• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 23 Oktober 2014
Serambi Indonesia

Ikhlas Beribadah

Minggu, 24 Februari 2013 08:58 WIB
Karya Yulia Damayanti

“Lagee boh lam oen,” kataku dalam diam ketika melihat seorang wanita beralis tebal sedang duduk di halte menunggu bus. Wanita bercadar yang seluruh tubuhnya tertutup rapat, hanya alis dan telapak tangannya yang terlihat.  Aku terpana melihat pemandangan  ini. Tubuhku menciut seakan jatuh ke belahan Bumi. Aku hanya seorang mahasiswa berandal yang kebetulan dikaruniakan wajah cukup tampan oleh Tuhan.  Keseharianku hanya jalan-jalan, kuliah, balapan, dan berkencan dengan beragam perempuan.  Tak ayal terkadang aku jenuh  juga dengan itu semua.

Kini kuliahku sudah di semester akhir. Tak ada apa pun yang kudapatkan setelah kurang lebih empat tahun berada di universitas. Bahkan aku merasa kian hari semakin bodoh.

Siang itu aku datang ke parfum shop untuk membeli sejumlah parfum yang selama ini menjadi andalanku. Setelah keluar dari toko parfum,  azan berkumandang. Hari itu panas matahari sangat menyengat. Jalanan sepi. Hanya terlihat beberapa kendaraan yang lalu lalang di depan masjid. Bahkan aku tak tahu ini hari Jumat. Sudah lama aku tak menghadap-Nya. Aku kadang merasa malu pada diriku saat itu.  Namun, bukannya  masuk masjid, aku malah pulang dan tidur-tiduran di kamar  kos.

Keesokan harinya aku menerima telepon dari nenek di kampung. Nenek menyuruhku pulang kampung,  karena ada acara maulid. Dalam perjalanan aku sibuk menghirup rokok. Kali ini aku hanya berangkat sendirian. Tiba di kampung, nenek menyuguhi banyak sekali makanan. Setelah menyiapkan makanan untukku, nenek pergi ke meunasah untuk melihat diekee.

“Assalamualaikoom.” Terdengar suara wanita dari luar. “Waalaikomsalam,” sahutku. Spontan aku terkejut. Darahku berdesir melihat wanita di hadapanku. Ia adalah wanita kemarin yang   sedang menunggu bus di halte, gadis beralis tebal dan bercadar. Aku ingat sekali bentuk alis yang menawan itu. Ia mengantarkan rantang berisi lauk, bu kulah,  dan buluekat untuk nenek. Entah karena malu ia langsung pergi sembari mengucap salam. Kejadian itu membuatku malas kembali ke Banda Aceh. Aku ingin tahu lebih lanjut tentang wanita bercadar itu. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Hingga aku mendapatkan informasi, ternyata namanya dek Rauzah, anak pak geuchik Gampong Blang Sigli yang sedang menempuh pendidikan di sebuah kampus di Banda Aceh.

Dara boh lam oen itu berhasil membuatku gelisah dan susah memejamkan mata. Tak pernah sebelumnya aku begitu terpikat dengan wanita. Semakin banyak kain yang membalut tubuhnya, semakin membuatku  panasaran.  Aku ingin segera memilikinya. Kudesak Ayah dan ibu supaya melamarnya untukku. Ayah menurut saja.  Dua minggu kemudian ayah datang membawa serombongan orang penting di kampung untuk meminta setangkai bunga yang kudambakan. Awalnya, keluarganya setuju. Namun, setelah melihat gaya khas brandalanku,  mereka langsung menolak. Hatiku menjerit histeris. Aku pulang membawa kecewa.

Tak lama setelah kejadian itu, Tuhan memberikan hidayah kepadaku. Aku meninggalkan kebiasaan buruk yang biasa kulakukan seperti keluar pada  malam hari, berjudi, pasang togel dan minum minuman keras. Aku pun mulai melaksanakan shalat. Namun, aku masih belum mampu khusyuk dalam shalatku. Setiap ayat yang kubaca,  selalu terbayang alisnya. Aku bahkan kini yakin wanita dibalik cadar itu sangat cantik dan aku pasti bahagia bersamanya. Kehidupanku berubah. Aku meninggalkan teman-temanku yang biasanya selalu bersamaku melakukan perbuatan bejat.

Untuk kedua kalinya, kami sekeluarga dan pak geuchik  serta tengku imum datang lagi untuk melamarnya. Aku memperlihatkan perubahan gayaku. Aku mulai mengenakan peci dan celana kain. Aku juga mengatakan bahwa aku benar-benar sudah berubah. “Lon serius ngoen  dek Rauzah, pak,”  kataku mengiba.

Dengan segenap rasaku aku masih memohon pada pak geuchik dan mengatakan bahwa dek Rauzah tak perlu membuka cadarnya,  karena aku sangat yakin ia adalah wanita cantik. Bagiku, seakan alis matanya saja sudah membuatku bertekuk lutut.   Biarlah aku membuka sendiri penutup mukanya nanti setelah jadi istriku. Setelah melewati proses lamaran panjang, akhirnya pak geuchik luluh  hatinya. Sepertinya dek Rauzah pun mencintaiku. Dua hari setelah lamaran, kami langsung menikah di Masjid Raya Baiturrahman.

Malam pertama pun tiba. Kami menginap di sebuah hotel mewah di Kota Sabang.  Aku tak sabar ingin membuka cadarnya. Aku ingin melihat pesona kecantikannya yang selama ini ku nanti-nanti. Aku yakin Tuhan pasti memberiku yang terbaik. Hatiku berdegup kencang. Perlahan aku membuka penutup mukanya. Ternyata, tak seperti yang kubayangkan. Bibirnya sumbing dengan gigi sedikit maju atau “boneng” kata kasarnya. Aku mengucapkan astaghfirullah. Meneteslah air bening dari mata dek Rauzah. Mungkin ia malu dan tersakiti oleh tingkahku.

Namun, aku juga akhirnya sadar. Aku salah dan khilaf.  Aku selama ini shalat bukan karena Allah, tapi karena rasa penasaranku pada gadis ini. Aku mengubah tingkah laku  bukan karena perintah agama, tapi biar diterima oleh keluarga Rauzah.

Shalat sejatinya adalah ibadah utama. Begitu pentingnya shalat,  sehingga Allah SWT   memanggil sendiri Rasulullah SAW  menghadap-Nya  untuk memberikan perintah shalat. Tapi, aku malah tak memahami  substansi shalat itu. Ibadahku ada pamrihnya. Keikhlasan masih jauh dari lubuk hatiku.  Di balik ini semua,   Rauzah adalah wanita yang baik, lembut, perhatian,  dan selalu bertawakkal kepada Allah di balik secuil kelemahan fisiknya.  Kini, bersamanya,   aku benar-benar melakukan shalat dan ibadah lain karena Allah, bukan karena siapa-siapa. Dulu, teungku di balee seumeubeut  sebetulnya  pernah mengajariku bahwa, “Amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar.”

* Yulia Damayanti, mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
158304 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas