• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 1 Oktober 2014
Serambi Indonesia

Gulai Lele Nagan yang Lezat

Minggu, 24 Februari 2013 10:11 WIB
Gulai Lele Nagan yang Lezat
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Konsumen sedang memilih masakan khas Aceh jenis ikan lele di Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya.
BAGI anda pecinta masakan khas Aceh khususnya yang menggunakan ikan tawar sebagai bahan bakunya, tidak salah jika harus mencicipi masakan yang satu ini. Selain rasanya yang luar biasa nikmat, protein dan vitamin yang terkandung dalam masakan ini juga sangat baik untuk asupan gizi anda.

Masakan itu adalah gulai ikan lele atau dalam bahasa Aceh kerap disebut eungkot Limbek atau eungkot seungko.  Ya, makanan yang satu ini tentu tidak asing lagi bagi kita khususnya kaum Adam. Betapa tidak, makanan ini memang banyak ditemukan di sejumlah rumah makan atau restoran cepat saji diberbagai daerah. Namun, soal rasa, tunggu dulu. Gulai masam keueng ikan lele yang dijual di Warung Saminan (Bang Nan) di Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya ini tentu jadi primadona bagi pelanggan setianya atau pengunjung lain ke kawasan itu.

Betapa tidak, warung yang terletak di jalan menuju Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya ini kerap diserbu pelanggan setiap hari. Meski banyak warung lain di lokasi itu yang juga menjual gulai menggunakan bahan baku ikan lele, namun warung Bang Nan tetap jadi incaran. Penyebabnya, rasa gulai lele di warung ini benar-benar lezat, gurih, dan menggugah selera makan anda, serta sangat berbeda dengan di warung lain.

Dengan jenis masakan yang berbeda, di warung Bang Nan tentu bisa membuat pengunjung terkesan dengan rasa masakannya. Selain menyediakan menu gulai masam keueung khas Aceh, di warung ini juga menyediakan aneka masakan lain dengan bahan baku ikan lele, seperti lele goreng, lele panggang, serta belut atau ikan gabus. Namun, bagi anda yang tidak suka ikan tawar, di warung ini juga disediakan ikan laut seperti Tenggiri atau ayam goreng. Tapi, gulai lele tetap jadi menut primadona di warung nasi ini.

Soal harga, anda juga tidak perlu merongoh kantong dalam-dalam. Soalnya, gulai lele di warung ini dijual Rp 10 ribu per porsi jika tanpa nasi dan Rp 15 ribu per porsi jika ditambah nasi. Untuk lele panggang, harganya Rp 25.000 per porsi. Dengan kelebihan citarasa dan harga yang terjangkau, tak jarang pengunjung dari luar Nagan Raya atau baru mendarat di bandara, akan langsung singgah di warung ini.

Jadi, tak perlu heran jika anda datang siang hari, bisa-bisa anda tidak kebagian tempat duduk untuk menyantap makan siang di warung ini. Karena warga yang datang ke warung ini setiap hari sangat ramai. Mulai dari kalangan pejabat kelas wahid hingga ke kalangan kuli bangunan, pasti akan anda jumpai di sini.

Penasaran dengan masakan ini, silakan berkunjung ke Nagan Raya. Tentu masakan seperti ini hanya akan ditemukan di Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir tepatnya di jalan menuju Jeuram atau Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya. Dengan citarasa yang menggoda selera, anda tentu takkan pernah lupa dengan masakan khas Aceh yang satu ini.(dedi iskandar)

Sebulan Laku hingga 1.500 ekor

SAMINAN alias Bang Nan (48), penjual masakan ikan lele di Desa Langkak, Kecamatan Kuala, Nagan Raya kepada Serambi, Senin (18/2) mengaku dalam sehari ia mampu menjual ikan lele di warung miliknya minimal 50 ekor sehari atau atau 1.500 ekor per bulan. Namun, jumlah itu bisa saja bertambah jika konsumen yang datang lebih banyak dari biasanya.

Menurut pria yang sudah 23 tahun menggeluti usaha ini, awalnya usaha itu dirintisnya hanya sekedar untuk pengalihan usaha dari warung kopi menjadi warung nasi. Karena pada saat itu belum ada warung nasi yang menjual ikan lele, ia mencoba peruntungan dengan membuka usaha tersebut. Hasilnya, ternyata usaha yang digeluti bersama isterinya itu menuai hasil besar dan sangat menggembirakan.

Usaha yang ia rintis tersebut sukses hingga kini, bahkan menjadi primadona bagi setiap pengunjung yang datang ke warung miliknya. “Alhamdulillah, semua ini anugerah dan rahmat dari Allah SWT,” kata Saminan. Untuk menjaga rasa masakan, menurut Bang Nan--sapaan akrab Saminan--, ikan lele dimasaknya tak menggunakan ikan yang dibudidaya. Tapi, ikan itu diorder khusus yang ditangkap di rawa-rawa atau kawasan tertentu yang masih alami. Sehingga rasa ikan akan lebih nikmat ketika disantap pelanggannya.

Dikatakan, ikan-ikan itu dibeli dari pelanggannya kawasan Nagan Raya, Abdya bahkan dari Aceh Jaya dan Aceh Barat. Sehingga stoknya selalu tersedia dan jarang terputus. Soal meracik bumbu masakan gulai itu, ia mengaku hampir sama cara dengan penyajian masakan lain. “Yang beda hanya trik memasaknya. Karena, bila tak hati-hati rasa ikan tersebut juga tak akan nikmat,” ujar Bang Nan.

Dibalik itu semua, Saminan telah membuktikan bahwa usaha yang digeluti dengan sungguh-sungguh akan berhasil. Sepak terjang pria ini agaknya harus menjadi motivasi bagi semua pihak. Karena tak ada kesuksesan yang diraih tanpa ada usaha, doa, serta perjuangan yang panjang tanpa mengenal lelah dan cucuran keringat.(dedi iskandar)

Sangat Nikmat

MASAKAN jenis gulai ikan lele yang dijual di Desa Langkak, Kecamatan Kuala, Nagan Raya itu sangat nikmat dan menggugah selera. Masakan seperti ini cocok dijadikan sebagai salah satu alternatif menghilangkan rasa jenuh ketika hari libur. Selain citarasanya yang berbeda dengan masakah di daerah lain, dengan menyantap gulai ini rasa bosan yang saya alami benar-benar hilang dan mampu menggugah selera makan.
* Amiruddin, Karyawan Swasta.(edi)

Makanan Favorit

WARUNG gulai ikan lele di Langkak adalah salah satu tempat yang selalu ramai dikunjungi warga. Masakan ini termasuk makanan favorit saya. Saya berharap Pemkab Nagan Raya dapat menata kawasan ini dengan baik sehingga bisa menjadi daerah pusat wisata kuliner. Salah satunya dengan menambah sarana dan prasarana. Apalagi tempat ini berada di jalan menuju bandara serta lintas Meulaboh-Tapaktuan dan Jeuram-Meulaboh.
* Rahmatun Nisa, Tenaga Honorer di DPRK Nagan Raya.(edi)

Bisa Jadi Ikon

LOKASI penjualan masakan ikan lele di Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya ini hendaknya dijadikan salah satu ikon kabupaten. Karena kawasan itu sangat cocok dijadikan sebagai pusat wisata. Kalau ditata dengan baik, bukan tak mungkin akan makin meningkatkan daya tarik wisatawan untuk datang ke Nagan Raya, walau hanya untuk sekadar mencicipi masakan ikan lele tersebut.
* Rahmad Hidayat, Seniman.(edi)

Bungong Kayee, Kue Tradisional Andalan

BUNGONG Kayee (Bunga Kayu) adalah nama kue tradisional khas Aceh yang merupakan andalan masyarakat Nagan Raya. Kue yang kerap ditemukan dalam berbagai kenduri di rumah warga ini sangat digemari berbagai kalangan. Kue ini umumunya disantap ketika momen tertentu atau saat santai bersama keluarga di rumah.

Nih Kuala, seorang pengrajin kue tradisional di Lorong Jeumpa, Dusun Mawar, Jeuram, Nagan Raya kepada Serambi, Sabtu (23/2), mengatakan kue Bungong Kayee sangat dimintai masyarakat khususnya ketika akan ada kenduri dan kegiatan adat lainnya seperti peeta perkawinan, turun mandi anak, acara keluarga, Maulid hingga acara kemalangan. Tak ayal, kue Bungong Kayee tetap jadi primadona masyarakat khususnya di Nagan Raya.

Soal rasa, tentu tidak meragukan. Kue berbentuk bunga kayu ini rasanya sangat manis. Karena disekeliling kue berwarna putih itu terdapat kembang gula yang semakin disantap, akan terasa semakin nikmat dan gurih di lidah.

Betapa tidak, mulai dari bahan pilihan, kue ini juga menggunakan bahan baku telur sebagai bahan utama pembuatannya yang disertai dengan tepung beras. Sehingga rasanya semakin gurih dan membuat siapapun yang mencicipi akan ketagihan.

Tak ayal, kue tradisional khas Aceh ini kerap dipesan oleh konsumen mulai dari dalam daerah hingga ke luar provinsi. Karena cita rasanya, kue ini sangat diminati semua kalangan masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Selain itu, Nih Kuala juga memproduksi kue tradisional lain seperti bhoi (Bolu Aceh), kue pret, serta aneka kue tradisional lainnya dengan cita rasa berbeda.

Soal Harga, Nih Kuala mengatakan, kue Bungong Kayee buatannya dijual mulai dari Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per paket sesuai jumlah isinya. Dalam sehari, ia mampu mengerjakan puluhan kue itu dan tergantung pesanan konsumen. Di sisi lain, Nih Kuala berharap Pemkab Nagan Raya memperhatikan pengrajin kue tradisional di wilayah itu. Sehingga kerajinan yang sudah turun-temurun itu dapat terus dilestarikan dan tak hilang ditelan zaman.

Penasaran ingin mencicipnya, silakan anda datang ke Jeuram, Nagan Raya. Di wilayah ini anda tentu takan kesulitan mendapat aneka kue tradisional yang anda sukai.(dedi iskandar)

Bisa Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

BUPATI Nagan Raya, Drs HT Zulkarnaini mengakui banyaknya masyarakat yang menjajakan makanan menggunakan bahan baku ikan lele, belut, dan ikan gabus khususnya di kawasan Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir telah mampu meningkatkan perekonomian masyarakat di kabupaten itu.

Dikatakan, selain mendatangkan keuntungan yang lumayan besar, prospek bisnis kuliner di wilayah yang pernah diterjang tsunami itu telah mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lain khususnya orang yang mencari ikan lele.

Hal itu tentu sangat menggembirakan, karena setiap pengusaha rumah makan telah membuka lapangan pekerjaan bagi warga lain. Hal itu, kata Bupati, diharapkan akan menumbuhkembangkan bisnis tersebut sebagai salah satu pusat wisata kuliner di Nagan Raya. Apalagi dengan banyaknya warga yang membuka usaha tersebut, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas masyarakat untuk mengembangkan usaha, sekaligus peningkatan taraf hidup ke arah yang lebih baik.

“Pemkab Nagan Raya sangat mendukung usaha masyarakat, karena hal ini benar-benar mendongkrak perekonomian khususnya bidang usaha kerakyatan,” pungkas Bupati Drs HT Zulkarnaini.(edi)
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
158423 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas