• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Serambi Indonesia

Perlindungan Anak Harus Lebih Serius

Sabtu, 30 Maret 2013 13:36 WIB
Diana (6) bocah yang masih duduk di bangku kelas 1 SDN 17 Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, harus menghadap Sang Khalik secara tragis. Gadis kecil tersebut diperkosa dan dibunuh oleh dua pemuda, seorang di antarnya adalah paman korban. Jenazah korban ditemukan di semak-semak dekat tanggul kawasan Peulanggahan.

Berita itu tentu saja memilukan banyak orang tua, khususnya yang masih memiliki anak kecil. Lebih memprihatinkan lagi, belakangan ini terlalu banyak anak kecil yang menjadi korban kekerasan, terutama yang dilakukan orang dewasa, termasuk orangtuanya sendiri. Tindak kekerasan tersebut sebagian besar merupakan kasus pelecehan seksual.

Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada tahun 2012 ada 3.871 kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan oleh masyarakat. Sedangkan kekerasan yang dihimpun KPAI melalui media sebanyak 2.471 kasus.

Dengan fakta demikian, maka harus ada tindakan tegas untuk menghukum pelaku tindak kekerasan terhadap anak terutama pelecehan seksual dengan hukuman maksimal. Hal itu dimaksudkan untuk menimbulkan efek jera sekaligus menekan angka kekerasan terhadap anak. Siapapun yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak, apalagi sampai mebunuhnya, maka harus dihukum berat.

Yang harus mendapat perhatian khusus para orangtua antara lain, bahwa berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku kekerasan terhadap anak justru dilakukan orang-orang yang dekat dengan korban.

Ketua Komisi Nasional (Komnas) PA Arist Merdeka Sirait menyebutkan, 2013 adalah tahun darurat kekerasan seksual terhadap anak, masyarakat harus menuntut agar negara meningkatkan hukuman bagi orang dewasa yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak.

Komisioner Komnas Perempuan, Herawati juga merasa prihatin, karena belakangan ini kasus-kasus pedofil diwarnai inses (hubungan sedarah). Hal ini membuat anak-anak yang menjadi korban semakin kehilangan keberanian menyampaikan apa yang ia alami.

Kekerasan seksual pada anak, terutama yang terjadi di lingkungan keluarga atau asrama, umumnya berlangsung tanpa saksi mata. Kesulitan lain membawa kasus-kasus kejahatan seksual pada anak ke meja hijau menurut Herawati, adalah lemahnya sistem perundangan. Keterangan korban di bawah umur tidak diakui dalam sistem perundangan kita.

Mendesak perbaikan undang-undang tentu langkah penting. Tapi, lebih penting lagi, dalam jangka pendek ini para orang tua dan masyarakat lebih konsen memberi perlindungan terhadap anak. Mereka harus dicegah dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh siapapun, termasuk di rumah dan di sekolah.

Anak-anak perlu juga diajarkan tips-tips menghindari diri dari tindak kekerasan. Misalnya, anak jangan gampang menerima ajakan siapapun untuk bermain jauh dari rumah atau sekolah. Ini mungkin menjadi salah satu upaya sederhana mencegah anak dari sasaran kejahatan. Nah?
Editor: hasyim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas