Jumat, 27 Maret 2015

HAM Barat Sudutkan Islam

Minggu, 17 Maret 2013 11:04

HAM Barat Sudutkan Islam
SERAMBI/ZAKI MUBARAK
Ketua DPR RI, Marzuki Alie, Gubernur Aceh dr Zainil Abdullah, dan mantan Pj Gubernur Aceh Tarmizi A Karim (kanan) melihat gedung Islamic Center Lhokseumawe usai membuka seminar Islam Internasional Samudera Pasee, Sabtu (16/6).

“Sekulerisme yang diagungkan barat tidak mungkin berlaku secara universal, sebab ada nilai agama dan budaya yang membatasinya. Islam juga sangat mengagungkan hak asasi manusia (HAM), tetapi HAM dalam pandangan Islam tidak sama dengan HAM ala barat. Argumen HAM barat kerap menyudutkan Islam,” kata Zaini Abdullah dalam pidatonya ketika membuka

Seminar Islam Internasional Samudra Pase di Hall Masjid Agung Islamic Center, Lhokseumawe, Sabtu (16/3). Gubernur Aceh yang akrab disapa Doto Zaini mengatakan, Islam merupakan akar budaya bagi kehidupan masyarakat Aceh, karena prinsip kehidupan dan kearifan lokal masyarakat Aceh dari konsep Islam. Ironisnya, masih ada sebagian anak muda Aceh yang lebih mencintai kehidupan dan kebebasan ala barat. Malah ada yang ikut-ikutan berpendapat bahwa syariat Islam tidak perlu diatur negara, dan menganggap cara berpikir barat adalah sumber kebenaranya.

Disebutkan Doto, hingga saat ini upaya untuk melemahkan syariat Islam masih saja muncul dari orang yang yang memiliki pemikiran sekuler. Bahkan masih ada pihak yang merasa pemerintah tidak perlu campur tangan dalam penegakan syariat Islam.

“Mudah-mudahan dengan seminar ini bisa menjawab persepsi miring tersebut. Saya berharap rekomendasi yang dihasilkan seminar ini nantinya dapat memperkuat penegakan syariat Islam di Aceh,” tandas Zaini.

Penganut paham sekuler, lanjut Zaini mengaggap urusan agama adalah urusan pribadi, karenanya negara tidak boleh ikut campur. Kelompok tersebut lebih mengagung-agungkan hak asasi manusia dan kebebasan bereskpresi tanpa mempertimbangkan kearifan lokal.

Untuk meluruskan berbagai paham yang menyudutkan Islam (termasuk dalam urusan HAM), menurut Zaini perlu penjelasan dengan argumen ilmiah berbasis sejarah Islam dan kearifan lokal. “Seminar ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang bisa disosialisasikan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat kita semakin cerdas memahami konsep hukum Islam dan mudah mementahkan argumen HAM barat yang kerap menyudutkan Islam,” demikian Zaini Abdullah.

Seminar Islam Internasional Samudra Pase yang berlangsung di Lhokseumawe hingga hari ini, Minggu (17/3) bertema; “Islam, Government and Society: Elaborating Concept and Methods in Implementing Islamic Law and Local Wisdom in Aceh (Islam, Pemerintahan dan Masyarakat: Mengelaborasi Konsep dan Metode-Metode dalam Penerapan Syariat Islam dan Kearifan Lokal di Aceh).”

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas