Tafakur
Bencana
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari sebab (kesalahan) dirimu sendiri
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari sebab (kesalahan) dirimu sendiri” (QS. an-Nisa`: 79).
Bencana difahami beragam penyebabnya. Tak jarang, sebahagiannya langsung menyalahkan Allah, yang telah menakdirkannya. Dalam pandangan ini, manusia dianggap sebagai objek penderita. Sebahagian yang lain menyalahkan manusia sendiri, yang telah serampangan menggunakan alam ini. Dan kalau berpedoman pada sejumlah ayat Alquran, manusia lah yang pantas dianggap sebagai subjek atau pelaku yang menyebabkan terjadinya kebanyakan bencana yang selanjutnya menyengsarakan diri sendiri, seperti timpaan banjir.
Berbeda pandangan, berbeda pula reakasi kita manusia dalam menghadapinya. Bagi yang memandang karena Allah, maka seringkali hanya mampu menerima saja tanpa mau berusaha memperbaiki diri. Sedangkan bila dianggap sebagai ulah tangan manusia, akan berusaha lebih dahulu untuk berpikir tentang apa yang pantas dilakukan agar tidak terulang bencana seperti yang pernah terjadi. Juga mengevaluasi sejauhmana yang telah dilakukan sudah tepat sasaran dan sesuai cara melakukannya. Bencana dianggap sebagai reaksi alam, karena adanya aksi (dari manusia).
Kenyataannya memang, banyak bencana terjadi karena manusia sendiri. Seperti banjir, yang seringkali disebabkan keserampangan manusia. Hal ini semakin jelas bila melihat firman Allah: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Ruum: 41).