Serambi Kuliner

Gulai Lele Nagan yang Lezat

BAGI anda pecinta masakan khas Aceh khususnya yang menggunakan ikan tawar sebagai bahan bakunya, tidak salah jika harus mencicipi masakan

Gulai Lele Nagan yang Lezat
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Konsumen sedang memilih masakan khas Aceh jenis ikan lele di Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya.

Masakan itu adalah gulai ikan lele atau dalam bahasa Aceh kerap disebut eungkot Limbek atau eungkot seungko.  Ya, makanan yang satu ini tentu tidak asing lagi bagi kita khususnya kaum Adam. Betapa tidak, makanan ini memang banyak ditemukan di sejumlah rumah makan atau restoran cepat saji diberbagai daerah. Namun, soal rasa, tunggu dulu. Gulai masam keueng ikan lele yang dijual di Warung Saminan (Bang Nan) di Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya ini tentu jadi primadona bagi pelanggan setianya atau pengunjung lain ke kawasan itu.

Betapa tidak, warung yang terletak di jalan menuju Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya ini kerap diserbu pelanggan setiap hari. Meski banyak warung lain di lokasi itu yang juga menjual gulai menggunakan bahan baku ikan lele, namun warung Bang Nan tetap jadi incaran. Penyebabnya, rasa gulai lele di warung ini benar-benar lezat, gurih, dan menggugah selera makan anda, serta sangat berbeda dengan di warung lain.

Dengan jenis masakan yang berbeda, di warung Bang Nan tentu bisa membuat pengunjung terkesan dengan rasa masakannya. Selain menyediakan menu gulai masam keueung khas Aceh, di warung ini juga menyediakan aneka masakan lain dengan bahan baku ikan lele, seperti lele goreng, lele panggang, serta belut atau ikan gabus. Namun, bagi anda yang tidak suka ikan tawar, di warung ini juga disediakan ikan laut seperti Tenggiri atau ayam goreng. Tapi, gulai lele tetap jadi menut primadona di warung nasi ini.

Soal harga, anda juga tidak perlu merongoh kantong dalam-dalam. Soalnya, gulai lele di warung ini dijual Rp 10 ribu per porsi jika tanpa nasi dan Rp 15 ribu per porsi jika ditambah nasi. Untuk lele panggang, harganya Rp 25.000 per porsi. Dengan kelebihan citarasa dan harga yang terjangkau, tak jarang pengunjung dari luar Nagan Raya atau baru mendarat di bandara, akan langsung singgah di warung ini.

Jadi, tak perlu heran jika anda datang siang hari, bisa-bisa anda tidak kebagian tempat duduk untuk menyantap makan siang di warung ini. Karena warga yang datang ke warung ini setiap hari sangat ramai. Mulai dari kalangan pejabat kelas wahid hingga ke kalangan kuli bangunan, pasti akan anda jumpai di sini.

Penasaran dengan masakan ini, silakan berkunjung ke Nagan Raya. Tentu masakan seperti ini hanya akan ditemukan di Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir tepatnya di jalan menuju Jeuram atau Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya. Dengan citarasa yang menggoda selera, anda tentu takkan pernah lupa dengan masakan khas Aceh yang satu ini.(dedi iskandar)

Sebulan Laku hingga 1.500 ekor
SAMINAN alias Bang Nan (48), penjual masakan ikan lele di Desa Langkak, Kecamatan Kuala, Nagan Raya kepada Serambi, Senin (18/2) mengaku dalam sehari ia mampu menjual ikan lele di warung miliknya minimal 50 ekor sehari atau atau 1.500 ekor per bulan. Namun, jumlah itu bisa saja bertambah jika konsumen yang datang lebih banyak dari biasanya.

Menurut pria yang sudah 23 tahun menggeluti usaha ini, awalnya usaha itu dirintisnya hanya sekedar untuk pengalihan usaha dari warung kopi menjadi warung nasi. Karena pada saat itu belum ada warung nasi yang menjual ikan lele, ia mencoba peruntungan dengan membuka usaha tersebut. Hasilnya, ternyata usaha yang digeluti bersama isterinya itu menuai hasil besar dan sangat menggembirakan.

Usaha yang ia rintis tersebut sukses hingga kini, bahkan menjadi primadona bagi setiap pengunjung yang datang ke warung miliknya. “Alhamdulillah, semua ini anugerah dan rahmat dari Allah SWT,” kata Saminan. Untuk menjaga rasa masakan, menurut Bang Nan--sapaan akrab Saminan--, ikan lele dimasaknya tak menggunakan ikan yang dibudidaya. Tapi, ikan itu diorder khusus yang ditangkap di rawa-rawa atau kawasan tertentu yang masih alami. Sehingga rasa ikan akan lebih nikmat ketika disantap pelanggannya.

Dikatakan, ikan-ikan itu dibeli dari pelanggannya kawasan Nagan Raya, Abdya bahkan dari Aceh Jaya dan Aceh Barat. Sehingga stoknya selalu tersedia dan jarang terputus. Soal meracik bumbu masakan gulai itu, ia mengaku hampir sama cara dengan penyajian masakan lain. “Yang beda hanya trik memasaknya. Karena, bila tak hati-hati rasa ikan tersebut juga tak akan nikmat,” ujar Bang Nan.

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help