Warga Aceh Timur Ancam Bunuh Gajah
Konflik satwa-manusia semakin tak terkendali
* Seekor Gajah Mati Kesetrum di Geumpang
* Gajah Aceh Jaya Serang Manusia
IDI – Konflik satwa-manusia semakin tak terkendali. Di Aceh Timur, warga Kecamatan Rantau Panjang, Kecamatan Peureulak berdelegasi DPRK Aceh Timur meneriakkan ancaman akan menembak atau meracun satwa tersebut jika pemerintah tak mampu mengatasinya. Sedangkan di Geumpang, seekor hewan bertubuh jumbo itu ditemukan mati kesetrum. Di Gampong Tuwi Kareug, Aceh Jaya seorang warga diserang Po Meurah.
Dari Aceh Timur dilaporkan, serombongan besar warga dari Rantau Panjang, Kecamatan Peureulak berdelegasi ke DPRK Aceh Timur, Jumat (10/5). Di hadapan anggota dewan, mereka menyatakan tak mampu lagi bersabar menghadapi serangan gajah. Mereka mengancam menembak atau membunuh hewan dilindungi itu jika kepentingan masyarakat tak mampu diamankan oleh pemerintah.
Wakil Ketua Komisi B DPRK Aceh Timur, Tgk Sulaiman Hamzah mampu meredam amarah warga dengan menjanjikan akan membawa warga dan masalah yang dihadapi ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. “Kita harus cari solusi terbaik tanpa harus membunuh satwa dilindungi itu,” kata Tgk Sulaiman.
Tgk Sulaiman berharap kepada masyarakat melalui keuchik untuk mengirim surat ke bupati dengan rekomendasi camat, kapolsek, serta danramil. Berdasarkan surat itu, bupati menyurati BKSDA Aceh untuk penyelesaian konflik gajah-manusia yang kian marak.
Mati kesetrum
Di kawasan Blang Gajah Gampong Bangkeh, Kecamatan Geumpang, Pidie, Kamis (9/5) ditemukan seekor gajah jantan berumur sekitar 10 tahun mati yang diduga akibat kesetrum. Sumber listrik yang membunuh hewan dilindungi itu dilaporkan dari kabel listrik di kolam ikan lele milik warga gampong setempat.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Pidie, Syarkawi yang ditanyai Serambi mengatakan belum mengetahui penyebab pasti matinya gajah yang ditemukan warga di Gampong Bangkeh. “Belum bisa dipastikan akibat kesetrum kendati ditemukan kabel listrik di kaki depan hewan itu. Pihak BKSDA Aceh telah menurunkan tim ke Geumpang untuk mencari tahu penyebabnya,” kata Syarkawi.
Koordinator Polhut BKSDA Aceh, Zulkifli, kepada Serambi mengatakan, tim BKSDA sedang melakukan autopsi bangkai gajah di Gampong Bangkeh. “Tim membelah organ tubuh gajah itu. Tujuannya untuk mengambil jantung, ginjal dan usus yang akan dibawa ke Banda Aceh untuk penelitian. “Dugaan sementara gajah itu mati akibat kesetrum tetapi kabel listrik yang dipasang warga bukan untuk tujuan membunuh gajah,” kata Zulkifli.
Serang menusia
M Yatim (50), warga Desa Tuwi Kareung, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya, Jumat (10/5) sekitar pukul 01.00 WIB dini hari diserang seekor gajah liar di sawah ketika korban berada dalam gubuknya. Korban berhasil lolos setelah sempat melakukan perlawanan beberapa saat dalam kegelapan malam.
Keuchik Tuwi Kareung, Amiruddin Salam kepada Serambi, Jumat (10/5) mengatakan, malam itu, sebagaimana biasanya, M Yatim menjaga padi yang baru siap dipanen. Namun, tanpa disangka, ketika M Yatim sedang tertidur pulas, gajah liar datang ke gubuknya, menyerbu padi hasil panen.
Serangan itu membuat gubuk berguncang hebat dan M Yatim terbangun. Korban kaget ketika melihat belalai gajah menyambar goni padi. Secepatnya M Yatim menarik parang dan menebas belalai gajah yang hampir membelit tubuhnya.
Tebasan parang diperkirakan tepat mengenai sasaran sehingga gajah itu semakin beringas. Dalam kondisi genting dan panik, M Yatim melompat ke luar dan lari sekuat tenaga menyelamatkan diri di kegelapan malam itu. Sedangkan gajah yang diduga terluka terus mengobrak-abrik gubuk M Yatim hingga rata dengan tanah. “Warga lainnya yang juga sama-sama berada di gubuk sawah juga lari menyelamatkan diri. Untungnya tak ada korban jiwa,” kata Keuchik Tuwi Kareung.(yuh/naz/c45)