• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 20 September 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Menyikapi Khilafiah

Jumat, 10 Mei 2013 09:24 WIB
Oleh Abdul Gani Isa

KHILAF dan ikhtilaf secara harfiah (literally) berarti perbedaan, perselisihan, dan pertentangan (AW Munawwir, Kamus al-Munawwir, hlm. 363). Khilafiah berarti masalah-masalah fiqh yang diperselisihkan, dipertentangkan, diperdebatkan status hukumnya di kalangan ulama atau fuqaha‘ akibat dari pemahaman dan penafsiran mereka terhadap nash yang masih zhanni dilalah-nya maupun hasil ijtihad dalam masalah-masalah yang belum ditunjuki nash secara langsung.

Masalah khilafiah sudah ada dan muncul di zaman sahabat, jadi bukan masalah baru dan aneh. Khilafiah itu dalam perkembangannya semakin banyak dan meluas di kalangan umat Islam pada masa-masa berikutnya hingga zaman sekarang. Khilafiah terjadi hampir dalam semua bidang, baik dalam soal politik, akidah, tasawuf, kalam, dan juga dalam lapangan fiqh.

Namun perlu diingatkan di sini agar tidak salah persepsi, bahwa khilafiah terjadi pada wilayah-wilayah zhanni, baik zhani dilalah maupun zhanni wurud yang memungkinkan terjadi perbedaan interpretasi, pemahaman dan pendapat antara satu ulama dengan yang lain. Masing-masing dapat menunjukkan sandaran hujjah-nya secara cukup meyakinkan.

Sementara pada persoalan (ibadah mahdhah) yang sudah terang tidak ada sandaran hukumnya, maupun praktik ulama salaf as-saleh, hakikatnya adalah bid’ah (innovation) dan bukan khilafiah lagi.

 Cukup realistis
Di dunia fiqh terdapat sebuah ungkapan, barang siapa yang tidak mengenal khilaf maka hakikatnya ia belum mengerti fiqh. Ini adalah sebuah ungkapan yang tidak berlebihan dan cukup realistis. Jangankan antar mazhab, dalam satu mazhab pun terdapat dua atau lebih pendapat ulama tentang hukum suatu permasalahan. Sehingga di belakangnya ada ulama yang merasa terpanggil untuk menentukan mana yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat itu. Kelompok ulama ini lazim disebut sebagai mujtahid tarjih.

Dalam mazhab Hanafi misalnya terdapat pendapat Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani. Ketiganya tak jarang terlibat dalam perbedaan pendapat dalam satu masalah. Demikian pula yang terdapat dalam mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sering dalam satu masalah dijumpai beberapa pendapat yang berbeda-beda, ada qaul yang dianggap masyhur dan syadz. Sebuah keniscayaan pula di dalam mazhab Syafi’i sendiri terdapat dua pendapat yaitu qaul qadim (sewaktu ia berada di Irak) dan qaul jadid (sewaktu ia berada di Mesir).

Melihat fakta seperti itu, kiranya bisa ditegaskan bahwa perbedaan pendapat pada umumnya, dan perbedaan dalam urusan fiqh pada khususnya merupakan sebuah keniscayaan yang tidak perlu dan mustahil untuk dihilangkan. Perbedaan telah ada, saat ini juga ada dan kedepan pun tentunya juga akan selalu ada. Maka pemikiran ataupun seruan maupun usaha untuk menyatukan umat Islam dalam arti satu pemahaman dan penafsiran dalam hukum agama adalah seruan yang kurang realistis walau secara normatif patut didukung.

Dewasa ini sekelompok orang yang oleh Syekh Yusuf al-Qardhawi disindir dengan sebutan neo Zhahiri menyerukan atau mendakwakan diri bahwa mereka sanggup menyatukan umat dalam satu pemahaman atau pendapat asal kembali mengamalkan Alquran dan Sunnah yang tentu saja dipahami dan ditafsirkan menurut kelompok mereka.

Mereka menolak dan bahkan menyerang keberadaan imam-imam mazhab dan para pengikutnya serta kelompok lain yang tidak seide. Mereka mengecam taqlid (imitation) yang dilakukan oleh orang lain, ironisnya dalam waktu yang bersamaan mereka juga melakukan taqlid pada ulama/ustaz yang diikutinya. Mereka mengajak meninggalkan mazhab empat namun tanpa mereka sadari bahwa pada dasarnya mereka mengajak untuk mengikuti ‘mazhab kelima’ yang diciptakan kelompoknya.

Karena perbedaan adalah sesuatu yang alamiah dan manusiawi, dengan kata lain perbedaan adalah sunnatullah yang tidak akan berubah dan diubah oleh sang Khaliq, maka yang diperlukan di sini sebenarnya bukan usaha untuk menyatukan ke dalam satu pendapat, namun bagaimana menjadikan keragaman pendapat itu sebagai blessing bagi umat dan dapat disikapi secara dewasa.

Perbedaan pendapat dalam masalah furu’ merupakan rahmat, dan orang yang terlibat di dalam perbedaan ini termasuk ahlul rahmat. Sebuah hadis yang cukup terkenal yang dijumpai dalam Kitab al-Jami’ ash-Shaghir karya as-Suyuthi, Nabi saw bersabda: “Ikhtilaf umatku adalah merupakan sebuah rahmat” (HR. Baihaqi).

Syekh Yusuf al-Qardhawi mengomentari hadis tersebut dengan mengatakan bahwa hadis itu cukup masyhur di tengah-tengah masyarakat, namun tidak memiliki sanad yang jelas, akan tetapi dari segi matan ia mensahihkannya. (Yusuf al-Qardhawi, Ash-Shahwah al-Islamiyyah, tt. hlm. 70).

Menurut hemat penulis, maksud atau terjemah hadis tersebut perlu disisipkan dengan kata ‘seharusnya’ sehingga berbunyi: “Perbedaan pendapat di kalangan umatku (seharusnya menjadi) rahmat. Mengapa demikian, karena dalam kenyataan tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan pendapat tak selamanya atau tidak selalu mendatangkan rahmat.

Perbedaan pendapat juga sering menjadi laknat, adzab, perpecahan dan permusuhan, lebih-lebih perbedaan pendapat di bidang politik. Jadi semestinya yang perlu disadari dan dipahami adalah, perbedaan semestinya mendatangkan rahmat, bukan mendatangkan adzab atau laknat. Na’udzu billah!

 Menjadi rahmat
Perbedaan yang ada menjadi rahmat, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dikembangkan terutama oleh pihak-pihak yang terlibat dalam perbedaan itu yakni sikap-sikap sebagai berikut:

Pertama, menghindari truth claim (klaim bahwa kebenaran hanya ada pada kelompoknya sendiri) sepihak. Merasa paling benar sendiri seharusnya dihindari dalam soal-soal khilafiyah, paling tinggi cukup kita merasa benar, tidak perlu sampai merasa paling benar;

Kedua, memahami hakikat perbedaan atau khilafiyyah dengan baik serta mencontoh adab dan etika yang dicontohkan oleh para imam dalam menghadapi perbedaan pendapat itu. Juga perlu mempelajari sejarah kemunculan mazhab-mazhab, situasi historis dan setting social yang melingkupi mazhab atau munculnya sebuah pemikiran. Dengan mengetahui dan memahami hal-hal tersebut di atas, orang akan lebih arif dan bijak dalam menyikapi adanya perbedaan pendapat itu;

Ketiga, membiasakan mempelajari suatu masalah dari berbagai aliran atau mazhab maupun sudut pandang yang dipakai. Juga mempelajari bagaimana kerangka berpikir dan model pendekatan yang mereka gunakan mengapa mereka sampai pada pendirian seperti itu. Model kajian fiqh secara perbandingan tentu memiliki kontribusi yang besar untuk ini, dan;

Keempat, bersikap terbuka dan toleran serta tidak fanatik, ta’asub dan eksklusif. Siap dialog dan diskusi serta tidak menutup diri. Biasanya aliran atau kelompok yang dicap ‘sesat’ salah satu cirinya adalah bersikap eksklusif dalam arti menutup diri dan tidak terbuka ke dunia luar, fanatik, tidak toleran dan mudah menyalahkan, menyesatkan atau mengkafirkan kelompok lain. Wallahu a’lamu bish shawab.

* Abdul Gani Isa, Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
189073 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas