Aceh Dapat Bantuan Kapal Feri Baru
Provinsi Aceh pada tahun ini mendapat bantuan sebuah kapal feri penumpang dan barang baru yang diberi nama Kapal Motor (KM)
BANDA ACEH - Provinsi Aceh pada tahun ini mendapat bantuan sebuah kapal feri penumpang dan barang baru yang diberi nama Kapal Motor (KM) Sabuk Nusantara 35. Beroperasi di pantai barat dan selatan Aceh hingga ke Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat.
“KM Sabuk Nusantara itu nanti berpangkalan di Pelabuhan Meulaboh, Aceh Barat,” kata Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi, dan Telematika (Dishubkomintel) Aceh, Prof Dr Ir Husaini MT didampingi Kepala Bidang Laut, Ir Ahmadi kepada Serambi, Kamis (18/4), seusai meninjau feri baru tersebut di Pelabuhan Malahayati Krueng Raya, Aceh Besar.
Panjang KM Sabuk Nusantara 35, sebut Husaini, 58 meter dan lebar 12 meter. Mampu mengangkut penumpang 350 orang dan barang 600 ton. Seluruh ruangannya ber-AC. Termasuk ruang ekonomi, kantin, mushala, tempat wudhuk, toilet, dan lainnya. “Penumpang bakal nyaman naik kapal ini,” kata Husaini.
Cuma kapal ini tidak memuat kendaraan roda dua, apalagi roda empat. Bagasi yang disediakan hanya untuk muatan barang bawaan penumpang dan barang dagangan. KM Sabuk Nusantara, kata Husaini, sengaja didesain seperti itu, karena tujuan utamanya menjadikan ia sebagai kapal perintis penumpang dan barang antarprovinsi yang melintasi laut dan daerah kepulauan.
Kapal ini berkecepatan 13 knot, melebihi Kapal Feri BRR yang hanya 10 knot/jam maupun kapal feri lainnya yang beroperasi di Aceh. Awaknya 16 orang, cukup untuk melayani 350 penumpang.
Kapal ini, kata Husaini, memiliki fungsi yang sangat strategis. Tidak hanya untuk pendistribusian kebutuhan barang dan penumpang via laut dalam kondisi normal, tapi sewaktu-waktu di daerah yang dilintasi kapal ini rusak atau terganggu jalur transportasi daratnya, sehingga suplai barang dan penumpang jadi macet, seperti dialami Aceh saat tsunami 26 Desember 2004, maka KM Sabuk Nusantara bisa menjadi jembatan transportasi.
Kecepatannya yang 13 knot itu, menurut Husaini, bisa mempercepat pendistribusian kebutuhan pangan, obat-obatan, perawat, dokter, dan orang untuk daerah yang terkena bencana.
Kapal ini, kata Husani, juga sangat cocok digunakan sebagai moda transportasi perdagangan antarpulau. Terutama untuk angkutan komoditas hasil bumi, makanan, minuman, kerajinan, industri kecil, menengah, dan lainnya yang akan didagangkan secara interinsuler.
Prof Husaini atas nama Pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Perhubungan yang telah memberi bantuan kapal feri penumpang dan barang kepada Aceh. Ia berharap, dengan masuknya KM Sabuk Nusantara 35 dan kapal barang lainnya ke pantai barat-selatan Aceh hingga ke Malahayati, Calang, Meulaboh, dan Teluk Bayur, bisa mendorong perdagangan hasil bumi, kerajinan, industri makanan dan minuman Aceh, sehingga tumbuh dan berkembang lebih pesat lagi di masa datang.
“Kalau selama ini di Pelabuhan Malahayati, Calang, dan Meulaboh jarang masuk kapal atau sepi bagaikan tanpa penghuni, tapi setelah KM Sabuk Nusantara 35 beroperasi, suasana pelabuhan menjadi semarak,” ujarnya. (her)