Citizen Reporter
Apam Ade di Kerala
SEJAK Rabu (24/4) hingga Selasa (30/4) saya berada di India, menghadiri undangan perkawinan anak Prof Dr John Kurien, kolega saya di International
SEJAK Rabu (24/4) hingga Selasa (30/4) saya berada di India, menghadiri undangan perkawinan anak Prof Dr John Kurien, kolega saya di International Collective Support of Fishworkers (ICSF) yang pascatsunami pernah bertugas di Banda Aceh.
Kami mendarat di Bandara Internasional Cochin, Kerala State, pada 24 April 2013. Karena sudah malam, saya bersama istri, Safriana Ibrahim, menginap di Geubri Palace Hotel, di District (Kabupaten) Ernakulam. Nama hotel “Geubri” dan nama kabupatennya “Kulam” mirip sekali dengan lema bahasa Aceh. Bahkan saya pikir pemilik hotel ini orang Aceh yang merantau ke Kerala. Tapi setelah saya selidiki, pemiliknya ternyata orang asli Kerala yang beragama Hindu.
Paginya, kami menuju stasiun kereta api arah ke Calicut. Sambil menunggu kereta api tiba, saya jep kuphi (minum kopi) di warung dekat stasiun. Namanya “Kopi Keedai Angamali”. Lagi-lagi, nama kedai kopi itu hampir sama dengan di Aceh. Bedanya, di Aceh disebut keudee kuphi. Sekali lagi saya kaget, saat saya temukan di daftar menu kedai kopi itu tertulis “puttu” dan “appam”. Saya pun memesan kopi, putu, dan apam, karena ingin merasakan apakah putu dan apam India sama dengan putu dan apam Aceh.
Ternyata, putunya sudah habis. Sayang, pelayan tak bisa berbahasa Inggris. Dia hanya menyebutkan, Puttu anne appam ade. Saya bingung apa artinya. Bersuyukur ada orang tua yang berdiri di samping saya, namanya KV Parameswaran (59) yang menjelaskan, “No more puttu, only appam available.” Putu tak ada lagi, hanya apam yang masih tersedia.
Akhirnya saya mengerti, lalu saya bersama Parameswaran ngopi bareng sambil saling memperkenalkan diri. Dia sepertinya paham sewaktu saya katakan berasal dari Aceh. Dia terharu karena Aceh terkenal oleh konflik dan bencana tsunami, di samping memang dulunya orang-orang Kerala, khususnya kaum Malabar, banyak sekali yang berimigrasi ke Aceh.
Kami pun cepat akrab. Mungkin Pak Tua ini pikir saya yang berkulit gelap ini juga keturunan Karala.
Tak lama kemudian kereta api tiba, bergegas kami naik menuju Calicut, negeri kaum Malabar. Waktu yang ditempuh dari Ernakulam ke Calicut sekitar empat jam. Saya lihat ke kiri dan kanan. Tampak penduduk wajahnya tidak jauh beda dengan wajah kaum pesisir Aceh.
Tidak terasa kami sudah menempuh empat jam perjalanan memasuki Calicut. Alhamdulillah, Prof Dr John Kurien yang dua tahun lebih menetap di Banda Aceh, sudah menunggu saya di stasiun. Dengan berkelakar dia ucapkan, “Welcome home, you see all these peoples are look like Acehness.” Saya langsung merasa tidak asing berada di negeri Indira Gandhi ini, karena orang-orang di sini mirip sekali dengan orang Aceh. Apalagi dari 33.387.677 penduduknya, hampir 40 persen beragama Islam.
Setelah saya check-in di hotel langsung saya menuju masjid untuk shalat Magrib. Saya pikir, sebelum menghadiri pesta perkawinan tersebut, saya masih bisa “curi-curi waktu” untuk berpetualang mencari hal-hal yang ada kaitannya dengan Aceh. Maklum, menurut sejarah, Calicut Malabar, negara bagian Kerala India ini, merupakan negeri moyangnya orang Aceh.
Esok paginya, saya sempatkan waktu mengunjungi shipyard (galangan) kapal kayu yang kapal-kapal pesiarnya diorder oleh para syeikh dari Qatar. Sejauh yang saya amati, hebat sekali kemampuan kaum malabaris ini membuat kapal. Wajar kalau Sultan Aceh dulu menyewa mareka untuk membuat kapal besar terkenal bernama Malabar.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com