di mana pun dan kapan pun manakala seruan azan memanggil kita. Amin ya Rabbal alamin.
[email penulis: tm.ridha.al.auwal@gmail.com]
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com