• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 23 Oktober 2014
Serambi Indonesia

Pantai Barat Banjir Lagi

Kamis, 18 April 2013 11:45 WIB
Pantai Barat Banjir Lagi
SERAMBI/SA'DUL BAHRI
Warga mendorong kendaraan di genangan banjir di atas badan jalan Negara lintas Calang-Meulaboh di Desa Gampong Baro, Kecamatan Teunom, Aceh Jaya, Rabu (17/4/2013).
* Warga Woyla Barat Mengungsi

MEULABOH - Baru saja 6-7 April lalu pantai barat Aceh, meliputi Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, hingga Aceh Selatan, dilanda banjir. Rabu (17/4) kemarin air bah kembali merendam Aceh Jaya dan Aceh Barat. Warga enam desa dari Kecamatan Woyla Barat dilaporkan harus mengungsi karena ketinggian air hingga tadi malam semakin mencemaskan.

Hingga pukul 20.40 WIB tadi malam, hujan di kawasan Aceh Barat dan Aceh Jaya dilaporkan sudah mulai mereda. Meski demikian luapan air sungai masih terus menggenangi kawasan permukiman, termasuk badan jalan nasional maupun jalan antar-kecamatan di kedua daerah itu.

Ribuan warga dari enam desa di Kecamatan Woyla Barat, Aceh Barat, tadi malam dilaporkan mulai mengungsi ke posko yang dibuka oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat. “Tim BPBD membuka dapur umum di Napai,” ujar Kepala BPBD Aceh Barat, T Nofrizal SSTP kepada Serambi, Rabu malam.

Warga enam desa dari Kecamatan Woyla Barat yang mengungsi masing-masing dari Desa Napai, Blang Cot Rubek, Blang Cot Mameh, Alue Leuhop, dan Lhok Balee.

Kepala BPBD Aceh Barat melaporkan, hujan lebat yang melanda kabupaten ini dalam dua hari terakhir menyebabkan puluhan desa dalam sembilan kecamatan, di antaranya yang terparah adalah Kecamatan Arongan Lambalek, Woyla, dan Woyla Barat dikepung banjir.

Selain merendam ribuan rumah, arus transportasi darat Meulaboh-Kuala Bhee lumpuh sehingga pengguna jalan beralih ke lintas Peuribu, Kecamatan Arongan Lambalek.

Menurut Nofrizal, dari sembilan kecamatan yang dilanda banjir, baru 30 keuchik yang melaporkan desanya direndam air bah. “Tim BPBD masih terus memantau perkembangan banjir susulan yang melanda Aceh Barat,” ujar Nofrizal.

Dilaporkan juga bahwa banjir yang melanda Aceh Barat menyebabkan ruas jalan Meulaboh-Kuala Bhee di kawasan Ateung Teupat terendam, sehingga pengguna jalan dari wilayah Woyla ke Meulaboh beralih ke jalan lain. “Banjir di jalan Ateung Teupat sudah tidak kering-kering lagi, karena kondisi jalannya sangat rendah,” ujar anggota DPRK Aceh Barat, H Amri.

Ia berharap, pemkab setempat punya program khusus menanggulangi banjir Ateung Teupat serta banjir yang melanda hampir seluruh kecamatan. Kenyataan selama ini, katanya, sebentar saja hujan sungai di Aceh Barat langsung meluap, seperti Krueng Meureubo, Krueng Woyla, Krueng Bhee, dan Krueng Suak Seumaseh.

Sementara itu, pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada hari ketiga di Aceh Barat kemarin berjalan lancar meski pada beberapa kecamatan yang dikepung banjir. Sekolah-sekolah yang melaksanakan UN untuk SMA, MA, dan SMK tidak ada yang terendam banjir. “Pelaksanaan UN tetap lancar,” ujar Kadisdik Aceh Barat, T Usman Basyah SH. Ia tambahkan, pelaksanaan UN di 38 SMA, MA, dan SMK se-Aceh Barat tetap lancar, meski sembilan kecamatan didera banjir.

Dari Aceh Jaya dilaporkan, sekitar pukul 11.00 WIB kemarin debit air di pinggir sungai dan permukiman penduduk terus meninggi. “Air mulai naik sejak pukul 03.00 WIB dini hari,” kata Danramil Teunom, Aceh Jaya, Kapten Narko kepada Serambi siang kemarin di lokasi banjir.

Empat kawasan di Aceh Jaya dikepung banjir, meliputi Pasie Raya, Teunom, Krueng Sabee, dan Kecamatan Darul Hikmah. Desa terparah direncam banjir adalah Desa Pulo Tinggi di Kecamatan Pasie Raya, tinggi airnya lebih dari 1 meter. Desa lain yang direndam banjir adalah Sarah Raya, Bintah, dan Seumira.

Sebagian penduduk Pasie Raya terpaksa mengungsi ke tempat-tempat yang lebih tinggi di desa mereka.  Pegawai Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Jaya yang hendak menyalurkan bantuan siang kemarin sempat terjebak banjir. Mobil yang mengangkut sembako ke lokasi banjir mati di tengah jalan, karena mesinnya terendam. Beberapa mobil warga yang nekat melintasi banjir juga mengalami nasib serupa.

Hingga pukul 20.40 WIB tadi malam, ruas jalan nasional yang masih terendam di kawasan Aceh Jaya antara lain di kawasan Gampong Baro, Kecamatan Teunom. “Arus lalu lintas di titik rendaman terganggu,” kata seorang sopir angkutan umum.(riz/c45)

Tiga Bulan yang Harus Diwaspadai

KOORDINATOR Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh, Khairul Akbar mengatakan, Aceh spesifik dibanding wilayah lain yang pada musim kemarau terjadi angin kencang dan hujan lebat. Karena wilayah Aceh dipengaruhi monsun Asia Selatan (India), sehingga Aceh mengalami angin kencang diikuti hujan.

“Oleh karenanya, tetap harus waspada pada rentang waktu Juni, Juli, dan Agustus yang mengalami angin kencang, meski tidak selalu disertai hujan,” ujarnya menjawab Serambi, Rabu (17/4).

Ditanya soal kondisi angin dan gelombang laut saat ini, Khairul memperkirakan, pada musim kemarau kecepatan angin belum mencapai maksimum dan gelombang air laut di perairan barat-selatan Aceh rata-rata mencapai satu meter dan maksimum 1,5 meter, sehingga tidak berpengaruh pada kapal-kapal penyeberangan.

“Beberapa hari lalu di beberapa tempat terjadi angin kencang dan hujan, namun di tempat lain tidak ada angin kencang. Hal itu dapat disebabkan kekuatan angin terhalang oleh pohon, bangunan, sehingga tidak semua daerah mengalami hal serupa,” ujarnya. (hs)
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
179644 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas