Selasa, 9 Juni 2026

Pencuri Bunuh Sapi dengan Racun Babi

Pemilik sapi dan kerbau di Kota Banda Aceh dan kawasan Aceh Besar diingatkan lebih mengawasi hewan piaran mereka karena

Tayang:
Editor: bakri

* Bangkainya Disembelih untuk Dijual

BANDA ACEH - Pemilik sapi dan kerbau di Kota Banda Aceh dan kawasan Aceh Besar diingatkan lebih mengawasi hewan piaran mereka karena akhir-akhir ini polisi menemukan fakta adanya komplotan penjahat yang meracuni ternak sapi dengan racun babi kemudian menyembelih bangkainya untuk dipasarkan.

Modus baru pencurian ternak tersebut diungkapkan Kapolsek Darul Imarah, Iptu Machfud didampingi Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, dr Ir M Yunus MSc dalam konferensi pers di Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, Rabu (13/3).

Menurut Machfud, pencurian sapi dengan modus meracuni hewan dengan racun babi berhasil diungkap pihak kepolisian bekerjasama dengan pihak terkait lainnya. “Pelaku melumuri racun babi ke buah pisang kemudian melemparkan ke kawanan sapi yang berkeliaran bebas di jalan umum. Hanya dalam waktu 15 menit hewan tumbang. Bangkai hewan itu disembelih dan dagingnya dijual,” ungkap Kapolsek Darul Imarah dibenarkan M Yunus.

Kejahatan dengan modus baru itu, menurut Kapolsek Darul Imarah terungkap menjelang subuh, sekitar pukul 04.00 WIB, Minggu 10 Februari 2013 di kawasan Lampeuneurut, Aceh Besar. Laporan adanya kejahatan dengan modus baru itu diterima polisi dari masyarakat yang menaruh curiga pada sekelompok orang. “Pada operasi menjelang subuh itu, kami berhasil menyita barang bukti berupa satu unit mobil Avanza beserta dua bangkai sapi yang gagal dipasarkan. Sedangkan pelaku yang diperkirakan berjumlah tujuh orang berhasil kabur,” kata Iptu Machfud.

Ketujuh pelaku yang disebut-sebut asal Pidie itu menggunakan dua unit mobil rental dan sekarang masuk daftar pencarian orang (DPO). Pelaku biasanya beraksi pada jam-jam sepi seperti malam dan ketika waktu shalat Jumat. Kawasan yang termasuk rawan aksi kejahatan dengan modus baru itu antara lain kawasan Lhoknga dan Jantho.

Daging dari bangkai sapi yang dibunuh dengan racun babi tersebut, menurut Kadis Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, M Yunus diduga sempat beredar di pasar daging Banda Aceh dan Aceh Besar. Karena, kata Yunus diduga kejahatan itu sudah berlangsung lama.

“Mestinya daging yang masuk ke pasar daging harus melalui rumah potong hewan. Penjual harusnya tidak menerima daging sembarangan untuk menjualnya ke konsumen,” kata Yunus.

Menurut ketentuan, kata Yunus, ternak yang masuk ke rumah potong hewan harus dikarantina selama sehari sebelum disembelih. Ternak yang akan disembelih juga harus dilengkapi surat keterangan dari kepala desa. Ini dimaksudkan untuk mendeteksi kesehatan ternak sekaligus memberi kesempatan kepada peternak yang merasa kehilangan ternaknya.

“Saya mengimbau penjual daging agar lebih selektif dan kepada konsumen diharap membeli di tempat penjual daging yang sudah dikenal dan terpercaya. Wujud daging sapi yang mati akibat diracun tidak berbeda dengan daging yang disembelih secara normal,” kata Yunus.

Yunus juga mengimbau pemilik ternak agar tidak membiarkan ternak berkeliaran bebas. Ternak yang tidak berkandang biasanya akan mencari tempat yang hangat seperti jalan aspal pada malam hari. “Ini membuka kesempatan bagi pencuri untuk beraksi,” demikian Yunus.(n)

Perhatikan Warna, Bau, dan Konsistensi
MEREBAKNYA informasi tentang kejahatan pembunuhan ternak sapi dengan racun babi, kemudian daging dari bangkai hewan tersebut dipasarkan, memunculkan kecemasan masyarakat. Secara kasatmata, sulit membedakan daging sapi yang disembelih secara normal dengan daging sapi yang mati diracun.

Ahli Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiahkuala (Unsyiah), Dr drh Nurliana MSi kepada Serambi, Rabu (13/3) malam menjelaskan, ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat memilih daging, yaitu warna, bau, dan konsistensi.

Daging yang berasal dari sapi yang disembelih bewarna merah cerah, terang, dan tidak pucat. Berbeda dengan daging dari sapi yang mati diracun yang cenderung akan bewarna merah darah. “Warna merah darah itu memang berasal dari darah. Karena tidak disembelih, maka daging sapi masih mengandung darah,” ujar dosen yang akrab disapa Nuna ini.

Dari sisi konsistensi, daging yang baik ketika diusap akan terasa kering. Berbeda dengan daging yang mati diracun, yang akan terasa basah, dan pada ujung jari biasanya terlihat ada darah yang menempel. “Bau daging sapi yang disembelih secara normal tidak amis, berbeda dengan daging dari sapi yang mati diracun, karena banyak darah maka daging berbau amis,” jelasnya.

Di samping itu, daging dari sapi yang diracun, menurut Nuna, kecil kemungkinan bisa berdampak kepada konsumen, sebab racun tidak langsung masuk ke daging, tetapi lebih dulu menyerang organ-organ dalam tubuh sapi.

“Racun akan tertinggal di jeroan (usus), masuk pembuluh darah, kemudian ke jantung, hati, ginjal, dan otak. Jika konsumen ragu, organ-organ ini yang harus dihindari untuk dikonsumsi,” demikian Nurliana.(yos)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved