Selasa, 28 April 2015

Ikhlas Beribadah

Minggu, 24 Februari 2013 08:58

“Lagee boh lam oen,” kataku dalam diam ketika melihat seorang wanita beralis tebal sedang duduk di halte menunggu bus. Wanita bercadar yang seluruh tubuhnya tertutup rapat, hanya alis dan telapak tangannya yang terlihat.  Aku terpana melihat pemandangan  ini. Tubuhku menciut seakan jatuh ke belahan Bumi. Aku hanya seorang mahasiswa berandal yang kebetulan dikaruniakan wajah cukup tampan oleh Tuhan.  Keseharianku hanya jalan-jalan, kuliah, balapan, dan berkencan dengan beragam perempuan.  Tak ayal terkadang aku jenuh  juga dengan itu semua.

Kini kuliahku sudah di semester akhir. Tak ada apa pun yang kudapatkan setelah kurang lebih empat tahun berada di universitas. Bahkan aku merasa kian hari semakin bodoh.

Siang itu aku datang ke parfum shop untuk membeli sejumlah parfum yang selama ini menjadi andalanku. Setelah keluar dari toko parfum,  azan berkumandang. Hari itu panas matahari sangat menyengat. Jalanan sepi. Hanya terlihat beberapa kendaraan yang lalu lalang di depan masjid. Bahkan aku tak tahu ini hari Jumat. Sudah lama aku tak menghadap-Nya. Aku kadang merasa malu pada diriku saat itu.  Namun, bukannya  masuk masjid, aku malah pulang dan tidur-tiduran di kamar  kos.

Keesokan harinya aku menerima telepon dari nenek di kampung. Nenek menyuruhku pulang kampung,  karena ada acara maulid. Dalam perjalanan aku sibuk menghirup rokok. Kali ini aku hanya berangkat sendirian. Tiba di kampung, nenek menyuguhi banyak sekali makanan. Setelah menyiapkan makanan untukku, nenek pergi ke meunasah untuk melihat diekee.

“Assalamualaikoom.” Terdengar suara wanita dari luar. “Waalaikomsalam,” sahutku. Spontan aku terkejut. Darahku berdesir melihat wanita di hadapanku. Ia adalah wanita kemarin yang   sedang menunggu bus di halte, gadis beralis tebal dan bercadar. Aku ingat sekali bentuk alis yang menawan itu. Ia mengantarkan rantang berisi lauk, bu kulah,  dan buluekat untuk nenek. Entah karena malu ia langsung pergi sembari mengucap salam. Kejadian itu membuatku malas kembali ke Banda Aceh. Aku ingin tahu lebih lanjut tentang wanita bercadar itu. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Hingga aku mendapatkan informasi, ternyata namanya dek Rauzah, anak pak geuchik Gampong Blang Sigli yang sedang menempuh pendidikan di sebuah kampus di Banda Aceh.

Dara boh lam oen itu berhasil membuatku gelisah dan susah memejamkan mata. Tak pernah sebelumnya aku begitu terpikat dengan wanita. Semakin banyak kain yang membalut tubuhnya, semakin membuatku  panasaran.  Aku ingin segera memilikinya. Kudesak Ayah dan ibu supaya melamarnya untukku. Ayah menurut saja.  Dua minggu kemudian ayah datang membawa serombongan orang penting di kampung untuk meminta setangkai bunga yang kudambakan. Awalnya, keluarganya setuju. Namun, setelah melihat gaya khas brandalanku,  mereka langsung menolak. Hatiku menjerit histeris. Aku pulang membawa kecewa.

Tak lama setelah kejadian itu, Tuhan memberikan hidayah kepadaku. Aku meninggalkan kebiasaan buruk yang biasa kulakukan seperti keluar pada  malam hari, berjudi, pasang togel dan minum minuman keras. Aku pun mulai melaksanakan shalat. Namun, aku masih belum mampu khusyuk dalam shalatku. Setiap ayat yang kubaca,  selalu terbayang alisnya. Aku bahkan kini yakin wanita dibalik cadar itu sangat cantik dan aku pasti bahagia bersamanya. Kehidupanku berubah. Aku meninggalkan teman-temanku yang biasanya selalu bersamaku melakukan perbuatan bejat.

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas