Selasa, 9 Juni 2026

Tafakur

Penguasa

Menjadi pemimpin seringkali menggiurkan, bila kepemimpinan sudah lebih diwujudkan dalam bentuk kekuasaan

Tayang:
Editor: hasyim

Oleh: Jarjani Usman

“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka menjadi pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. at Taubah: 23).

Menjadi pemimpin seringkali menggiurkan, bila kepemimpinan sudah lebih diwujudkan dalam bentuk kekuasaan. Penting dibedakan demikian di zaman sekarang, karena tidak semua orang yang berkesempatan berkuasa benar-benar memimpin rakyatnya ke arah yang lebih baik, meskipun menguasai banyak kekayaan negara. Karena berharap akan menguasai banyak hal, banyak orang berambisi meraihnya.

Sedang orang yang berhati pemimpin, akan mengedepankan rasa takut dan malu terutama di kala memimpin. Yaitu, rasa takut kepada Allah, bila tidak menjalankan amanah atau berkhianat dalam memimpin. Juga malu kepada manusia bila tidak mampu dalam memimpin rakyatnya ke arah yang lebih baik. Lebih-lebih bila kemampuan itu telah digembar-gembirkan sebelumnya.

Sedangkan penguasa yang tidak berhati pemimpin biasanya hanya merasa takut dan malu bila tidak menjadi kaya raya tatkala berkesempatan berkuasa. Dan tidak merasa malu, bila rakyat terabaikan tak sejahtera. Juga seringkali merasa tak bersalah, meskipun sengaja menyalahi aturan Allah.

Karena itu, perlu selektif dalam memilih pemimpin. Berlapang dadalah untuk tidak memilih anggota keluarga atau orang dekat, bila dia terlalu bernafsu untuk berkuasa, tidak punya kemampuan atau pelaku kemungkaran. Bila tidak, pemilihnya juga termasuk orang zalim.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved