APBA Hambat Layanan Medis
Keterlambatan penyelesaian APBA 2013 di tingkat eksekutif dan legislatif telah menimbulkan dampak negatif terhadap publik
* Akibat Terlambat Bisa Dicairkan
BANDA ACEH - Keterlambatan penyelesaian APBA 2013 di tingkat eksekutif dan legislatif telah menimbulkan dampak negatif terhadap publik. Pelayanan berobat pada sejumlah rumah sakit di kabupaten/kota dan provinsi, misalnya, mulai terhambat saat memasuki minggu terakhir Februari 2013 ini, karena ketiadaan dana penunjang.
Di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, sebagai contoh, rencana operasi tulang dan persendian terhadap 40 pasien terpaksa ditunda, karena stok bahan yang hendak digunakan habis.
Untuk pengadaan bahan baru, harus tunggu pelaksanaan lelang APBA 2013. Selain itu, 350 perawat kontrak di rumah sakit rujukan provinsi itu sudah dua bulan belum dibayar gajinya, karena ketiadaan uang.
Persoalan yang hampir sama terjadi di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aceh. Berbagai bahan habis pakai (BHP) medis untuk operasi anak maupun ibu yang hendak melahirkan dan penanganan berbagai penyakit anak dan ibu hamil, stoknya menipis.
Rekanan yang ditunjuk menalangi sementara pengadaan BHP medis itu menyatakan kewalahan, karena persediaan uangnya sudah menipis. Diperkirakan, jika pencairan dana APBA 2013 untuk pengadaan barang medis habis pakai itu sampai akhir Maret nanti belum bisa direalisasi, maka suplai obat ke rumah sakit bisa terhenti.
Direktur RSUZA Banda Aceh, dr Syahrul SpS yang dimintai tanggapannya mengenai ketersediaan BHP medis dalam kaitannya dengan keterlambatan penyelesaian APBA 2013, mengakui bahwa keterlambatan anggaran itu telah berdampak terhadap pelayanan RSUZA kepada pasiennya.
Misal, pelayanan untuk pasien patah tulang yang ingin operasi pergantian sendi, terpaksa ditunda operasinya, karena bahan sendi yang akan digunakan untuk mengganti sendi yang rusak, sudah habis pada Desember 2012.
Harga bahan sendi itu lumayan mahal, Rp 30-Rp 60 juta/unit. Jadi, jika sumber dana untuk pembayaran pengadaannya dari APBA 2013 belum jelas kapan bisa dibayar, maka rekanannya tak berani memasukkan barang-barang tersebut ke RSUZA.
Di sisi lain, pihak manajemen RSUZA juga belum berani melakukan kontrak pengadaan, karena proyek pengadaan berbagai jenis bahan persendian tulang dan BHP lainnya yang bersumber dari APBA 2013 itu, belum dilelang hingga kemarin.
Kekhawatiran pihak manajemen RSUZA, ungkap Syahrul, tidak hanya terhadap bahan medis habis pakai. Tapi juga untuk kebutuhan penunjang aktivitas rutin RSUZA, seperti gas, oksigen, bayar tagihan air, listrik, telepon, obat-obatan infus, cleaning service, makanan
dan minuman pasien. Sedangkan kontrak pengadaan bahan-bahan itu dengan rekanan lama telah berakhir per 31 Desember 2012. Sementara pasien yang dirawat inap butuh makan dan obat.
Untuk mengatasi hal itu, pihak menajemen terpaksa meminta rekanan lama menalangi dulu persediaan bahan makan minum pasien, sampai ada penetapan rekanan baru pada April 2013 untuk mengadakan bahan makanan, minuman, dan BHP medis yang baru.
Rekanan pemenang pengadaan makanan dan BHP medis yang baru nantinya, diwajibkan membayar pengeluaran rekanan yang telah menalangi pengadaan bahan yang diperlukan sampai masuknya pengadaan BHP medis dan bahan makanan minuman yang baru.
Syahrul mengakui, RSUZA memang punya uang dari jasa pelayanan program Jamkesmas dan JKA. Tapi, untuk dana JKA, pengamprahannya dilakukan setelah si pasien dilayani lebih dulu.
Berbeda dengan Jamkesmas. Depkes mengirim uang dulu, baru nanti dilakukan perhitungan atas pembiayaan yang telah dikeluarkan atas pelayanan pasien Jamkesmas.