Sabtu, 28 Februari 2015
Home » Opini

Menyikapi Khilafiah

Jumat, 10 Mei 2013 09:24 WIB

KHILAF dan ikhtilaf secara harfiah (literally) berarti perbedaan, perselisihan, dan pertentangan (AW Munawwir, Kamus al-Munawwir, hlm. 363). Khilafiah berarti masalah-masalah fiqh yang diperselisihkan, dipertentangkan, diperdebatkan status hukumnya di kalangan ulama atau fuqaha‘ akibat dari pemahaman dan penafsiran mereka terhadap nash yang masih zhanni dilalah-nya maupun hasil ijtihad dalam masalah-masalah yang belum ditunjuki nash secara langsung.

Masalah khilafiah sudah ada dan muncul di zaman sahabat, jadi bukan masalah baru dan aneh. Khilafiah itu dalam perkembangannya semakin banyak dan meluas di kalangan umat Islam pada masa-masa berikutnya hingga zaman sekarang. Khilafiah terjadi hampir dalam semua bidang, baik dalam soal politik, akidah, tasawuf, kalam, dan juga dalam lapangan fiqh.

Namun perlu diingatkan di sini agar tidak salah persepsi, bahwa khilafiah terjadi pada wilayah-wilayah zhanni, baik zhani dilalah maupun zhanni wurud yang memungkinkan terjadi perbedaan interpretasi, pemahaman dan pendapat antara satu ulama dengan yang lain. Masing-masing dapat menunjukkan sandaran hujjah-nya secara cukup meyakinkan.

Sementara pada persoalan (ibadah mahdhah) yang sudah terang tidak ada sandaran hukumnya, maupun praktik ulama salaf as-saleh, hakikatnya adalah bid’ah (innovation) dan bukan khilafiah lagi.

 Cukup realistis
Di dunia fiqh terdapat sebuah ungkapan, barang siapa yang tidak mengenal khilaf maka hakikatnya ia belum mengerti fiqh. Ini adalah sebuah ungkapan yang tidak berlebihan dan cukup realistis. Jangankan antar mazhab, dalam satu mazhab pun terdapat dua atau lebih pendapat ulama tentang hukum suatu permasalahan. Sehingga di belakangnya ada ulama yang merasa terpanggil untuk menentukan mana yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat itu. Kelompok ulama ini lazim disebut sebagai mujtahid tarjih.

Dalam mazhab Hanafi misalnya terdapat pendapat Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani. Ketiganya tak jarang terlibat dalam perbedaan pendapat dalam satu masalah. Demikian pula yang terdapat dalam mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sering dalam satu masalah dijumpai beberapa pendapat yang berbeda-beda, ada qaul yang dianggap masyhur dan syadz. Sebuah keniscayaan pula di dalam mazhab Syafi’i sendiri terdapat dua pendapat yaitu qaul qadim (sewaktu ia berada di Irak) dan qaul jadid (sewaktu ia berada di Mesir).

Melihat fakta seperti itu, kiranya bisa ditegaskan bahwa perbedaan pendapat pada umumnya, dan perbedaan dalam urusan fiqh pada khususnya merupakan sebuah keniscayaan yang tidak perlu dan mustahil untuk dihilangkan. Perbedaan telah ada, saat ini juga ada dan kedepan pun tentunya juga akan selalu ada. Maka pemikiran ataupun seruan maupun usaha untuk menyatukan umat Islam dalam arti satu pemahaman dan penafsiran dalam hukum agama adalah seruan yang kurang realistis walau secara normatif patut didukung.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas