A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Persatuan dan Keadilandalam Peribahasa Aceh - Serambi Indonesia
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 26 Juli 2014
Serambi Indonesia

Persatuan dan Keadilandalam Peribahasa Aceh

Minggu, 14 April 2013 09:01 WIB
Oleh Syarifah Zurriyati, Peneliti Bahasa di Balai Bahasa Banda Aceh

Masyarakat Aceh adalah salah satu masyarakat di Nusantara yang mempunyai kekayaan peribahasa yang berlimpah. Peribahasa Aceh umumnya berisi nasihat, anjuran, ajakan, perintah, sindiran, atau larangan yang berkenaan dengan semua sendi-sendi kehidupan pribadi dan masyarakat. Di antaranya adalah mengenai persatuan dan keadilan. Dua hal ini saling berkaitan satu sama lainnya.

Masyarakat Aceh sangat menyadari pentingnya arti persatuan. Persatuan dan kebersamaan telah membantu mereka dalam berjuang  melawan penjajahan  Belanda. Persatuan dan kebersamaan juga mereka terapkan dalam bergotong- royong membangun wilayahnya. Peribahasa-peribahasa berikut ini menunjukkan kuatnya rasa persatuan  tersebut dan juga sanksi yang akan menimpa seseorang yang tidak mementingkan rasa kebersamaan. Dan yang lebih penting tentulah membumikan  kandungan nilai-nilai dalam peribahasa  ini.  
(1) meuculok mata meu-ie idong

‘Tercolok mata berair hidung’           
Peribahasa ini menunjukkan betapa kuatnya rasa  kebersamaan yang mereka miliki, sehingga mereka selalu merasa senasib sepenanggungan. Rasa solidaritas yang tinggi membuat mereka juga ikut merasakan sakit atau kesusahan yang dialami orang lain.
(2) geumulam saboh tamee duwa, temeurapat-rapat lagee aneuk suri

‘Pikulan satu dipikul berdua, rapat-rapat seperti biji suri’

Pikulan-pikulan yang berat tidak mungkin dipikul sendiri. Sama halnya dengan masalah-masalah atau kesulitan-kesulitan yang tidak mungkin diselesaikan sendiri. Ketika menghadapi hal-hal semacam ini dianjurkan untuk selalu menjaga kekompakan, sehingga mudah untuk menyelesaikan segala masalah walau yang berat sekalipun.
(3) menyoe tapateh haba peusuna, aneuk deungon ma jitem meupake

‘Kalau percaya akan kabar fitnah, anak dan ibu bisa bermusuhan’

Maksudnya adalah jika kita ingin hidup aman dan tentram, jangan sekali-kali percaya hasutan atau fitnahan dari pihak-pihak lain yang ingin merusak kedamaian hidup yang sedang kita jalani dan nikmati. Kalaulah kabar fitnah itu kita pedomani, bukanlah sesuatu hal yang mengherankan bila saudara sendiripun dapat menjadi musuh.

Selain persatuan, anjuran untuk bersikap adil juga banyak kita jumpai dalam peribahasa-peribahasa Aceh. Karena ketidakadilan akan menimbulkan perpecahan yang nantinya akan menyebabkan hilangnya rasa persatuan.
(1) banja ube jiplueng, bulueng ube jiteuka.

‘Baris sesuai dengan alurnya, bagian menurut hasilnya’

Segala sesuatu harus berlaku menurut keadilan dan kebenaran. Dalam menyelesaikan suatu perkara harus merujuk pada hukum yang berlaku. Keputusan yang diambil haruslah adil, tidak berat sebelah dan tidak pandang bulu. Bila situasi seperti ini dapat tercipta, akan timbul suatu rasa solidaritas yang tinggi antar sesama dan rasa cinta dan bangga sebagai warga negara.
(2) teupat peuraho kareuna keumudoe, makmu nangroe ade raja.

‘Lurus perahu karena kemudi, makmur negeri adil raja’

Supaya rakyat dapat hidup tentram dan sejahtera dibutuhkan pemimpin yang adil dan jujur dalam memerintah negerinya. Ketika pemimpin sudah berlaku tidak adil maka mustahil rakyat akan sejahtera. Ketika kesejahteraan menjadi sesuatu yang mahal maka perpecahan tidak dapat dihindarkan.

(3) kong titi sebab na meuneumat, kong adat meung ade raja

‘Jembatan kuat bila ada pegangan, adat kuat bila raja adil’

Kalau pemimpin adil, menjalankan pemerintahan sesuai dengan undang-undang yang berlaku, memberlakukan hukum yang sama kepada setiap orang, negeri yang aman dan tentram bukanlah suatu impian.
(4) sabe ta ek gle tatron paloh, sabe tamita sabe tapajoh

‘Ke gunung sama mendaki, ke lembah sama menurun, mencari sama-sama dan makan juga bersama-sama’.

Peribahasa ini mencerminkan kebersamaan yang menumbuhkan rasa keadilan yang tinggi sehingga susah senang dapat dinikmati bersama. Hal ini akan menyuburkan  rasa persatuan dan solidaritas di antara sesama untuk bahu-membahu membangun negeri dan menjauhkan dari sifat saling iri dan mencemburui.
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas