Aman Belut
Aman Belut. Lelaki berkulit kuning langsat itu biasa di panggil demikian. Biasanya dia langsung menyahut dan kembali bertanya
Karya Deny Pasla
Aman Belut. Lelaki berkulit kuning langsat itu biasa di panggil demikian. Biasanya dia langsung menyahut dan kembali bertanya,”Ada apa Mas, memanggil saya? Apa ada sesuatu yang dapat saya bantu?” Aku suka menyuruh beliau untuk memijat seluruh tubuhku. Tangannya yang halus dengan jari-jari yang panjang spontan menjelajahi seluruh bagian belakangku, mulai dari pundak sampai dekat punggung selanjutnya menjalar ke betis dan ujung kaki.
Aman agaknya cukup terampil memainkan kedua telapak tangannya, menari-nari dengan irama tersendiri sesekali melakukan tekanan yang membuatku merasa kecanduan. Biasanya aku langsung rileks, nyaman, dan sampai tertidur pulas. Aman Belut merengangkan seluruh otot-otot yang kaku di sekujur tubuhku. Tetapi, siapa sangka kalau Aman Belut tidak pernah bercita-cita menjadi tukang kusuk keliling. Tadinya dia bercita-cita menjadi seorang polisi. Menurut Aman, menjadi seorang polisi sangat terhormat. Selain disegani para bandit, jadi polisi juga dapat mengayomi masyarakat, menegakkan kebenaran yang saat ini semakin jauh.
Di kampung Aman Belut tidak ada seorang polisi pun, malah yang banyak adalah pencuri. Ada juga seorang Hansip, tetapi profesi itu ditinggalkannya karena tak menghasilkan apa pun. Maling-maling di kampung Aman Belut tak pernah takut dengan yang namanya Hansip. Mereka hanya takut dengan seorang polisi. Tetapi sayang, cita-cita Aman Belut menjadi polisi gagal. Ia tidak tamat sekolah dasar dikarenakan ajaran ayahnya yang mengatakan untuk apa sekolah tinggi-tinggi. Tidak sekolah saja orang bisa hidup, bisa makan dan bisa berkeluarga. Yang penting mau bekerja.
Semula Aman Belut menolak anggapan ayahnya itu. Ia kepingin sekali bersekolah dan menjadi polisi seperti yang dilihatnya berjaga-jaga di kantor afdeling I. Dia melihat seorang polisi yang memiliki kumis tebal dengan sorot mata tajam dan suara besar ketika mengamankan para pencuri brondolan sawit yang tertangkap kemarin. Aman benar-benar terkesima melihat ketegasan sang polisi sehingga hasratnya untuk menjadi polisi sangat besar.
Sayang sekali karena ia tidak tamat SD, akhirnya memilih menjadi tukang kusuk. Alasan mau menjadi tukang kusuk karena ia tidak memiliki keahlian mencuri seperti Robin Hood, atau Husni Kasdut. Lagi pula ia takut kalau suatu waktu tertangkap justru malah memperparah kehidupannya kelak.
“Lebih baik menjadi tukang pijat seperti saat ini. Selain dapat menyenangkan hati orang banyak juga dapat duit,” katanya padaku seraya memainkan tangannya naik turun dari bahu sampai ke pinggang. Benar juga pikirku. Kalau saja semua orang jadi polisi, guru, dan tidak ada tukang kusuk, siapa pula yang dapat memijat dan menyenagkan hati orang lain.
“Tapi mengapa ada Belut di belakang namamu?” kataku agak heran. Aman justru tertawa panjang. “Kalau musim sawah dan musim hujan, biasanya pasaran tukang kusuk sedikit. Tak ada pesanan yang datang. Lagi pula saya tidak punya kendaraan sendiri. Kalau ada panggilan musim hujan saya agak malas. Alasannya, bayaran tukang kusuk ini relatif sekali. Lihat-lihat orangnya. Jadi, kita tidak bisa berharap banyak pengertian dari orang yang kita kusuk. Tetapi, ada juga yang baik hati mau memberi kita lebih. Ada juga yang pas-pasan. Jarang memang ada yang mempertimbangkan kalau kita mengeluarkan tenaga yang cukup besar selama dua jam,” ujar Aman Belut panjang lebar.
“Mengapa tidak pasang tarif biar semua orang tahu?”
“Rasanya tidak enak kalau kita pasang tarif, nanti dikira orang kita sombong.”
“Pertanyaan saya belum dijawab tadi,” kataku mengingatkannya. “Biasa kalau sepi pasaran saya mencari belut di sawah. Hasilnya juga lumayan, dapat menafkahi anak istri. Gini-gini saya punya istri dua, walaupun yang satu sudah saya ceraikan.”
“Kalau begitu hebat juga, apa ada khasiat belut sehingga Aman dapat beristri dua,” aku tertawa, diapun terbahak. “Bukan karena belut orang poligami. Ada juga karena hasrat, punya uang banyak, energi yang lebih. Lagi pula poligami itu tidak diharamkan selagi kita berlaku adil. Apa bapak punya niat?” selorohnya.
“Wah, tidak. Kalau saya pasang dua bisa-bisa saya tidur di pos ronda!” Aman Belut tertawa ngakak seraya tetap memainkan tangannya. Berbicara sambil dipijat Aman Belut memang tak menjemukan. Dia banyak berbicara tentang pengalamannya sehari-hari. Tentang keinginannya menjadi polisi. Tentang pencuri-pencuri di kampungnya yang pernah ditangkap dan dipenjara karena mencuri brondolan sawit. Padahal nilai brondolan itu tidak mahal. Mereka gunakan hanya untuk penganti bahan bakar.
“Makanya saya tidak mau jadi pencuri. Lebih baik jadi tukang kusuk keliling saja, “ aku Aman Belut.
“Pencuri kecil mudah ditangkap yang besar justru sulit. Kalau mau menjadi pencuri yang besar seperti para koruptor. Selain dapat uang banyak juga dapat menikmati hasilnya meski sudah dipenjara,” kataku menimpalinya.
“Kok, bisa begitu ya, pak?
“Mencuri itu juga harus punya ilmu, biar tidak mudah ditangkap.”