A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

HAM Barat Sudutkan Islam - Serambi Indonesia
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 23 Agustus 2014
Serambi Indonesia

HAM Barat Sudutkan Islam

Minggu, 17 Maret 2013 11:04 WIB
HAM Barat Sudutkan Islam
SERAMBI/ZAKI MUBARAK
Ketua DPR RI, Marzuki Alie, Gubernur Aceh dr Zainil Abdullah, dan mantan Pj Gubernur Aceh Tarmizi A Karim (kanan) melihat gedung Islamic Center Lhokseumawe usai membuka seminar Islam Internasional Samudera Pasee, Sabtu (16/6).
* Pernyataan Gubernur Aceh pada Seminar Islam Internasional Samudra Pase

LHOKSEUMAWE – Gubernur Aceh, Zaini Abdullah menyatakan masih ada upaya melemahkan syariat Islam dari orang-orang yang memiliki pemikiran sekuler dan menganggap pemerintah tak perlu campur tangan dalam urusan agama.

“Sekulerisme yang diagungkan barat tidak mungkin berlaku secara universal, sebab ada nilai agama dan budaya yang membatasinya. Islam juga sangat mengagungkan hak asasi manusia (HAM), tetapi HAM dalam pandangan Islam tidak sama dengan HAM ala barat. Argumen HAM barat kerap menyudutkan Islam,” kata Zaini Abdullah dalam pidatonya ketika membuka

Seminar Islam Internasional Samudra Pase di Hall Masjid Agung Islamic Center, Lhokseumawe, Sabtu (16/3). Gubernur Aceh yang akrab disapa Doto Zaini mengatakan, Islam merupakan akar budaya bagi kehidupan masyarakat Aceh, karena prinsip kehidupan dan kearifan lokal masyarakat Aceh dari konsep Islam. Ironisnya, masih ada sebagian anak muda Aceh yang lebih mencintai kehidupan dan kebebasan ala barat. Malah ada yang ikut-ikutan berpendapat bahwa syariat Islam tidak perlu diatur negara, dan menganggap cara berpikir barat adalah sumber kebenaranya.

Disebutkan Doto, hingga saat ini upaya untuk melemahkan syariat Islam masih saja muncul dari orang yang yang memiliki pemikiran sekuler. Bahkan masih ada pihak yang merasa pemerintah tidak perlu campur tangan dalam penegakan syariat Islam.

“Mudah-mudahan dengan seminar ini bisa menjawab persepsi miring tersebut. Saya berharap rekomendasi yang dihasilkan seminar ini nantinya dapat memperkuat penegakan syariat Islam di Aceh,” tandas Zaini.

Penganut paham sekuler, lanjut Zaini mengaggap urusan agama adalah urusan pribadi, karenanya negara tidak boleh ikut campur. Kelompok tersebut lebih mengagung-agungkan hak asasi manusia dan kebebasan bereskpresi tanpa mempertimbangkan kearifan lokal.

Untuk meluruskan berbagai paham yang menyudutkan Islam (termasuk dalam urusan HAM), menurut Zaini perlu penjelasan dengan argumen ilmiah berbasis sejarah Islam dan kearifan lokal. “Seminar ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang bisa disosialisasikan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat kita semakin cerdas memahami konsep hukum Islam dan mudah mementahkan argumen HAM barat yang kerap menyudutkan Islam,” demikian Zaini Abdullah.

Seminar Islam Internasional Samudra Pase yang berlangsung di Lhokseumawe hingga hari ini, Minggu (17/3) bertema; “Islam, Government and Society: Elaborating Concept and Methods in Implementing Islamic Law and Local Wisdom in Aceh (Islam, Pemerintahan dan Masyarakat: Mengelaborasi Konsep dan Metode-Metode dalam Penerapan Syariat Islam dan Kearifan Lokal di Aceh).”

Seminar tersebut menghadirkan para pemakalah dari kalangan ulama dan pakar Islam, baik lokal, nasional maupun internasional, seperti Syeikh Muhammad Abdul Hayi ‘Uwainah (Mesir), Prof Dr Rohimi Shapiee (National University of Malaysia), Dr Marzuki Alie (Ketua DPR RI), Ir H Azwar Abubakar MSc (Menteri PAN dan RB), Ir H Tarmizi A Karim MSc (Kemendagri), Prof Dr Tgk H Muslim Ibrahim MA (Ketua MPU Aceh), Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA (Rektor IAIN Ar- Raniry), Buya Yahya Cirebon (Pimpinan Islamic School Al-Bahjah, Jawa Barat), Abuya Drs Tgk H Jamaluddin Waly (Rais Am Dayah Darussalam Labuhan Haji), Dr Abdullah Sani MA (IAIN Ar-Raniry), Tgk Zulkhairi MA (IAIN Ar-Raniry), dan Syech Muhajir SAg L.LM (STAI Zawiyah Cot Kala).

Setelah prosesi pembukaan, dilanjutkan dengan agenda seminar, di mana pada sesi pertama kemarin tampil Prof Dr Tgk H Muslim Ibrahim MA dengan makalah berjudul Implementasi Syariat Islam dan Kearifan Lokal Aceh dengan pembanding Tgk Zulkhairi MA (Dosen IAIN-Ar-Raniry Banda Aceh).

Pada sesi kedua, tampil Buya Yahya Cirebon dan Abuya Tgk H Syech Jamaluddin Waly dengan makalah berjudul; Meluruskan Isu-Isu Provokatif Terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Skala Lokal dan Global.

Seminar Islam Internasional Samudra Pase dijadwalkan berakhir hari ini dan direncanakan ditutup oleh Wagub Aceh, Muzakir Manaf. Menjelang penutupan juga akan dibacakan rekomendasi hasil seminar.(c37/ib/nas)

Syariat tak Perlu Takut Langgar HAM

“SEMINAR Islam Internasional Samudra Pase diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Tentunya, pelaksanaan hukum syariat Islam di Aceh tak perlu memikirkan (takut) melanggar HAM, karena telah ada hukum dan qanun yang memuat aturan pelaksanaan hukum syariat.”

Pernyataan itu dikemukakan Ketua DPR RI, Marzuki Alie menjawab Serambi seusai prosesi pembukaan Seminar Islam Internasional Samudra Pase di Hall Masjid Agung Islamic Center, Lhokseumawe, Sabtu (16/3). “HAM ala barat tak perlu diadopsi, kita pedomani saja undang-undang yang telah disahkan daerah dan qanun syariat,” tegas Marzuki. “Orang barat yang mengagung-agungkan HAM ternyata tidak melaksanakan HAM dengan benar,” lanjut Marzuki Alie yang hadir sebagai salah seorang pembicara pada seminar bertaraf internasional tersebut.(ib/c37)

Listrik Tetap Padam di Acara Berkelas Dunia

SEMINAR Islam Internasional Samudra Pase di Hall Masjid Agung Islamic Center, Lhokseumawe, Sabtu kemarin sempat menorehkan kesan tidak profesional sehubungan terjadinya kasus mati listrik saat Buya Yahya Cirebon dan Abuya Tgk H Syech Jamaluddin Waly sedang menyampaikan makalah mereka sekitar pukul 18.15 WIB.

Saat kedua ulama tersebut sedang serius memaparkan makalah berjudul; Meluruskan Isu-Isu Provokatif terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Skala Lokal dan Global, tiba-tiba listrik padam. Ruangan bawah tanah Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe berubah gelap gulita dan panas. Lampu ponsel menyala di berbagai sudut. Terlihat semua yang hadir di ruangan itu mengipas-ngipas diri dengan kertas atau apa saja yang bisa sedikit mengusir panas.

Setelah sekitar 15 menit seolah-olah berada di dunia lain, tiba-tiba listrik menyala lagi. Suasana kembali terang benderang disusul berfungsinya kembali pendingin ruangan. Buya Yahya Cirebon didampingi Tgk H Syech Jamaluddin Waly segera melanjutkan materi makalah mereka, termasuk menjawab berbagai pertanyaan peserta. Semua terlihat sangat antusias hingga sesi kedua ulama tersebut berakhir menjelang Magrib.(ib)
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
166494 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas