Tafakur
Mengaku
Mengaku berbuat baik dan bersih, mudah bagi setiap manusia.
Oleh: Jarjani Usman
“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS. Al Baqarah: 11-12).
Mengaku berbuat baik dan bersih, mudah bagi setiap manusia. Seperti halnya pengakuan sebahagian orang yang katanya semata-mata berbuat untuk kebaikan. Padahal tak jarang di balik itu, terdapat sejumlah niat dan pelaksanaannya yang bertolakbelakang dengan kebaikan.
Tidak sedikit individu atau lembaga yang terang-terangan memopulerkan diri dengan istilah-istilah yang sifatnya membantu, menyelesaikan masalah, mengedepankan keadilan, memperjuangkan kebenaran, dan sejenisnya. Hampir bisa dipastikan, tak ada satupun lembaga rakyat yang dibentuk yang tujuannya untuk kejahatan, tetapi untuk kemaslahatan. Karena itu, seharusanya tak ada rakyat yang perlu takut berhadapan dengannya.
Sayangnya dalam kenyataannya, istilah-istilah indah tersebut kerap hanya pemanis mulut sesaat untuk meraih tujuan. Membantu tanpa pamrih sudah menjadi barang langka. Penyelesaian masalah seringkali berubah makna menjadi memperpanjang dan memperumit masalah. Keadilan dan kebenaran sudah sangat sulit didapat. Suka atau tidak suka, harus kita akui bahwa sebahagian kita bagaikan sudah tak mampu lagi membedakan antara kebenaran dengan kebatilan. Ketika kebatilan dilakukan, tak terasa itu sebagai hal yang salah dan berdosa. Akibatnya, demikian mudah (di antara) kita terjebak dalam perbuatan-perbuatan berdosa.