A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Ibukota Pindah, Mengapa tidak? - Serambi Indonesia
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 27 Juli 2014
Serambi Indonesia

Ibukota Pindah, Mengapa tidak?

Selasa, 7 Mei 2013 08:42 WIB
Kota Jantho sebagai ibukota Kabupaten Aceh Besar sudah berumur 29 tahun. Usia itu harusnya sudah “cukup dewasa” untuk menjadi satu pusat pemerintahan yang mampu memberi pelayanan maksimal kepada warga Aceh Besar. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Selain belum mampu memberikan pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat, keberadaan Kota Jantho ternyata juga dipersoalkan. Wacana pemindahan ibukota Aceh Besar pun kini bergulir bak bola salju.

Adalah Ketua DPRK setempat, Tgk Saifuddin yang mengimbau Pemkab Aceh Besar untuk berani mengambil langkah-langkah strategis dan tegas. Langkah yang ia maksudkan adalah memindahkan ibukota kabupaten dari Kota Jantho, ke tempat lain yang lebih strategis dan terjangkau seluruh warga Aceh Besar.

Dalam Sidang Istimewa HUT Kota Jantho, Saifuddin mengungkapkan, untuk satu kota yang telah berumur 29 tahun, seharusnya fasilitas di Kota Jantho sudah sempurna dan memenuhi syarat sebagai ibukota kabupaten. Namun, Jantho bagai jalan di tempat hampir 30 tahun.

Dengan fakta demikian, pimpinan DPRK itu secara lantang meminta ibukota Aceh Besar dipindah. Ini bukan basa-basi. Ia kemukakan enam indikator yang mendukung wacana pemindahan ibukota kabupaten ini. Pertama, letak geografis Kota Jantho sebagai ibukota terlalu marginal dengan beberapa kecamatan dalam wilayah Aceh Besar. Kedua, penetapan masterplan dan tata ruang yang kurang tepat. Ketiga, belum optimalnya transportasi umum ke Kota Jantho. Keempat, belum adanya investor yang tertarik berinvestasi di Kota Jantho. Kelima, belum optimalnya penyediaan sarana dan prasarana, termasuk pembukaan akses antarkabupaten. Dan, keenam, belum optimalnya pembangunan fasilitas pemerintah yang tersedia di Kota Jantho.

Wacana itu segera menjadi bola salju. Mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Antara lain Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh Besar mendukung wacana memindahkan ibukota kabupaten tersebut ke lokasi strategis yang mudah dijangkau masyarakat banyak. Jantho terlalu jauh dijangkau umumnya warga Aceh Besar. Apalagi kabupaten ini sangat luas. “Jika nanti dipindah, meski warga Pulo Aceh tetap harus menyeberang laut, tapi tak terlalu jauh lagi untuk jalan darat hingga sampai ke ibukota.”

Bupati Aceh Besar, Mukhlis Basyah, juga tak menolak wacana itu. Ia katakan, kalaupun ibukota dipindah, maka pertimbangannya semata-mata adalah untuk memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat, misalnya untuk warga Kecamatan Lhong, Leupung, Mesjid Raya, dan beberapa kecamatan lainnya. “Selain itu, untuk menghindari terjadinya pemekaran Kabupaten Aceh Besar menjadi dua kabupaten seperti yang selama ini disuarakan beberapa kalangan masyarakat. “

Ya, kita sependapat dengan wacana yang sudah berkembangan serta pendapat-pendapat yang menyertainya. Cuma saja, jika pemindahan ibukota itu kan tidak bisa seperti membalik telapak tangan. Ada proses yang panjang dengan masa transisi yang lama pula.

Yang lebih penting sekarang sebetulnya adalah memberikan kemudahan bagi pelayanan masyarakat. Untuk warga yang terlalu jauh dengan Jantho harus dibuka unit-unit pelayanan khusus hingga mereka tak perlu jauh-jauh ke ibukota. Yang jelas, wacana pemindahan itu selain akan mendapat banyak dukungan, yang tak setuju juga tidak sedikit. Maka, sekali lagi, pertimbangannya harus matang, cerdas, dan tidak emosional.
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas