Jumat, 6 Maret 2015

Cekgu Dihabisi Preman Politik

Kamis, 2 Mei 2013 11:49 WIB

SIGLI - Hasil penyelidikan sementara oleh pihak kepolisian yang menyebutkan kematian T Muhammad Zainal Abidin alias Cekgu (30), kader Partai Nasional Aceh (PNA) Pidie terkait kasus sabu-sabu memicu kemarahan keluarga. “Penembakan abang saya dilakukan preman politik,” tandas T Musliadi (29), adik kandung korban.

Pernyataan yang menyiratkan kekecewaan itu disampaikan T Musliadi kepada Serambi, Rabu (1/5) menanggapi keterangan Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Polisi Gustav Leo pada jumpa pers di Mapolres Pidie, Selasa (30/4) sore.

Gustav didampingi Kapolres Pidie, AKBP Dumadi SStmk mengatakan, polisi sudah menangkap dua orang tersangka penembak Cekgu, yaitu Munir (33), warga Bungie, Kecamatan Simpang Tiga dan Khairul Ansari (34), warga Gampong Didoh, Kecamatan Mutiara Timur. “Hasil pemeriksaan polisi, korban ditembak tiga kali saat di dalam mobil Avanza BK 1690 QG. Ini kriminal murni. Isu-isu yang sempat dikaitkan dengan partai tidak ada. Kasus ini erat kaitannya dengan narkotika jenis sabu-sabu,” kata Gustav Leo. Ditanya apa motif pembunuhan tersebut, Gustav mengatakan masih dalam pengembangan.

“Kasus itu masih dalam pengembangan polisi. Kita coba melakukan pengungkapan siapa tahu ada motif lain. Untuk sementara kami tangani masalah sabu,” lanjut Gustav.

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keluarga besar Cekgu, sebagaimana disuarakan T Musliadi selaku adik kandung almarhum. “Polisi harus membuktikan jika abang saya terlibat sabu dengan alat bukti. Jangan main tuduh saja hanya karena abang saya sudah meninggal,” kata Musliadi, warga Gampong Waido, Kecamatan Peukan Baro, Pidie.

Menurut Musliadi, pihak keluarga menilai ada upaya pengalihan isu politik ke kasus kriminal murni (sabu-sabu) dan terkesan penyidik mengaburkan fakta

di balik meninggalnya korban. “Ketika dicermati, alur cerita kejadian yang dibeberkan polisi tidak sinkron dengan fakta. Harusnya peristiwa itu diikuti dari awal yaitu sejak masa pilkada. Jangan ditutupi kejadian yang sebenarnya yang berakibat aktor utamanya tidak tersentuh hukum,” ujar Musliadi. “Pihak keluarga berkeyakinan kejadian ini terkait politik, tidak ada hubungan dengan sabu. Penembakan abang saya dilakukan preman politik yang seharusnya diseret ke ranah hukum,” lanjutnya.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas