A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Kegunaan Sastra Bagi Siswa - Serambi Indonesia
Minggu, 23 November 2014
Serambi Indonesia

Kegunaan Sastra Bagi Siswa

Minggu, 21 April 2013 08:40 WIB

Oleh Fitriandi, Mantan Pengurus Sanggar Kiprah FKIP Untan, Pontianak

Sejatinya sastra merupakan unsur yang amat penting yang mampu memberikan wajah manusiawi, unsur-unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif, harmoni, irama, proporsi, dan sublimasi dalam setiap gerak kehidupan manusia dalam menciptakan kebudayaan. Dan apabila hal tersebut tercerabut dari akar kehidupan manusia, manusia tak lebih dari sekadar hewan berakal. Untuk itulah sastra harus ada dan selalu harus diberadakan.

Sayangnya, buat kita bangsa Indonesia, sastra dan kesenian nyatanya kian terpinggirkan dari kehidupan berbangsa. Padahal, kita adalah bangsa yang berbudaya. Dalam dunia pendidikan, sastra dianggap hafalan belaka. Siswa mengenal roman-roman sastra seperti Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, Sengsara Membawa Nikmat, Di Bawah Lindungan Ka’bah,  hanya karena mereka “terpaksa” atau mungkin “dipaksa” menghafal beberapa sinopsis dari beberapa karya yang benar-benar singkat yang ada dalam buku pelajaran, yang mereka khawatirkan muncul ketika ujian. Akibatnya, sastra hanyalah aktivitas menghafal, mencatat, ujian, dan selesai. Metodenya hampir sama dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi, sehingga minat terhadap dunia sastra benar-benar tak terlintas di benak kebanyakan generasi kita.

Fenomena tawuran pelajar misalnya.  Tentu saja kesalahannya  tak bisa dilimpahkan sepenuhnya hanya pada siswa. Sekolah pun mestinya memiliki tanggung jawab penuh untuk merefleksi diri mengapa tawuran antarpelajar sering terjadi akhir-akhir ini. Sebab, ada kemungkinan kesalahan dalam mendidik dan memberikan metode pendidikan.  Salah satunya jelas karena kurangnya pengayaan terhadap sastra.

Sastra adalah vitamin batin, kerja otak kanan yang membuat halus sikap hidup insani yang jika benar-benar dimatangkan, akan mampu menumbuhkan sikap yang lebih santun dan beradab. Tentu akan lain ceritanya jika sekolah lebih mengembangkan sastra kepada siswa-siswinya. Ambil contoh kecil, misalnya, pengembangan berpuisi. Selain keseimbangan olahjiwa, kepekaan terhadap lingkungan yang memiliki unsur-unsur keindahan, siswa akan semakin mengerti tentang hakikat dan nilai-nilai kemanusiaan. Jiwa kemanusiaan semakin tebal, maka jiwa-jiwa kekerasan yang ada dalam diri manusia akan tenggelam dengan sendirinya. Sebab, jarang sekali puisi dan kekerasan tampil dalam tubuh kalimat yang sama.

Terkait dengan itu, beberapa hasil penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa ternyata berpuisi selain mampu mengelola stres, yang notabene pemicu dari lahirnya tindak kekerasan, juga memberikan efek relaksasi serta mencegah penyakit jantung dan gangguan pernafasan.

Maka, tak bisa lagi kita mengelak dengan mengatakan bahwa sastra hanyalah permainan kata-kata. Kata-kata yang dibolak-balik, diakrobatkan, diliuk-liukan di udara imajinasi agar terkesan bagus, indah, dan bersahaja bagi siapa saja yang membacanya. Ternyata dari hasil penelitian di atas, sastra mampu menduduki posisi sebagai terapi alternatif terhadap beberapa penyakit. Wajar bahwa penulis sangat menekankan untuk sekolah-sekolah terus-menerus memberikan waktu yang lebih banyak pada siswanya untuk melatih imajinasi melalui karya-karya sastra baik itu puisi, cerpen, teater, maupun drama. Sebab, selain untuk memupuk minat terhadap sastra dan mengembangkan imajinasinya sebagai penunjang pengetahuan yang lainnya, diharapkan juga nantinya mampu melahirkan para budayawan dan sastrawan terkenal sebagai pengganti “pendekar” sastra pilih tanding yang tidak produktif lagi karena usia dan satu per satu telah meninggalkan kita. Sebut saja Hamid Jabbar, Muchtar Lubis, dan Pramudya Ananta Toer.

Sekolah harus memberi  ruang transfer ilmu pengetahuan kesastraan kepada sastrawan profesional untuk menjadi guru atau fasilitator di bidang pelajaran bahasa dan sastra Indonesia sebagai pendamping guru bahasa Indonesia. Bisa juga dengan memberikan waktu khusus untuk para sastrawan muda berbakat untuk memberikan pelajaran sastra.

Nah, kalau tidak segera digagas mulai sekarang, kapan lagi kita akan mampu melestarikan kesusastraan kita yang besar dan unik itu, serta siapa yang akan menggantikan generasi tua? Kiranya pelaksanaan musikalisasi puisi dan lomba baca puisi yang diadakan Balai Bahasa Banda Aceh pada tahun tahun-tahun terdahulu dapat membantu mendekatkan siswa dengan sastra.
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas