• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Adaptasi Perubahan Iklim

Senin, 13 Mei 2013 09:40 WIB
Oleh Firman Hadi

DAMPAK perubahan iklim bukan hanya soal naiknya permukaan laut atau perubahan suhu permukaan Bumi. Lebih penting lagi dampak perubahan iklim yang dapat dirasakan secara dekat dan nyata adalah dapat menyebabkan kerentanan pangan. Perubahan iklim merupakan tantangan dan ancaman nyata sektor pertanian dalam menjaga keberlansungan produksi pangan. Tidak hanya menjadi perhatian pada forum internasional, perubahan iklim telah menjadi isu strategis nasional berbagai negara dalam menghadapi fenomena tersebut.

Dampak perubahan iklim menjadi isu strategis karena persoalan ini dapat mengancam kepentingan nasional suatu bangsa. Beberapa hasil penelitian yang mengindikasikan bahwa perubahan iklim membawa pengaruh negatif terhadap produktivitas pertanian. Perubahan temperatur secara global memicu terjadinya musim kemarau yang berkepanjangan, hujan badai ekstrem menyebabkan terjadinya banjir besar di beberapa lokasi di belahan Bumi.

Perubahan iklim juga memicu adanya perubahan cuaca secara ekstrem. Terjadinya pergeseran musim, akan berpengaruh pada perencanaan aktivitas kegiatan pertanian, sehingga jadwal tanam akan terganggu yang mengakibatkan menurunnya angka produksi dan bahkan kegagalan panen. Kemudian munculnya sumber penyakit-penyakit baru pada tanaman, angin kencang dan badai yang merusak tanaman.

 Produktivitas menurun
Sementara musim kemarau yang terlalu panjang dan banjir di musim hujan membuat produktivitas pertanian menurun. Serta naiknya suhu permukaan bumi akan membuat pola hidup tanaman pertanian menjadi terganggu. Beberapa hal tersebut merupakan beberapa contoh yang dapat dirasakan akibat dari perubahan iklim dari sektor pertanian. Dengan demikian ancaman gagal panen yang berdampak pada ketahanan pangan kian menjadi nyata.

Kemudian pertumbuhan jumlah angka penduduk yang semakin meningkat patut menjadi sebuah kekhawatiran besar, mengingat selaras dengan hal tersebut kebutuhan pangan juga akan tinggi, sementara produktifitas hasil pertanian menurun oleh pengaruh perubahan iklim. Peluang terjadinya krisis pangan secara global, bukan hal mustahil untuk terjadi, jika persoalan perubahan iklim tidak disikapi sejak dini.

Menurut informasi dari organisasi Food Agriculture Organisation (FAO) yang dirilis pada 2010, memprediksikan bahwa mulai 2030 mendatang, akan terjadi bencana kelaparan global yang yang dialami oleh beberapa negara berkembang di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika latin. Kondisi tersebut merupakan dampak dari produksi pangan yang lebih rendah dari permintaan yang diperparah oleh fenomena perubahan iklim global.

Tentang Indonesia sendiri, menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang dirilis pada April 2007, menyebutkan bahwa akan mengalami penurunan curah hujan di kawasan selatan, sebaliknya di kawasan utara akan mengalami peningkatan curah hujan. Artinya kawasan yang menurun curah hujannya sangat berpotensi merusak sistem tanam pertanian, khususnya tanaman yang tidak memiliki potensi resistensi terhadap kekeringan. Kemudian krisis air untuk menopang kehidupan (air bersih) dan infrastruktur listrik turbin. Di sisi lain, peningkatan curah hujan akan menjadi potensial ancaman banjir yang merusak sarana dan prasarana pendukung pertanian.

Kementerian Pertanian (kementan) Indonesia juga telah memetakan dampak perubahan iklim di Indonesia. Di antaranya adalah degradasi sumberdaya lahan dan air, infrastruktur (irigasi), banjir dan kekeringan dan penciutan serta degradasi lahan berpontensi mengancam penurunan produktifitas, produksi, mutu hasil, efesiensi dan lainnya yang berujung kepada ketahanan pangan dan pada akhirnya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi serta kesejahteraan petani dan masyarakat produsen.

Fenomena perubahan iklim secara global telah banyak dan meruntuhkan infrastruktur vital yang menopang kekuatan ekonomi nasional merusak lahan pertanian di berbagai belahan bumi tidak terkecuali Indonesia. Perubahan pola curah hujan dan iklim ekstrem mengakibatkan areal padi sawah di beberapa wilayah/daerah mengalami kekeringan. Luas areal yang mengalami kekeringan meningkat dari 0,3-1,3% menjadi 3,1-7,8%. (Kementan RI; Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim Indonesia, 2012).

Akibat lainnya yang ditimbulkan oleh perubahan iklim terhadap sektor pertanian adalah peningkatan suhu udara yang mengakibatkan penurunan produksi pangan seperti padi, jagung dan kedelai sekitar 10,0-19,5% selama 40 tahun yang akan datang. Penciutan lahan dan degradasi sawah produktif sekitar 292-400 ribu hektare (3,7%) di Jawa akibat peningkatan muka air laut diproyeksikan sampai dengan 2050.

Kondisi tersebut, tentunya, berdampak serius terhadap pertanian di daerah pesisir. Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan iklim membawa dampak yang signifikan terhadap sektor pertanian. Persoalan ini penting dibahas karena persoalaan tersebut dapat mengancam ketahanan pangan baik dalam skala global maupun nasional.

 Tak bisa ditawar
Pengusutan strategi adaptasi sektor pertanian pada konteks perubahan iklim dalam menjamin ketahanan pangan merupakan prioritas yang semestinya tidak bisa ditawar. Perumusannya melibatkan sektor yang terkait dan stakeholder lainnya termasuk dari kalangan akademisi. Untuk menghasilkan strategi yang aplikatif yang bisa dipakai khalayak banyak.

Dalam konteks ini bentuk adaptasi sektor pertanian mencakup penyesuaian teknologi, menajemen dan kebijakan di sektor pertanian dalam perubahan iklim. Kemudian mendorong upaya aksi-aksi dalam adaptasi sektor pertanian terhadap perubahan iklim dan mendorong terciptanya konsep strategi peningkatan produksi pangan dengan pendekatan yang aplikatif di tengah fenomena perubahan iklim. Serta kajian-kajian penting lainnya terkait perubahan iklim dan peningkatan produktivitas pangan.

Sektor pertanian terutama di Aceh harus terus berbenah, melakukan penelitian dan kajian dalam menyikapi fenomena perubahan iklim ini untuk menjawab tantangan ketahanan pangan di bawah pengaruh perubahan iklim demi menjaga dan menuju “kedaulatan” pangan secara lokal, dan eksistensi umat manusia di planet bumi secara global. Pada saat di belahan dunia telah mulai melakukannya, tentunya kita pun perlu melakukan hal serupa, untuk kemajuan daerah.

* Firman Hadi, ST.P
, Peminat isu Pertanian dan Lingkungan, Kepala Bidang Lembaga Kajian dan Pengembangan (Litbang) Organisasi Profesi, Ikatan Alumni Jurusan Teknik Pertanian (Ikateta) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: firmanhadi.kasim@gmail.com
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
191204 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas