• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Serambi Indonesia

Peran Ulama Mengkhawatirkan

Senin, 15 April 2013 10:23 WIB
* Diperlukan Dialog Untuk Mempersatukan

BANDA ACEH - Guru Besar Intsitut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, Prof Dr M Hasbi Amiruddin MA, mengatakan, diperlukan satu musyawarah dan dialog dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dan organisasi islam untuk mempersatukan ulama di Aceh. Kondisi ini diserukan dengan melihat kenyataan bahwa saat ini ada kencerungan persatuan ulama di Aceh semakin mengkhwatirkan dengan lahirnya berbagai organisasi ulama.

“Ketika dialog terjadi, maka semua perbedaan (di kalangan organisasi ulama) akan bersatu,” katanya dalam Seminar Ketahanan Ulama dalam Menghadapi Dinamika Sosial Politik Aceh di Aula Pascasarja IAIN Ar-Raniry, Minggu (14/4).

Seminar diikuti civitas akademika kampus IAIN Ar-Raniry dan masyarakat umum ini juga menampilkan Kamaruzzaman Bustamam PhD, peneliti Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA).  

Menurut Hasbi perbedaan di antara kalangan ulama di Aceh sebetulnya tidak perlu menjadi satu hal krusial yang dipersoalkan. Namun demikian, hal ini perlu dicermati secara lebih aktual agar terciptanya kondisi Aceh lebih baik ke depan melalui peran yang dimainkan ulama Aceh.

“Tidak perlu ada membeda-bedakan ulama. Tapi kita harus tahu apa dan bagaimana sebenarnya kondisi ulama kita sekarang, agar Aceh semakin lebih baik,” jelasnya. Dia menegaskan masyarakat juga harus lebih waspada agar tidak terjebak pada stigma negatif kepada kelompok tertentu yang semakin dapat memperuncing perpecahan.

Menurut Hasbi saat ini Aceh memiliki Majelis Permusyawaratan Agama (MPU) Aceh sebagai lembaga resmi tempat berhimpunnya para ulama Aceh. Peran ulama jelas diatur dalam Qanun Aceh Nomor 2 tahun 2009 tentang MPU. Dijelaskan MPU adalah majelis yang anggotanya terdiri atas ulama dan cedikiawan muslim yang merupakan mitra kerja Pemerintah Aceh dan DPRA.

Dia sebutkan kedudukan ulama menurut Qanun di Aceh sama dengan kedudukan ulama di Iran dimana ulama menduduki posisi, baik sebagai pengawas, penafsir maupun pelaksana hukum Tuhan. “Persoalannya adalah sekarang apakah anggota-anggota MPU cukup memiliki ilmu untuk membahas persoalan-persoalan pemerintahan, termasuk sistem anggaran,” jelasnya.

Peneliti Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA) Kamaruzzaman Bustamam PhD mengatakan sejak 2009 sampai sekarang eksistensi ulama di Aceh menurun, bahkan cenderung diam. “Ulama sekarang cederung menahan diri meskipun saat ini banyak persoalan di tengah masyarakat. Selain itu, saat ini memang tidak ada sosok ulama di Aceh yang bisa diterima semua kalangan,” jelasnya.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan lagi bila melihat banyak organisasi ulama yang terbentuk dimana masing-masing organisasi tersebut memiliki kelompok pendukung sendiri. Mengutip hasil studi “Perpecahan Ulama dan Kekuatan Umat Islam di Aceh”  Bustamam menegaskan saat ini muncul asumsi bahwa ulama di Aceh telah terpecah ke dalam beberapa kelompok dan dengan demikian, umat Islam di Aceh juga telah terpecah kedalam beberapa kelompok. Selain itu, kata dia, saat ini juga muncul asumsi dimana ulama Aceh tidak lagi memiliki pengaruh di dalam kehidupan rakyat Aceh secara keseluruhan.

Akan tetapi, kata Bustaman, hasil studi menyebutkan ulama di Aceh masih memainkan peran domoinan, baik tesirat maupun tersurat. “Maksudnya mereka masih dirujuk oleh para penguasa dan masih diminta petunjuk oleh rakyat,” ungkapnya. Menurut Bustaman untuk mempersatukan para ulama di Aceh diperlukan satu dialog yang lebih intens antara kalangan ulama dari berbagai organisasi keulamaan.(sar)
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
178293 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas