• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 20 September 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Bendera dan Lambang tak Masuk UN, Anakku

Selasa, 16 April 2013 09:24 WIB
Oleh Muhammad Yakub Yahya

ANAKKU, muridku, dan siswaku, meskipun Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, tak sempat menyemangati siswa-siswinya, aneuk nanggroe, untuk tetap optimis dan santai jelang ujian --sebagaimana Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho, yang memimpin langsung acara bersama siswa dan acara doa bersama jelang UN (Ujian Nasional) di Medan-- tapi muridku di Aceh tak perlu berkecil hati. Sebab masih ada Kepada Dinas Pendidikan Aceh, Anas M Adam dan jajarannya, termasuk Kemenag, Majelis Pendidikan Daerah (MPD), LSM, komite madrasah/sekolah, pers dan lainnya, yang ‘mendampingi‘ kesendirian anakku di bangku ujian.

Meskipun petinggi kita, sedang berdiskusi soal Lambang dan Bendera Aceh, serta Wali Nanggroe di Jakarta, JK juga ikut, muridku tak perlu risau dengan polemik sesaat itu, sebab tak bakal ditanya dalam ujian nanti. Sebab anakku hanya disuruh ikuti UN, sedangkan polemik itu milik guru dan utazmu, serta cang panah ‘pengamat’ politik di warung kopi. Meskipun sesi pertama, pagi Senin (15/4) kemarin, materi Bahasa Indonesia yang diujiankan bagi SMU/MA, selama 120 menit di bangku bisu, di mata pengawas yang belum tentu awas itu, tapi tetap tak ada soal seputar simbol daerah yang kontroversi itu.

Tak akan ditanyai
“Mana yang benar: bintang-bulan, atau bulan-bintang; singa-buraq itu apa?” Tak akan ditanyai dalam soal ananda. Sungguh dengan belajar rutin sebelum diuji --sedang musim ujian atau bukan, lagi ada PR atau tidak, menelaah model soal pilihan ganda (PG) atau essay-- maka soal berapa paket pun tak penting wahai muridku, siswaku. Apalagi muridku yang rajin berdoa sepanjang waktu, di jalanan dan di ruang sekolah, maka kesuksesan akan mengiringimu. Tentu sukses yang lebih luas dari sekadar angka dan nilai yang akan direkap nanti, dari scan LJ siswa-siswiku.

Caleg dag-dig-dug sejak pendaftaran dan tes, hingga pencoblosan, tapi sesi ujian memang menegangkan justru sebelum masuk ruang, saat akan memilih a, b, c, d, dan e. Lantas seusai ujian, kertas soal yang kemarin masih disegel dari kantor Polsek tetap masih rahasia, padahal sudah dijawab murid. Terbuka atau rahasia, soal multple choice misalnya, katanya itu membantu murid, mengajarkan anak, hidup dalam tebak-tebakan dan rekayasa. Soal ujian yang pilihan ganda, bisa tak jujur lagi dalam pilihannya.

Lantas yang agak jujur dalam tes itu, itulah menilai murid lewat portofolio, sejak awal hingga akhir di sekolah, dan ini juga masih ruwet, walaupun bagus. Ternyata dari hasil keruwetan inilah yang akan ditambah dengan UN. Sebab guru (juga seperti dosen atau ustaz) rata-rata sibuk, mengajar di banyak tempat, dan ramai pula murid per lokal. Penilaian portofolio merupakan bagian integral dari proses pembelajaran yang dilakukan secara terus menerus dan menyeluruh. Maka ujian belum menjamin keutuhan penilaian seseorang. Tiga, lima, atau enam tahun belajar dinilai hanya lima hari, memang tak berlaku sekarang, sebab didongkrak dengan ujian sekolah, tapi itu masih mimpi buruk bagi siswa.

Portofolio yang merupakan rekap nilai saban semester, akan mengutuhkan nilai anak didik, daripada dari lima hari itu (model UN sebelumnya). Sebab untuk menilai manusia memang butuh seni. Jika kita menilai dengan standar ganda, maka yang tampak hanya hitam dan putih. Padahal selain dua warna itu, ada spektrum warna-warni lain yang mungkin juga akan muncul kelabu. Saat tertentu, kelabu yang mesti kita pakai sesering mungkin. Agar tidak serta merta hidup sarat dengan truth claim (vonis kebenaran sepihak atau kita yang merasa lebih benar) dalam menilai apa pun apalagi anak manusia, anak didik.

 UN kontroversi
Sejak Senin hingga Kamis (15-18 April 2013), putra-putri kita di MA/SMU kembali unjuk diri lewat ‘UN kontroversi’, yang telah divonis MK akan tak ada lagi ke depan. Selanjutnya adiknya di bangku MTs/SMP akan di-UN-kan mulai 22-25 April dan murid di bangku MI/SD akan dibagi soal ujian sejak 6-8 Mei. Usai jawaban dinilai, direkap, dirankingkan, dan diumumkan, kita dengarlah apreasiasi dan caci maki. Ramai yang akan lulus, biasa ada saja yang belum mujur --tak lewat dan tak ada kesempatan ulang. Manakala banyak anak yang gagal, ‘kambing hitam’ pun dicari, bukan mengintospeksi diri masing-masing.

Korban kebijakan ujian dan harapan prosentase kelulusan itu, bukan orang besar, tapi anak yang memang sedang belajar. “Anak kita yang ikut UN di tingkat MA ada 12.165 peserta, MTs 21.280 peserta, dan MI 18.276 peserta. Totalnya 51.721 peserta (21,62%) dari jumlah siswa keseluruhan di madrasah, di lingkungan Kanwil Kemenag Aceh. Dari jumlah madrasah saat ini yang sudah 1.443 satker, yang terdiri dari MIN 433, MTsN 109, dan MAN 68 buah. Selebihnya adalah madrasah swasta baik RA, MIS, MTsS, dan MAS,” lanjut Efendi.

Ditambah dengan sekolah, jadi lebih ramai. Seakan nilai yang bisu, bagi anak, adik, anak tetangga, murid atau santri kita itu segala-galanya, seakan-akan angka kaku itu potret keseluruhan hidup bagi anak manusia, hingga remaja, nikah, punya anak, tua dan masuk kubur. Imej, kesan, cap, dan stereoritipe bodoh, dungu, atau pecundang misalnya, akan terngiang di telinga anak hingga ia dewasa, andai ayah-bunda sempat melontarkannya, saat anak belum lulus, atau nilai anjlok di rapor/ijazahnya.

Padahal anak laksana intan, mutiara, dan permata. Tidak ada yang bodoh, tapi mungkin ayah dan ibu, guru atau ustaznya yang bodoh. Atau kepala sekolah atau direktur pengajiannya yang dungu dan otoriter. “Kuningan yang digosok sampai berkilat sering lebih mengesankan daripada emas yang masih kasar,” Lord Chesterfield membandingkan anak yang diasuh dengan keibuan dan kebapakan, dengan anak yang hidup liar.

Mutu pendidikan yang anjlok, anak putus sekolah, beasiswa dan sekolah gratis, angka pengangguran yang kian meninggi --antara lain karena output dari lembaga pendidikan yang rupanya tanpa menghasilkan suatu keahlian, nasib guru yang begitu-begitu terus hingga meninggal dan sebagainya, biasa akan menjadi tawaran dalam janji-janji kampanye para capres. Teriming-iming dengan misi kesejahteraan rakyat kecil, akhirnya suara dalam pemilu tersumbangkan buat kandidat yang dinilai ‘peduli’ dengan dunia pendidikan. Jadi, pendidikan bisa jadi lahan empuk kampanye politik elite.

 Tak mampu mengelak
Beginilah jika tema politik sudah menyusup ke pojok mana saja. Politik ada di luar pagar dan dalam kamar rumah kita. Dalam kurikulum dan rumah kontrakan guru. Saat politik sudah meliputi segala aspek, maka dunia pendidikan juga tidak mampu mengelaknya. Pengawasan politik pendidikan itu, katakanlah, dilakukan oleh institusi negara. Kesuksesan pemerintah bisa ditentukan oleh, pemilu yang sukses dan UN yang lancar. Relung hati guru dan murid pun disusupi perintah politik.

Bagaimana jika kebijakan pendidikan itu membodohi atau mendegradasikan nilai-nilai kemanusian? Maka manusiakan anak didik. Sisipkan di antara jam-jam sibuk mereka ujaran orang-orang suci dari kata-kata hikmah. Kisah nabi dan syuhada suci. Bekali mereka bahan bacaan yang tidak mendewakan uang, wanita, atau jabatan, bahkan setan. Hafalkan untuk keselamatan langkah mereka, bait-bait doa dari kitab suci, peninggalan Nabi saw dan ulama. Awali pagi dengan mengaji dan shubuh berjamaah. Iringi dengan doa keluar rumah, assalamualaikum, dan cium tangan orang tua dan guru di gerbang sekolah.

Keliru jika pendidikan cuma untuk anak; keliru juga kita ayah, usai mengantar anak ke sikula (madrasah), usai paraf pagi, nongkrong di pojok warung kopi, di kantin kantor. Padahal guru dan anak didik hanya ‘singgah’ beberapa jam sesamanya di sekolah, dengan segenap persoalan pendidikan hari ini. Ayah wajib mengaji, agar jangan sesat, lantas mengajar kembali pada orang rumah (peurumoh), dan anak tercinta, musim ujian atau bukan. Ayah belajar hanya musim testing PNS, itu kebablasan. Belajar hanya malam ujian anak, itu ‘penjajahan pendidikan’.

Anakku, ayah kamu ini Tuhan uji dengan beragam ujian lain --aliran sesat, gosip di kantor, baju baru mama, kredit mobil, uang les, iuran yang terus naik, kenaikan BBM, sakit jantung, kalah tender, isu bendera, dan seterusnya-- sedangkan kamu diuji sementara dengan cuma lewat lembaran itu, yang jelas tak ada soal lambang dan bendera, bulan-bintang, atau bintang-bulan. Maka selamat UN muridku, anakku, siswaku. Rabbii dzidnii ‘ilman warzuqnii fahman, aminkan!

* Muhammad Yakub Yahya, Direktur TPQ Plus Baiturrahman dan Staf Subbag Informasi dan Humas Kanwil Kemenag Aceh. Email: m.yakubyahya@yahoo.co.id
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
178643 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas