Citizen Reporter

Hangatnya Kebersamaan di Pahang

SAYA dan beberapa mahasiswa asal Indonesia berkesempatan ikut forum komunikasi yang digelar Persatuan Pelajar Indonesia (PPI)

Hangatnya Kebersamaan di Pahang
FATMAWATI FADLI, Mahasiswi S1 Double Degree-Program Psikologi Universiti Pendidikan Sultan Idris dan Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Perak, Malaysia

FATMAWATI FADLI, Mahasiswi S1 Double Degree-Program Psikologi Universiti Pendidikan Sultan Idris dan Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Perak, Malaysia

SAYA dan beberapa mahasiswa asal Indonesia berkesempatan ikut forum komunikasi yang digelar Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Malaysia tiga hari lalu. Ajang silaturahmi ini merupakan wadah diskusi antara pelajar Indonesia dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Kebetulan Universiti Malaysia Pahang (UMP) menjadi tuan rumahnya. Saya sebagai pelajar dari Aceh datang mewakili kampus saya, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) sekaligus anggota PPI-Malaysia di bidang sosial kemasyarakatan.

Seluruh pelajar Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah Malaysia turut hadir dalam acara ini. Bahkan yang berasal dari Kinabalu, Sabah pun rela terbang dua jam untuk mencapai Semenanjung Malaysia.

Dengan menumpangi sebuah bus, kami bertolak dari Kuala Lumpur menuju Kuantan, Pahang. Setelah empat jam perjalanan darat, tepat pukul 1 dini hari kami tiba di Asrama Pelajar Internasional UMP. Mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi di UMP menyambut kami dengan hangat. Setelah berbincang singkat, kami pun istirahat di kamar yang telah disediakan.

Paginya, saya dan beberapa pelajar berjalan menuju tempat pertemuan. Berada di ruangan tersebut, saya merasa seolah-olah sedang berada di Indonesia. Benar-benar jauh dari kesan di luar negeri. Mulai dari bahasa yang kental dengan dialek daerahnya masing-masing, hingga pakaian yang jauh dari kesan baju kurung, khas pakaian muslimah Malaysia. “Aku cinta Indonesiaku,” saya membatin.

Saya bersama seorang teman yang juga berasal dari Aceh diamanahkan menjadi moderator. Kami membukanya dengan salam dan penghormatan kepada para tamu agung yang diundang. Di antaranya Prof Dr Rusdi MA sebagai Atase Pendidikan RI di Malaysia, Freddy Panggabean sebagai Minister Counselor-Political Affairs di KBRI Kuala Lumpur, Dr Rossi Setiadji sebagai Penasihat PPI di UMP, Muhammad Yunus sebagai Ketua Umum PPI Malaysia, dan seluruh ketua PPI cabang se-Malaysia. Beberapa pekerja Indonesia pun hadir menyemarakkan diskusi ini.

Saat sesi panel diskusi yang dibahani Prof Rusdi dan Pak Freddy, semua mahasiswa duduk rapi dan memusatkan perhatian kepada mereka. Dalam panel itu Prof Rusdi bercerita tentang pendidikan bagi WNI di Malaysia, sedangkan Freddy membahas Synergy in Diplomacy.

Sebelum memulai pemaparannya, Prof Rusdi sempat melontarkan sebuah kutipan bijak dari Nelson Mandela, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Kalimat ini membuat kami semua tersadar betapa pentingnya pendidikan untuk mengubah nasib sebuah bangsa. Selain itu, pembawaan Prof Rusdi yang humoris membuat kami tak henti tertawa. Materi yang ia sampaikan pun sangat menarik dan membakar semangat mahasiswa untuk berkontribusi lebih besar terhadap pendidikan di Tanah Air.

Kini, berkat jerih payah dan usaha beliau beserta jajarannya, di Malaysia telah berdiri berbagai pelayanan pendidikan untuk WNI, dimulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, Paket A, B, C, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Universitas Terbuka (UT), hingga praktik kerja industri bagi siswa SMK dan perguruan tinggi.

Berbeda halnya dengan Prof Rusdi, Pak Freddy yang notabene-nya dosen Diplomacy and Indonesia’s Foreign Policy di Universitas Paramadina, Jakarta, banyak bercerita tentang politik luar negeri dan berbagai pengalaman beliau saat ditempatkan di berbagai belahan dunia guna menjalankan misi kenegaraan.

Lulusan Harvard University School of Law, Boston, Massachusetts ini mengasah critical thinking kami untuk berpikir out of the box. Beliau katakan, mahasiswa adalah second agent untuk membuat perubahan bagi bangsa. “Jika bukan kita, siapa lagi?” tukasnya. Meski belum dua bulan bergabung dengan KBRI di Kuala Lumpur, semoga kebijakan yang beliau lahirkan nantinya bermanfaat besar bagi negara kita.

Terakhir, forum ini ditutup dengan diskusi internal antara PPI Malaysia dengan PPI Cabang se-Malaysia yang dipimpin Muhammad Yunus.

Setelah itu, kami habiskan sisa sore sambil menikmati suasana pantai di Teluk Cempedak, tak jauh dari Kampus UMP. Ada teman yang hanya sekadar duduk dan merasakan hawa laut, juga ada yang bermain sepak bola di tepi pantai. Senyum yang terpancar pun menunjukkan rasa persaudaraan yang kian akrab. Semoga forum pertemuan sederhana ini mampu terus menciptakan senyuman untuk Indonesia kita. Amin. [email penulis: fatmawatifadli@rocketmail.com]

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved