Selasa, 9 Juni 2026

Baitul Mal Santuni Orang Tua Diana

Kedua orang tua almarhumah Diana kini didera sakit. Ayahnya, Mawardi (39), buta karena glukoma sejak sepuluh tahun lalu

Tayang:
Editor: hasyim
zoom-inlihat foto Baitul Mal Santuni   Orang Tua Diana
SERAMBI/MISRAN ASRI
Kabid Perwalian Baitul Mal Aceh, Drs Hamdani M Ali (kiri) disaksikan Keuchik Gampong Peulanggahan, Husaini (paling kanan) serta tokoh gampong lainnya, Kamis (29/3) menyerahkan bantuan uang sebesar Rp 5 juta kepada Mawardi (39) orang tua almarhumah Diana, yang mengalami kebutaan akibat glaukoma sejak 10 tahun lalu.

* Untuk Seumur Hidup

BANDA ACEH -  Baitul Mal Aceh akan menyantuni seumur hidup kedua orang tua almarhumah Diana (6), bocah malang warga Peulanggahan, Banda Aceh, yang Selasa (26/3) malam diperkosa dan dibunuh pamannya, Hasbi, dibantu seorang residivis kasus serupa, Amiruddin (28).

Kedua orang tua almarhumah Diana kini didera sakit. Ayahnya,  Mawardi (39), buta karena glukoma sejak sepuluh tahun lalu, sedangkan ibunya, Agus Mawar (31), sakit berat di perutnya, sehingga menggembung sejak beberapa tahun terakhir. Duka mereka kian bertambah, karena anak semata wayangnya diperkosa dan dibunuh sang paman.

“Ini kepedulian Baitul Mal Aceh yang berkewajiban menyalurkan santunan seumur hidup kepada kedua orang tua Diana, bocah malang yang ditakdirkan di usia mudanya menghadap Allah,” kata Kepala Baitul Mal Aceh, Dr Armiadi Musa MA, kepada Serambi saat memberikan bantuan uang Rp 5 juta kepada orang tua almarhumah Diana di rumah duka, Jumat (29/3).

Dalam satu bulan, Baitul Mal Aceh akan menyantuni kedua orang tua Diana sebesar Rp 200 ribu.

Menurutnya, santunan seumur hidup kepada kedua orang tua bocah malang itu merupakan bagian dari Program Fakir Uzur Baitul Mal Aceh. Program ini memang diprioritaskan bagi fakir uzur. “Mawardi buta dan istrinya sakit keras. Mereka tak bisa bekerja lagi, sehingga pantas disantuni,” pungkas Armiadi.

Hadir saat penyerahan santunan dari Baitul Mal Aceh itu, Drs Hamdani M Ali (Kabid Perwalian), Syamsuddin SH (Kabag Hukum dan Hubungan Umat), Jusma Ery (Kasubdit Hukum dan Investigasi), serta Murdani Tijue (Kasubdit Pendistribusian).

Penyerahan itu disaksikan Keuchik Gampong Peulanggahan, Husaini. “Sebelumnya berbagai bantuan juga datang dari anggota DPRK Banda Aceh, Pak Amrulsyah, Usman Abon, dan Tgk Januar Hasan. Selain itu juga ada dari Pak Abu Bakar Pante Pirak, dari BP3A, dan Yayasan Kasih Mama,” rinci Husaini.

Dukung hukuman mati
Keuchik Peulanggahan itu juga menyebutkan berbagai dukungan agar kedua pelaku pemerkosaan dan pembunuhan bocah Diana, yakni Hasbi (sang paman) dan residivis kasus serupa Amiruddin (28) agar dihukum mati. “Berbagai dukungan sms masuk ke hp saya agar kedua pelaku dihukum mati. Kami seluruh warga Gampong Peulanggahan juga akan mengawal proses persidangan di pengadilan dari awal hingga akhir untuk tegaknya keadilan di negeri ini,” sebut Husaini.

 Hukum berat
Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H Faisal Ali berharap hakim menjatuhkan sanksi seberat-beratnya kepada pemerkosa dan pembunuh Diana, bocah kelas 1 SDN 17 Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh itu.

Pelaku harus dihukum berat untuk memberi efek jera agar kasus serupa tidak terulang pada orang lain. “Semestinya pelaku itu dicambuk sampai mati kemudian digantung di persimpangan jalan. Tetapi, karena hukum ini belum ada pengaturannya, maka gunakan saja hukum yang sudah ada untuk menimbulkan efek jera,” kata Faisal Ali menjawab Serambi dalam pengajian yang digelar KWPSI di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (27/3).

Faisal Ali yang akrab dipanggil Lem Faisal pada malam itu memaparkan tentang berbagai hal terkait penguatan akidah serta peran ulama dalam menegakkan kebajikan.

Saat ditanya tentang pembunuhan terhadap anak-anak kemudian bermuara pada pemerkosaan, Lem Faisal menilai ini terjadi karena pengawasan dari pemerintah masih lemah. Ia berpendapat, punca persoalan sehingga muncul sadisme disebabkan oleh apa yang dilihat di dunia maya melalui internet. Semestinya, pemerintah proaktif menertibkan warnet serta tempat-tempat yang menyediakan akses internet. “Kalau Padang bisa, kenapa Aceh tidak?” gugatnya.

Seperti diberitakan, Diana (6), bocah yang masih duduk di bangku kelas 1 SDN 17 Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, diperkosa dan dibunuh Hasbi (17) yang tak lain adalah pamannya sendiri. Jenazah korban ditemukan Rabu (27/3) pagi di semak-semak dekat tanggul kawasan Peulanggahan.

Petaka berujung maut yang menimpa Diana berawal Selasa (19/3) malam saat korban diajak pamannya, Hasbi jalan-jalan ke Taman Sari, Banda Aceh. Bersama mereka juga ikut Amirudin (28), asal Lhokseumawe, teman Hasbi. pria ini ikut memerkosa korban. Amiruddin sendiri merupakan residivis kasus serupa di Lhokseumawe tahun 2004 lalu. (mir/swa)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved