A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Pergeseran Adat "Walimatul ‘Urusy" - Serambi Indonesia
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 23 Juli 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Pergeseran Adat "Walimatul ‘Urusy"

Rabu, 10 April 2013 08:40 WIB
Oleh Amiruddin

ACEH adalah daerah yang kaya akan etika, penuh sesak dengan budaya yang tidak terlepas dari nila-nilai Islam. Adat Aceh telah terkenal sejak indatu dahulu yang terpelihara sampai sekarang dalam setiap sendi kehidupan masyarakat, kegiatan keagamaan, serta walimatul ‘urusy (pesta perkawianan). Dalam hal pesta perkawinan, masyarakat Aceh biasa mengadakannya di rumah pribadi, selain sebagai rasa kebahagian bagi pengantin dan keluarga mempelai juga merupakan kebahagian terhadap masyarakat sekitar karena dapat membantu sesama.

Begitulah suasana masyarakat di perkampungan, itulah indahnya konsep yang diajarkan oleh Rasulullah saw yang selalu menjunjung tinggi sikap tolong menolong dalam berbuat kebaikan. Pernikahan yang diikuti dengan walimatul ‘urusy merupakan kegiatan yang tidak bisa dilakukan secara peorangan, melainkan harus dilakukan bersama-sama. Karena itu perlu keterlibatan pihak lain, terutama kerabat dan masyarakat sekitar untuk membantu keluarga mempelai demi suksesnya acara tersebut.

Sayangnya tradisi ini hanya berlaku di kampung, sedangkan di kota-kota tradisi seperti ini sudah memudar. Seiring perkembangan modernisasi yang semakin merambah ke setiap kebutuhan manusia, sehingga membentuk watak masyarakat yang material, membutuhan akan segala produk budaya, adat ini pun mulai berubah pelan-pelan tapi pasti. Di kota-kota jika suatu keluarga mengadakan persepsi pernikahan, mareka lebih memilih mengadakan di tempat-tempat umum, seperti di gedung-gedung sosial, perkantoran bahkan di hotel yang mereka anggap lebih mewah dan terkesan.

Padahal, keistimewaan bagi seseorang itu harus tumbuh dari apa yang dimilikinya, merasa bersyukur memperoleh harta benda meskipun tidak semewah orang lain, dan merasa senang mengadakan walimatul ‘urusy walaupun di rumah yang serba sederhana. Jika jeli memperhatikan pergeseran adat yang satu ini, semua itu memerlukan biaya yang tidak sedikit, tetapi bagi orang kaya dan mampu berbuat demikian itu bukanlah masalah. Ada pergeseran adat yang seharusnya penting untuk dilestarikan bersama, tetapi malah itu yang diabaikan.

 Hilangnya kebersamaan

Jika walimatul ‘urusy diadakan di rumah para pengantin, maka banyak masyarakat terutama warga kampung sekitar yang datang untuk membantu, tokoh-tokoh masyarakat sudah memiliki fungsi tersendiri dalam acara tersebut. Sedangkan pemuda juga memiliki peran dalam kegiatan ini, meskipun pekerjaannya sedikit jika dikerjakan bersama-sama tetapi memiliki nilai dan keindahan tersendiri bagi masyarakat dan pihak yang mengadakan resepsi atau pesta pernikahan.

Tetapi jika resepsi tersebut diadakan di gedung-gedung sosial, perkantoran atau hotel, maka kebersamaan ini tidak akan dapat diperoleh lagi. Kalaupun mendapat undangan hanya sebatas memenuhi undangan tersebut serta menikmati hidangan yang telah disediakan, setelah selesai langsung meninggalkan acara. Hidangan yang disediakan bagi para tamu pun, termasuk seksi cuci piring sudah tersedia tenaga khusus yang dibayar dengan biaya relatif mahal. Di sinilah terjadinya pergesaran adat yang seharusnya bisa dilakukan oleh masyarakat setempat yang tidak mengharapkan balasan dari pihak mempelai.

Memang tidak ada satu larangan untuk melakukan hal demikian, apalagi orang yang melakukan itu mampu dari segalanya. Tetapi perlu diingat, konsep Islam melarang manusia berbuat sia-sia, bermegah-megahan dengan tujuan pamer sampai pada tingkat bersaing dengan masyarakat lainnya. Padahal tujuan walimatul ‘urusy itu sendiri untuk mendo’akan dan sebagai media untuk mengumumkan bahwa telah terjadi ikatan yang sah antara seorang wanita dengan laki-laki, agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari.

Untuk mengumumkan pernikahan cukup melakukan pesta pernikahan di kampung para pengantin, agar masyarakat yang bersangkutan mengetahuinya. Tetapi jika kegiatan tersebut diadakan di gedung-gedung mewah, perkantoran, maka masyarakat kampung yang seharusnya lebih penting untuk diperhatikan akan merasa minder menghadirinya, merasa tidak pantas karena status sosial yang serba kekurangan.

Rasulullah saw bersabda: “Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah, di mana orang yang butuh makan (si miskin) tidak diundang dan yang diundang malah orang yang tidak butuh (orang kaya).” (HR. Muslim). Nyata dalam kehidupan masyarakat perkotaan di zaman sekarang, yang menghadiri pesta hanya kalangan atas. Pejabat yang seharusnya tidak lebih diutamakan dari orang-orang miskin, anak-anak terlantar, pengemis yang secara adat mengharapkan bantuan, meskipun di kota didominasi dari kalangan menengah ke atas.  

 Jangan melewati batas
Keharusan mengadakan walimatul ‘urusy dengan makan-makan bukan bermakna dibenarkan menghambur-hamburkan harta, seperti menyewa gedung, menyiapkan hidangan dengan bermacam jenis, karena sifat menghamburkan harta hanyalah teman setan. Fakta yang selalu terjadi saat perayaan pesta pernikahan adalah terlalu memaksakan diri untuk tampil megah, sehingga lupa seperti yang dianjurkan dalam Islam.

Jika sudah melewati batas kewajaran, maka hal yang sudah pasti menyusul adalah sifat boros. Allah mengingatkan: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan dan setan sangat inkar pada Tuhannya.” (Al-Isra’:27). Masih banyak orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, pengemis yang memang sangat mengharapkan bantuan orang yang lebih, tetapi hal ini sering kali diabaikan.

Selain itu dengan acara yang super mewah itu akan terjadi cemburu sosial dalam masyarakat, oleh karena itu setiap hamba yang merasa dirinya lebih, memiliki harta yang banyak perlu menjaga perasaan sesama muslim, sehingga terbebas dari sifat tercela yang akan merusak hati.

Adat yang mulia ini perlu dijaga bersama agar tidak hilang ditelan pengaruh modernisasi. Jika adat sudah hilang, dikhawatirkan pewaris Tanah Rencong ini tidak memiliki lagi pegangan adat di masa mendatang, dan jika adat sudah mehilang, sungguh sulit didapatkan kembali sebagaimana bunyi satu hadih maja yang sangat masyur: “Matee aneuk meupat jeurat, matee adat han pat tamita” (meninggal anak ada makamnya, tetapi hilang adat sulit didapatkan kembali. Semoga!

* Amiruddin
, Alumnus Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, dan Santri Darul ‘Ulum Abu Lueng Ie. Email: amiruddinteungku@gmail.com
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas