A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Cekgu Dihabisi Preman Politik - Serambi Indonesia
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 3 September 2014
Serambi Indonesia

Cekgu Dihabisi Preman Politik

Kamis, 2 Mei 2013 11:49 WIB
* Pernyataan Keluarga Tanggapi Keterangan Polisi

SIGLI - Hasil penyelidikan sementara oleh pihak kepolisian yang menyebutkan kematian T Muhammad Zainal Abidin alias Cekgu (30), kader Partai Nasional Aceh (PNA) Pidie terkait kasus sabu-sabu memicu kemarahan keluarga. “Penembakan abang saya dilakukan preman politik,” tandas T Musliadi (29), adik kandung korban.

Pernyataan yang menyiratkan kekecewaan itu disampaikan T Musliadi kepada Serambi, Rabu (1/5) menanggapi keterangan Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Polisi Gustav Leo pada jumpa pers di Mapolres Pidie, Selasa (30/4) sore.

Gustav didampingi Kapolres Pidie, AKBP Dumadi SStmk mengatakan, polisi sudah menangkap dua orang tersangka penembak Cekgu, yaitu Munir (33), warga Bungie, Kecamatan Simpang Tiga dan Khairul Ansari (34), warga Gampong Didoh, Kecamatan Mutiara Timur. “Hasil pemeriksaan polisi, korban ditembak tiga kali saat di dalam mobil Avanza BK 1690 QG. Ini kriminal murni. Isu-isu yang sempat dikaitkan dengan partai tidak ada. Kasus ini erat kaitannya dengan narkotika jenis sabu-sabu,” kata Gustav Leo. Ditanya apa motif pembunuhan tersebut, Gustav mengatakan masih dalam pengembangan.

“Kasus itu masih dalam pengembangan polisi. Kita coba melakukan pengungkapan siapa tahu ada motif lain. Untuk sementara kami tangani masalah sabu,” lanjut Gustav.

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keluarga besar Cekgu, sebagaimana disuarakan T Musliadi selaku adik kandung almarhum. “Polisi harus membuktikan jika abang saya terlibat sabu dengan alat bukti. Jangan main tuduh saja hanya karena abang saya sudah meninggal,” kata Musliadi, warga Gampong Waido, Kecamatan Peukan Baro, Pidie.

Menurut Musliadi, pihak keluarga menilai ada upaya pengalihan isu politik ke kasus kriminal murni (sabu-sabu) dan terkesan penyidik mengaburkan fakta

di balik meninggalnya korban. “Ketika dicermati, alur cerita kejadian yang dibeberkan polisi tidak sinkron dengan fakta. Harusnya peristiwa itu diikuti dari awal yaitu sejak masa pilkada. Jangan ditutupi kejadian yang sebenarnya yang berakibat aktor utamanya tidak tersentuh hukum,” ujar Musliadi. “Pihak keluarga berkeyakinan kejadian ini terkait politik, tidak ada hubungan dengan sabu. Penembakan abang saya dilakukan preman politik yang seharusnya diseret ke ranah hukum,” lanjutnya.

Pihak keluarga juga menemukan fakta lainnya ketika jenazah korban dimandikan. Diduga kuat korban terlebih dahulu mengalami penyiksaan berat dengan cara diikat kedua tangannya. “Pada jasad abang saya ditemukan bekas lembam membiru, seperti di bagian hidung dan dada yang diduga akibat pukulan benda keras. Makanya salah kalau dikatakan abang saya langsung ditembak. Polisi harus mengungkap fakta sebenarnya demi penegakan hukum,” demikian Musliadi.

Seperti diketahui, T Muhammad Zainal Abidin alias Cekgu yang tercatat sebagai salah seorang kader PNA Pidie tewas ditembak secara sadis. Jasad Cekgu ditemukan di dalam mobil Avanza BK 1690 QG miliknya di aliran Krueng Tiro, di pinggir lapangan sepakbola Pertamina, Gampong Sagoe, Kemukiman Beureueh, Kecamatan Mutiara, Jumat 26 April 2013 menjelang subuh sekira pukul 04.00 WIB.

Dugaan bahwa pembunuhan Cekgu terkait politik juga pernah disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasional Aceh (DPP PNA), Irwansyah. “Dia mantan kombatan GAM yang kini bergabung dengan PNA. Dia salah seorang kader terbaik kita dan pada bulan Mei tahun ini dijadwalkan akan diangkat (dipilih) sebagai Ketua Satgas PNA Pidie,” kata Irwansyah kepada wartawan di sela-sela melayat ke rumah duka, Jumat 26 April 2013.

Irwansyah yang lebih dikenal dengan panggilan Muksalmina menegaskan, meninggalnya Cekgu merupakan kasus teror lanjutan yang menimpa PNA dan kadernya. Dia menyerukan agar melawan aksi teror menjelang pemilu legislatif 2004. “Ini merupakan teror yang dilakukan preman politik, PNA harus menang melawan teror tersebut,” katanya.(naz)

PNA: Polisi Terlalu Cepat Menyimpulkan

KETUA Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasional Aceh (DPP-PNA), Irwansyah mengatakan, pihaknya mengapresiasi kerja cepat personel Polda Aceh dan Polres Pidie menangkap kedua tersangka pembunuh T Muhammad Zainal Abidin alias Cekgu, kader PNA Pidie. “Tetapi sepertinya polisi terlalu cepat mengambil kesimpulan perkara ini berkaitan dengan sabu-sabu tanpa ada kaitan partai atau politik, sebelum menyelidiki lebih dalam,” kata Irwansyah kepada Serambi di Banda Aceh, Rabu (1/5).

Menurut Irwansyah, sebelumnya polisi juga pernah mencurigai kematian Cekgu terkait proyek. Karena itu polisi harus menyelidiki secara lebih mendalam. “PNA telah membentuk tim investigasi dan akan menginvestigasi kasus kematian Cekgu dengan teknik kami sendiri,” katanya.

Dikatakan Irwansyah, PNA belum bisa yakin penembakan itu terkait sabu-sabu, sebagaimana kesimpulan polisi. Selain tak ada bukti tentang itu--kecuali pengakuan kedua tersangka--polisi juga tak menemukan barang bukti yang menguatkan indikasi mereka pesta sabu sebelum kejadian itu. “Nah, kalau memang dikatakan mereka pesta sabu untuk apa kemudian ditembak. Ini sangat mengada-ngada,” ujar Irwansyah menanggapi keterangan Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Gustav Leo pada konferensi pers di Mapolres Pidie, Selasa (30/4). “Jika nantinya hasil investigasi kami mengindikasikan penembakan itu terkait politik di Aceh menjelang Pemilu 2014, kami akan kirim hasilnya ke Mabes Polri, Menkopolhukam, dan pihak terkait lainnya, terutama di tingkat pusat untuk ditindaklanjuti,” ujar Irwansyah yang akrab dipanggil Muksalmina.

Begitu pun, lanjut Irwansyah, mereka masih tetap percaya untuk pengusutan dan pengembangan kasus ini kepada pihak kepolisian di Aceh. Irwansyah berharap polisi terus memperdalam pengusutan kasus ini dengan memeriksa istri atau keluarga korban. Apalagi sebelumnya, istri korban, Rini Handayani (29) mengungkapkan suaminya pernah diancam bunuh oleh orang tak dikenal (OTK) melalui telepon dan nyawanya dibanderol Rp 500 juta.

“Mengutip pengakuan istrinya, Cekgu pernah diancam bunuh ketika pilkada Gubernur Aceh dan Pilkada Bupati Pidie. Begitu juga dialog di sebuah warkop di Gampong Waido sebelum Cekgu bergegas pergi dan kemudian ditemukan tewas. Mestinya semua itu harus diperdalam oleh polisi,” pungkas Irwansyah.(sal)

Kerja Polisi belum Selesai

KABID Humas Polda Aceh, Kombes Pol Gustav Leo mengatakan kerja polisi untuk mengusut kasus kematian T Muhammad Zainal Abidin alias Cekgu belum selesai, dan hingga Rabu (1/5) polisi masih terus melakukan pengembangan untuk mengungkap motif pembunuhan tersebut.

“Sedangkan keterkaitan dengan sabu-sabu, itu masih sebatas keterangan kedua tersangka yang mengaku mengundang Cekgu untuk pesta sabu-sabu. Hal ini juga diperkuat isi sms tersangka Munir yang mengundang Cekgu untuk hal itu, apalagi Munir selama ini memang DPO kasus sabu-sabu,” kata Gustav. “Tetapi polisi tidak serta merta mempercayai keterkaitan ini, termasuk benar atau tidak. Melainkan terus melakukan pengembangan untuk mengungkap motif di balik penembakan ini,” lanjut Gustav menjawab Serambi ketika dimintai tanggapannya atas reaksi pihak keluarga yang menilai polisi berusaha mengalihkan isu politik ke kriminal.

Menurut Kabid Humas Polda Aceh, jika selama ini polisi belum memeriksa keluarga korban, terutama istrinya, bukan karena polisi merasa kurang perlu dengan keterangan dari istri atau keluarga korban, melainkan masih menghormati keluarga yang masih berduka atas musibah ini. “Keterangan istri korban juga sangat kami perlukan sebagai bahan evaluasi. Insya Allah, polisi akan mengungkap kasus ini dengan teknik penyidikan,” demikian Gustav Leo.(sal)
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
186083 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas