Rabu, 10 Juni 2026

Api Humor Belantara

Meski perjalanan sudah nyaris setengah hari, namun aku dan Fadhil masih melesat di depan hingga rombongan tertinggal di belakang

Tayang:
Editor: bakri

Karya Musmarwan Abdullah

Meski perjalanan sudah nyaris setengah hari,  namun aku dan Fadhil masih melesat di depan hingga rombongan tertinggal di belakang. Kami tahu, salah seorang dalam rombongan-Raman Cukong Kayu namanya-selalu cemburu pada kekuatan kami. Apalagi kepala rombongan diam-diam sering memuji bahwa kami memiliki tenaga ekstra yang luar biasa.

Namun kali ini kekuatan ekstra kami hampir tak ada artinya. Dakian terakhir Goh Makajeung yang harus kami daki sangat tinggi. Bahkan lututku nyaris kebas. Tapi, meski di antara napasnya yang terengah-engah, Fadhil masih ngotot bicara; bukan tentang hati yang dengki milik Raman Cukong Kayu, tetapi tentang hutan.

“Jika aktivitas jelajah rimba oleh para kaum muda dari berbagai kecamatan…,” kata Fadhil dengan nafas tersengal-sengal dan kalimat yang terputus-putus, “…dapat digalakkan dengan bantuan dana dari pihak-pihak berkompeten di tubuh pemerintah, paling kurang para pembalak liar akan terganggu tingkat kedalaman konsentrasinya dalam mengunyah-memamah pohon-pohon rimba sesuka nafsu mereka.”

“Nanti saja bicara waktu kita istirahat,” balasku dalam satu hembusan napas. “Apalagi dalam kelompok-kelompok darmawisata hutan…,” lanjut Fadhil tanpa mengindahkan saranku,

“…itu terselip orang-orang muda yang benar-benar mencintai rimba demi kelangsungan keseimbangan ekologi. Ya, tentu orang muda yang benar-benar prihatin pada gaya merumput pembalak, dan lalu pulang ke kota, dan berteriak pada penentu kebijakan, misalnya, ‘Bapaaaaakkk, tolong bina aktivitas perekonomian orang-orang pedih yang merumput hutan itu agar mereka tetap dapat menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anak mereka! Bapaaaaakkk, tolong beri mereka makan agar tidak malah merumput pohon-pohon rimba yang ujung-ujungnya hanya demi keuntungan segelintir para cukong kayu’...!”

“Nanti saja disambung bicaranya saat kita duduk,” ulangku dengan napas yang juga kian putus-putus. “Jika demikian yang terjadi,” sambung Fadhil tanpa sedikit pun terpengaruh dengan kata-kataku, “Oh, alangkah indahnya perjalanan jelajah yang terajut di hutan belantara seperti yang kita lakukan ini,  hingga tidak hanya untuk refreshing dari kepenatan sebulan kerja.”

Melalui celah rimbunan daun rimba,  aku tahu matahari sudah di pucuk langit. Berarti kami sudah berjalan kaki lebih setengah hari. Aku menoleh ke belakang. Wak Nan yang berumur 60 tahun, meski berada bersama rombongan di belakang, namun aku tahu, semua yang ada pada dirinya masih biasa-biasa; dari lenturan tubuh sampai ke napasnya yang tidak terengah-engah. Kami yang sembilan orang lagi masih muda-muda. Namun, jangankan gerakan langkah, napas pun sudah tinggal satu-satu.

“Tengoklah ke belakang. Wak Nan seperti sedang berjalan santai di pasar saja,” kataku dalam tiga tarikan napas.

“Wak memang hebat,” kata Fadhil seperti pada diri-sendiri disela-sela napasnya yang mulai payah.

Wak Nan adalah pawang hutan. Sedari kecil sudah akrab dengan naik-turun bukit, mengarungi alur bertebing batu dengan air sederas pelor. Yang lainnya cuma orang-orang yang kenal hutan  sebatas tempat rekreasi tahunan sebagai pencerah saraf dari rutinitas kuliah dan kepenatan kerja. Sedangkan Raman Cukong Kayu, walaupun ia cukong kayu , namun ia jarang ke hutan. Ia hanya memainkan modalnya saja di kampung untuk menampung kayu-kayu hasil jarahan.

Dan, perjalanan jelajah rimba kami selalu tergantung pada Wak Nan. Kami berani menapaki rimba Seulawah Inong ini karena Wak Nan mau menuntun, dan kebetulan dia sendiri memang senang bergabung dengan orang-orang muda yang menyukai rimba.

Tanpa Wak Nan yang mau mengepalai rombongan, tentu rimba adalah dunia yang penuh kegelapan bagi kami, baik rute-rutenya maupun berbagai tatakrama rimba yang wajib ditaati dalam setiap langkah dan bicara. Contohnya, kami dilarang berkata-kata angkuh bernada sok dan takabur. Begitu juga tatakrama apabila kami berhadapan dengan harimau, gajah atau ular besar. Kami dilarang gugup, tapi tenang. Jangan sekali-kali mengandalkan langkah seribu. Ini dunia para margasatwa. Langkah seribu hanya berlaku apabila kita berseteru dengan sesama. Itu pun di kampung sana.

Ah, rasanya aku sudah lebih lelah dari Fadhil. Tapi kurasa dia juga merasa begitu, lebih lelah dariku. Betapa tidak, kami sudah lebih setengah hari naik-turun bukit, berjalan zig-zag di celah-celah pohon, mendobrak semak belukar bercampur tumbuhan rambat dengan duri-durinya yang mencakar baju, melangkahi padang bertanah membal berlapis alang-alang dan menerobos rumput keras yang tumbuh rapat setinggi  kepala.

Kini kami harus mendaki lagi kemiringan menukik bukit Makajeueng. Padahal kelelahan sudah benar-benar hampir tak terkata. Dan begitu tiba di lebih setengah dakian, aku dan Fadhil terpaksa duduk di bawah sebatang pohon rheum dengan napas yang hampir tak kuasa kami hirup dan hembus lagi.

Tapi tiba-tiba, Raman Cukong Kayu yang masih berada jauh di bawah bersama rombongan, membakar hamparan ilalang setinggi lutut itu. Lalu areal api yang hampir selapangan bola kaki menjalar cepat ke arahku dan Fadhil yang jilatan-jilatannya terlihat ganas dikompori tiupan angin.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved