Lalat Serbu Rumah Warga Ikue Lhueng
Rumah warga Gampong Ikue Lhueng, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) ‘dikepung’ lalat
* Pengolah Sampah belum Berfungsi
BLANGPIDIE - Rumah warga Gampong Ikue Lhueng, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) ‘dikepung’ lalat yang mengganggu aktivitas warga setempat. Gerombolan lalat berasal dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) di kawasan itu, sementara mesin pengolahan sampah hingga saat ini tidak berfungsi.
Beberapa warga Ikhue Lhueng kepada Serambi, Rabu (10/4) di lokasi menjelaskan, pemerintah telah membangun TPAS secara permanen seperti kolam yang dilapisi plastik dan sampah akan dikelola menjadi pupuk kompos. Tetapi menurut warga, hingga saat ini lokasi itu menjadi tumpukan sampah setiap hari tanpa ada aktivitas dari mesin pengolah sampah seperti direncanakan sebelumnya.
“Pemerintah, sebelumnya mengatakan sampah yang dibuang ke lokasi untuk didaur ulang menjadi pupuk kompos dan barang setengah jadi. Kenyataan, lokasi tersebut menjadi tempat tumpukan sampah semata yang diangkut saban hari. Sementara mesin pengolahan sampah yang sudah dipasang tidak berfungsi,” ungkap Bustaman, salah seorang warga setempat.
Tumpukan sampah tersebut menjadi sumber lalat besar yang saat ini menyebar ke Gampong Ikue Lhueng dan masuk rumah-rumah warga.
Wen Dami, warga lainnya mengatakan, kumpulan lalat hijau sejak beberapa bulan terakhir mengganggu aktivitas warga. Menurutnya, makanan di rumah terpaksa diawasi secara ketat. “Setiap rumah tangga harus menyediakan kertas lem lalat. Bila tidak, kerumunan lalat yang berterbangan dalam rumah sangat mengganggu,” uangkapnya.
Sejumlah warga Gampong Ikue Lhueng sudah mendatangi Kantor Badan Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (BLHKP) Abdya mempersoalkan lokasi TPAS yang hingg kini belum difungsikan. Meski telah ada upaya penyemprotan dari pihak BLHKP, namun menurut warga serbuan lalat semakin banyak. (nun)
tanggapan kepala blhkp abdya
Kepala BLHKP Abdya Yuswazir SP ketika diminta tanggapannya oleh Serambi, Kamis (11/4) menjelaskan, sampah yang dibuang ke lokasi TPAS Desa Ikue Lhueng, memang untuk diolah menjadi pupuk kompos dan bahan sentengah jadi dari sampah plastik. Pembangunan TPAS dan mesin pengolahan sampah bersumber dari APBA.
Yuswazir yang baru beberapa bulan menjabat Kepala BLHKP Abdya, itu mengatakan mesin pengolah sampah belum dapat dioperasikan, karena beton pengikat tapak beton mesin pada permukaan lantai belum sempurna. Sehingga bila mesin dihidupkan akan terjadi getaran, sehingga bila dipaksakan akan rusak. Menurutnya, ada mesin harus dibuat tapak beton pengikat yang baru. Kemudian pada mesin pencacah plastik belum tersedia bak pembersih sampah plastik yang sudah dicacah. “Saya tidak tahu, kenapa dibangun tidak sempurna sehingga tidak bisa dioperasikan,” ungkap Yuswazir ketika meninjau lokasi mesin pengolahan sampah tersebut.
Pun, bengitu, katanya, Pemkab Abdya sudah mengalokasikan anggaran untuk melengkapi beberapa bagian mesin yang belum lengkap. “Kita, berusaha keras, mesin tersebut segera dapat difungsikan untuk mengolah sampah di lokasi,” ungkap mantan Sekretaris Dinas Kesehatan Abdya, itu. (nun)