Rabu, 10 Juni 2026

Pendemo Hadiahi Gubernur Obat Kuat

Puluhan pendemo dari Koalisi Mahasiswa Darussalam menghadiahkan ‘obat kuat’ kepada Gubernur Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur

Tayang:
Editor: bakri

* 9 Bulan, Zikir belum Realisasi Janji

BANDA ACEH - Puluhan pendemo dari Koalisi Mahasiswa Darussalam menghadiahkan ‘obat kuat’ kepada Gubernur Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Muzakir Manaf dalam aksi damai di depan Kantor Gubernur Aceh, Selasa (23/4). Obat kuat berisikan tiga sachet Kuku Bima Ener-G dan uang seribu rupiah itu diterima Kepala Biro Ekonomi Setda Aceh, Sofyan SE di tengah sorak-sorai massa.

“Obat kuat ini sebagai energi tambahan kepada Gubernur Aceh untuk meningkatkan kinerja memenuhi janji-janji politik yang diucapkannya untuk rakyat Aceh,” teriak seorang orator saat menyerahkan obat kuat yang ditempelkan dalam sebuah kotak segi empat di depan Kantor Gubernur Aceh.

Aksi yang digerakkan mahasiswa dari Pemerintahan Mahasiswa (Pema) Unsyiah, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Tarbiyah IAIN, dan BEM Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry itu berjalan tertib meskipun di bawah penjagaan aparat keamanan.

Massa yang mengenakan seragam almamater dua perguruan tingggi terbesar di Aceh itu mulai berdatangan sekitar pukul 11.00 WIB menggunakan kendaraan bermotor. Sesaat kemudian massa membentuk barisan menuju Kantor Gubernur Aceh untuk menggelar orasi. Beberapa di antaranya membawa poster berutuliskan tuntutan dan sikap mahasiswa. Di antaranya, “21 Janji Hana Terealisasi, Wahai Pak Zikir Rakyat Menanti”; “Zikir, Mana Janji Manismu?”; “Rakyat Butuh Kesejahteraan”; “9 Bulan, Ah Sudah Berubah”; dan “Peugah Ubee Buet, Peubuet Lageena”.

Beberapa perwakilan massa melakukan orasi bergantian di tengah sorak-sorai suara yel-yel meminta Pemerintahan Zikir (Zaini-Muzakir) merealisasikan janji-janji yang pernah mereka ucapkan atau diucapkan tim suksesnya pada masa kampanye pilkada tahun 2012 lalu.

“Ada 21 janji yang diucapkan pemerintah Zikir, tapi sampai sekarang tidak satu pun yang terealisasi. Pemerintah Zikir telah membohongi rakyat Aceh,” teriak seorang orator lewat pengeras suara disambut yel-yel “Hidup Mahasiswa!”

Di sela-sela orasi, massa juga serempak menyanyikan lagu dengan lirik “Janji manis, janji manis Pak Gubernur... kami tagih hari ini,” hingga membuat suasana aksi makin hangat.

“Kita tidak ingin janji-janji yang muluk dan terkesan tidak masuk akal. Seperti menjadikan Aceh sama dengan Brunei dan Singapura. Tapi rakyat sekarang hanya ingin tindakan nyata dari pemerintah. Rakyat ingin hidup sejahtera,” kata Wakil Presiden Pema Unsyiah, Heri Tamlica.

Menurutnya, saat ini Aceh makin terpuruk menuju pada perpecahan karena ulah segelintir elite politik pemerintah yang hanya mementingkan kepentingan kelompok dan golongan. Indikasi perpecahan ini ditandai dengan mencuatnya isu pembentukan Provinsi ALA dan Abas.

Menurut Heri, semestinya Pemerintah Aceh mengedepankan kepentingan rakyat Aceh di atas segala-galanya.  “Sekarang lihat, datang ke pelosok-pelosok desa. Lihat kondisi mereka, lihat hidup mereka seperti apa? Mereka hidup di dalam gubuk-gubuk reot yang tidak layak huni. Kenapa ini tidak menjadi perhatian pemerintah,” sergahnya.

Heri menyebutkan saat ini elite-elite pemerintah sibuk dengan proyek yang hanya menguntungkan kelompok tertentu. “Kita takutkan sampai pemerintahan Zikir berakhir, tidak akan ada satu pun janji yang bisa mereka tepati,” ujar orator lainnya, Rano Fajri.

Menurut Rano, saat ini banyak rakyat Aceh yang hidup miskin tapi tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Bahkan hingga sembilan bulan usia pemerintahan Zikir, juga tidak ada tanda-tanda kondisi Aceh membaik.

Sementara itu, dalam pernyataan bersama Koalisi Mahasiswa Darussalam yang ditandatangani Muhammad Iqbal (Sekjen Pema), Muhammad Sufri (Gubernur BEMF Tarbiyah IAIN), Fakrurazi (Gubernur BEMF Syariah IAIN Ar-Raniry) menyebutkan, selama sembilan bulan Pemerintah Aceh berjalan tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan.

“Perintah sibuk dengan urusan-urusan yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Ada kesan Pemerintah Aceh hanya mengutamakan kepentingan kelompoknya di atas segalanya,” tulis Koalisi Mahasiswa Darussalam dalam pernyataan bersama.

Aksi sempat memanas saat massa meminta Gubernur Zaini menemui mereka. Namun, berdasarkan informasi staf Setda Aceh, Gubernur Zaini dan Wagub Aceh sedang tidak berada di tempat saat aksi berlangsung. Sehingga massa hanya ditemui Kepala Biro Ekonomi Setda Aceh Sofyan. Akhirnya ‘obat kuat’ untuk Gubernur dan Wakil Gubernur diterima oleh Sofyan.

Sementara Sofyan mengatakan pihaknya dapat memahami aksi yang dilancarkan mahasiswa. Namun, kata dia, untuk membangun Aceh lebih baik diperlukan kerja sama semua pihak. “Semua stakeholders harus dilibatkan. Termasuk kalangan mahasiswa dan perguruan tinggi,” ungkap Sofyan kepada wartawan menjelang aksi bubar. (sar)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved