Selasa, 9 Juni 2026

Tafakur

Menolak Jabatan

Sekarang ini, banyak orang yang sudah berpendidikan tinggi, memilih mencari jabatan dan meninggalkan tugasnya sebagai pengajar

Tayang:
Editor: hasyim

Oleh: Jarjani Usman

“Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan di jalan kebaikan dan orang yang Allah karuniai ilmu, ia menunaikan dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekarang ini, banyak orang yang sudah berpendidikan tinggi, memilih mencari jabatan dan meninggalkan tugasnya sebagai pengajar.  Alasannya agar bisa “mewarnai” atau memperbaiki kekuasaan.  Namun sayangnya, tidak sedikit di antaranya malah “diwarnai” atau terpengaruh oleh godaan untuk menyeleweng agar bisa memperkaya diri.  

Mungkin karena kuatir tercebur dalam jurang kemungkaran seperti ini, sebahagian orang di masa lampau lebih memilih tetap mengajar dan menolak tawaran jabatan.  Seperti yang terjadi pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid, yang saat itu hidup seorang yang sangat hati-hati dan sederhana.  Orang yang hafal Alquran, ahli ibadah, dan ahli hadits itu bernama Abdullah bin Idris. Suatu hari, ia ditawarkan jabatan hakim oleh Khalifah.  Namun, ia memilih tidak menerimanya.

Bukan hanya jabatan, ditawari juga uang untuk ongkosnya pulang, tetapi tetap tak mau diterimanya.  Namun, ketika diminta untuk mengajar hadits untuk anak Khalifah, serta merta ia menyambutnya.  Kiranya orang seperti ini patut kita iri, yang tak berharap jabatan meskipun dikasih tanpa syarat.  Berbeda dengan budaya zaman sekarang, di mana kebanyakan jabatan (yang ‘basah’) telah dipesan jauh-jauh hari dengan sogokan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved