Rabu, 10 Juni 2026

Ribuan Santri Kumpul di Samalanga

Ribuan santri dan alumni Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga dari seluruh Aceh, sejak Jumat-Sabtu (19-20/4) kemarin berkumpul di Samalanga

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Ribuan Santri Kumpul di Samalanga
SERAMBI/FERIZAL HASAN
Para santri Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga, Bireuen, memadati stand bazar buku kawasan dayah tersebut, saat menghadiri Haul ke-24 Abon Abdul Aziz Mudi Mesjid Raya Samalanga, Sabtu (20/4) kemarin.
* Haul ke-24 Abon Abdul Aziz

 BIREUEN - Ribuan santri dan alumni Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga dari seluruh Aceh, sejak Jumat-Sabtu (19-20/4) kemarin berkumpul di Samalanga. Mereka bersama masyarakat luas lainnya, menghadiri berbagai kegiatan dalam rangka Haul ke-24 Abon Abdul Aziz, mantan pemimpin Dayah Mudi.

Pantauan Serambi kemarin, ribuan santri, alumni dayah Mudi Mesjid Raya, serta para pejabat dan masyarakat lainnya, memadati halaman dayah dan Masjid Poe Teumeuruhom yang berada dalam kompleks dayah. Kendaraan roda dua dan roda empat terlihat memenuhi lokasi parkir serta lahan-lahan kosong di kawasan tersebut. Keramaian terlihat di lokasi pameran (bazar) buku, kalender, pakaian muslimah, dan pernak-pernik atau cinderamata yang dijual di sejumlah stand.

Koordinator kegiatan, Tgk Sayed Mahyeddin kepada Serambi kemarin mengatakan, jumlah undangan yang disebarkan pada Haul ke-24 Abon Abdul Aziz tahun ini mencapai 20.000 undangan. Mereka terdiri dari alumni Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga, santri, wali santri, masyarakat umum, serta para undangan lainnya.    

Abah Sayed Mahyeddin yang didampingi Mukhlisuddin MA menambahkan, menurut rencana awal, kegiatan ini akan dihadiri Gubernur Aceh Zaini Abdullah. Namun, karena berhalangan, Gubernur mengirimkan perwakilan yakni, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Prof Syahrizal Abbas dan Kepala Kantor wilayah (Kanwil) Kementerian agama (Kemenag) Aceh Ibnu Sa’dan MPd.

Pada Haul ke-24 Abon Abdul Aziz tahun ini, digelar seminar Internasional yang mengusung tema, “Penerapan Syariat Islam di Aceh, Antara Harapan dan Kenyataan”. Seminar ini berlangsung Jumat (19/4) malam, dan dihadiri ribuan peserta dari kalangan ulama dayah se-Aceh, tokoh nasional, luar negeri, dan santriwan dan santriwati Dayah Mudi Mesjid Raya.

Selain seminar, panitia juga menggelar Mubahatsah Ulama se-Aceh yang membahas pandangan ulama tentang alih fungsi tanah wakaf dan kemampuan umrah. Dalam membahas alih fungsi tanah wakaf, peserta Mubahatsah sepakat bahwa masalah tanah wakaf kembali kepada mazhab Imam Syafii. Di mana

tanah wakaf yang diwakafkan untuk meunasah tidak boleh digunakan atau dialihfungsikan untuk masjid atau untuk bangunan lainnya.  Hal itu untuk memberi pemahaman kepada masyarakat tentang alih fungsi tanah wakaf. Sedangkan masalah kemampuan umrah tidak dibahas secara mendalam dalam mubahatsah tersebut.

Siang kemarin, ribuan santri, alumni Dayah Mudi Mesjid Raya, masyarakat dan para undangan, larut dengan doa dan zikir bersama untuk almarhum Abon Abdul Aziz bin Muhammad Saleh yang dilaksanakan di Masjid Poe Teumeuruhom. Kegiatan itu ditutup dengan kenduri atau makan bersama.(c38)

Pernyataan Dalam Seminar
SEMINAR tentang penerapan Syariat Islam merupakan wujud nyata bahwa kalangan dayah siap berkonstribusi dalam penerapan Syariat Islam di Aceh. Hasil seminar bisa dijadikan blueprint dalam pembangunan Syariat Islam di Aceh.
* Syeh H Hasanoel Bashri (Abu Mudi). Pemimpin Dayah Mudi Samalanga.

SYARIAT islam terkendala di antaranya karena psikologi masyarakat yang belum memahami subtansi Syariat Islam. Keberadaan Syariat Islam di bawah dua payung hukum, membuat pelaksanaannya belum bisa berjalan maksimal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyatukan persepsi antara semua kalangan tentang Syariat Islam di Aceh dan lintas sektoral.
* Prof Dr Syahrizal Abbas, Guru Besar Hukum Islam & Kadis Syariat Islam Aceh.

PERLU dilakukan Islamisasi Pendidikan di Aceh. Hilangkan dikotomi keilmuan. Kebijakan pemerintah harus dilandasi nilai syariat Islam yang merupakan kunci kemakmuran dan kesejahteraan Aceh. Yang menetang syariat Islam adalah mereka yang cinta dengan budaya korupsi dan KKN. Dalam Syariat Islam setiap pencuri akan dihukum dengan potong tangan. Libatkan ulama dalam merumuskan konsep syariat Islam di Aceh.
* Tgk H M Yusuf SSos (Tu Sop), Pemimpin Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb sekaligus pendiri Yayasan Dayah Bersaudara (Yadara).

DENGAN syariat Islam akan terwujud Aceh yang baldhatun tayyibatun wa rabbul ghafur. Sebagai nanggroe yang berpenduduk muslim dan memiliki otonomi khusus selayaknya penerapan Syariat Islam berjalan secara Kaffah. Perlu disatukan persepsi tentang konsep syariat Islam wahdat al-fikriyyah. Selanjutnya dalam muamalah terapkan sistem syariah.
* Tgk Khalidin Yakob PhD, aktivis muslim Australia, alumni Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga, juga pendiri Ashabul Kahfi Islamic Centre Sidney Australia.

SESEGERA mungkin perlu dilaksanakan oleh Dinas Syariat Islam adalah peninjauan ulang terhadap qanun Aceh yang  masih memiliki titik kelemahan. Lahirkan gampong percontohan syariat Islam. Siapkan Modul Syariat Islam yang konprehensif dan tetapkan pendekatan yang sesuai dalam penerapan Syariat Islam di Aceh.
* Nasir Djamil, Anggota DPR RI.(c38)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved