Sabtu, 1 Agustus 2015

Persatuan dan Keadilandalam Peribahasa Aceh

Minggu, 14 April 2013 09:01

Masyarakat Aceh adalah salah satu masyarakat di Nusantara yang mempunyai kekayaan peribahasa yang berlimpah. Peribahasa Aceh umumnya berisi nasihat, anjuran, ajakan, perintah, sindiran, atau larangan yang berkenaan dengan semua sendi-sendi kehidupan pribadi dan masyarakat. Di antaranya adalah mengenai persatuan dan keadilan. Dua hal ini saling berkaitan satu sama lainnya.

Masyarakat Aceh sangat menyadari pentingnya arti persatuan. Persatuan dan kebersamaan telah membantu mereka dalam berjuang  melawan penjajahan  Belanda. Persatuan dan kebersamaan juga mereka terapkan dalam bergotong- royong membangun wilayahnya. Peribahasa-peribahasa berikut ini menunjukkan kuatnya rasa persatuan  tersebut dan juga sanksi yang akan menimpa seseorang yang tidak mementingkan rasa kebersamaan. Dan yang lebih penting tentulah membumikan  kandungan nilai-nilai dalam peribahasa  ini.  
(1) meuculok mata meu-ie idong

‘Tercolok mata berair hidung’           
Peribahasa ini menunjukkan betapa kuatnya rasa  kebersamaan yang mereka miliki, sehingga mereka selalu merasa senasib sepenanggungan. Rasa solidaritas yang tinggi membuat mereka juga ikut merasakan sakit atau kesusahan yang dialami orang lain.
(2) geumulam saboh tamee duwa, temeurapat-rapat lagee aneuk suri

‘Pikulan satu dipikul berdua, rapat-rapat seperti biji suri’

Pikulan-pikulan yang berat tidak mungkin dipikul sendiri. Sama halnya dengan masalah-masalah atau kesulitan-kesulitan yang tidak mungkin diselesaikan sendiri. Ketika menghadapi hal-hal semacam ini dianjurkan untuk selalu menjaga kekompakan, sehingga mudah untuk menyelesaikan segala masalah walau yang berat sekalipun.
(3) menyoe tapateh haba peusuna, aneuk deungon ma jitem meupake

‘Kalau percaya akan kabar fitnah, anak dan ibu bisa bermusuhan’

Maksudnya adalah jika kita ingin hidup aman dan tentram, jangan sekali-kali percaya hasutan atau fitnahan dari pihak-pihak lain yang ingin merusak kedamaian hidup yang sedang kita jalani dan nikmati. Kalaulah kabar fitnah itu kita pedomani, bukanlah sesuatu hal yang mengherankan bila saudara sendiripun dapat menjadi musuh.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas