Kamis, 28 Mei 2015
Home » Opini

Bendera dan Lambang tak Masuk UN, Anakku

Selasa, 16 April 2013 09:24

ANAKKU, muridku, dan siswaku, meskipun Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, tak sempat menyemangati siswa-siswinya, aneuk nanggroe, untuk tetap optimis dan santai jelang ujian --sebagaimana Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho, yang memimpin langsung acara bersama siswa dan acara doa bersama jelang UN (Ujian Nasional) di Medan-- tapi muridku di Aceh tak perlu berkecil hati. Sebab masih ada Kepada Dinas Pendidikan Aceh, Anas M Adam dan jajarannya, termasuk Kemenag, Majelis Pendidikan Daerah (MPD), LSM, komite madrasah/sekolah, pers dan lainnya, yang ‘mendampingi‘ kesendirian anakku di bangku ujian.

Meskipun petinggi kita, sedang berdiskusi soal Lambang dan Bendera Aceh, serta Wali Nanggroe di Jakarta, JK juga ikut, muridku tak perlu risau dengan polemik sesaat itu, sebab tak bakal ditanya dalam ujian nanti. Sebab anakku hanya disuruh ikuti UN, sedangkan polemik itu milik guru dan utazmu, serta cang panah ‘pengamat’ politik di warung kopi. Meskipun sesi pertama, pagi Senin (15/4) kemarin, materi Bahasa Indonesia yang diujiankan bagi SMU/MA, selama 120 menit di bangku bisu, di mata pengawas yang belum tentu awas itu, tapi tetap tak ada soal seputar simbol daerah yang kontroversi itu.

Tak akan ditanyai
“Mana yang benar: bintang-bulan, atau bulan-bintang; singa-buraq itu apa?” Tak akan ditanyai dalam soal ananda. Sungguh dengan belajar rutin sebelum diuji --sedang musim ujian atau bukan, lagi ada PR atau tidak, menelaah model soal pilihan ganda (PG) atau essay-- maka soal berapa paket pun tak penting wahai muridku, siswaku. Apalagi muridku yang rajin berdoa sepanjang waktu, di jalanan dan di ruang sekolah, maka kesuksesan akan mengiringimu. Tentu sukses yang lebih luas dari sekadar angka dan nilai yang akan direkap nanti, dari scan LJ siswa-siswiku.

Caleg dag-dig-dug sejak pendaftaran dan tes, hingga pencoblosan, tapi sesi ujian memang menegangkan justru sebelum masuk ruang, saat akan memilih a, b, c, d, dan e. Lantas seusai ujian, kertas soal yang kemarin masih disegel dari kantor Polsek tetap masih rahasia, padahal sudah dijawab murid. Terbuka atau rahasia, soal multple choice misalnya, katanya itu membantu murid, mengajarkan anak, hidup dalam tebak-tebakan dan rekayasa. Soal ujian yang pilihan ganda, bisa tak jujur lagi dalam pilihannya.

Lantas yang agak jujur dalam tes itu, itulah menilai murid lewat portofolio, sejak awal hingga akhir di sekolah, dan ini juga masih ruwet, walaupun bagus. Ternyata dari hasil keruwetan inilah yang akan ditambah dengan UN. Sebab guru (juga seperti dosen atau ustaz) rata-rata sibuk, mengajar di banyak tempat, dan ramai pula murid per lokal. Penilaian portofolio merupakan bagian integral dari proses pembelajaran yang dilakukan secara terus menerus dan menyeluruh. Maka ujian belum menjamin keutuhan penilaian seseorang. Tiga, lima, atau enam tahun belajar dinilai hanya lima hari, memang tak berlaku sekarang, sebab didongkrak dengan ujian sekolah, tapi itu masih mimpi buruk bagi siswa.

Portofolio yang merupakan rekap nilai saban semester, akan mengutuhkan nilai anak didik, daripada dari lima hari itu (model UN sebelumnya). Sebab untuk menilai manusia memang butuh seni. Jika kita menilai dengan standar ganda, maka yang tampak hanya hitam dan putih. Padahal selain dua warna itu, ada spektrum warna-warni lain yang mungkin juga akan muncul kelabu. Saat tertentu, kelabu yang mesti kita pakai sesering mungkin. Agar tidak serta merta hidup sarat dengan truth claim (vonis kebenaran sepihak atau kita yang merasa lebih benar) dalam menilai apa pun apalagi anak manusia, anak didik.

 UN kontroversi
Sejak Senin hingga Kamis (15-18 April 2013), putra-putri kita di MA/SMU kembali unjuk diri lewat ‘UN kontroversi’, yang telah divonis MK akan tak ada lagi ke depan. Selanjutnya adiknya di bangku MTs/SMP akan di-UN-kan mulai 22-25 April dan murid di bangku MI/SD akan dibagi soal ujian sejak 6-8 Mei. Usai jawaban dinilai, direkap, dirankingkan, dan diumumkan, kita dengarlah apreasiasi dan caci maki. Ramai yang akan lulus, biasa ada saja yang belum mujur --tak lewat dan tak ada kesempatan ulang. Manakala banyak anak yang gagal, ‘kambing hitam’ pun dicari, bukan mengintospeksi diri masing-masing.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas