Rabu, 10 Juni 2026

Citizen Reporter

Sosok Rumi dan Daya Pikat Tarian Sufi

INI catatan perjalanan saya kedua di "Kota Sufi", Konya, Turki. Salah satu yang tak boleh terlewatkan ketika mengunjungi

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Sosok Rumi dan Daya  Pikat Tarian Sufi
NURUL ASMI AMALIA
OLEH NURUL ASMI AMALIA, mahasiswi S1 Jurusan Physics Engineering Hacettepe University, melaporkan dari Turki

INI catatan perjalanan saya kedua di “Kota Sufi”, Konya, Turki. Salah satu yang tak boleh terlewatkan ketika mengunjungi kota ini adalah menyaksikan pertunjukan tarian sufi.

Pertunjukan tari sufi ini dapat disaksikan di Gedung Mevlana Culture Centre. Biasanya setiap malam minggu berlangsung pertunjukan tari sufi ini. Sejak Magrib gedung ini sudah dipadati para pengunjung, baik warga asli Kota Konya maupun wisatawan dari dalam dan luar negeri. Ketika saya berada di gedung ini saya juga melihat beberapa orang Jepang bersama pemandu wisatanya. Fakta ini semakin meyakinkan saya bahwa pengaruh Rumi bukan hanya di Turki dan di kalangan muslim saja, tapi bahkan mereka yang nonmuslim juga terpikat oleh tarian sufi ini.

Pukul 20.00 Semahane, tempat pertunjukan tari sufi dibuka. Para pengunjung segera menuju ruangan berbentuk bundar untuk memilih tempat yang paling strategis untuk menyaksikan para darwis yang berputar menarikan tari sufi.

Tari sufi atau whirling dance adalah karya seorang sufi dari Turki, Maulana Jalaludin Rumi, pujangga sufi dari tanah Persia. Tari ini merupakan bentuk ekspresi dari rasa cinta, kasih, dan sayang seorang hamba kepada Allah Swt dan Nabi Muhammad saw.

Salah satu tuntunan Nabi Muhammad untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan berzikir. Rumi mengembangkan metode zikir dengan gerakan berputar sehingga terciptalah tari sufi.

Dalam Islam, para darwis yang terlibat dalam tarian ini mengenakan jubah putih yang melambangkan warna pakaian kematian (kain kafan). Namun, pada awal tarian, pakaian ini ditutupi oleh jubah hitam yang melambangkan pusara. Mereka juga mengenakan tutup kepala yang tinggi dan bundar, berwarna cokelat atau putih yang melambangkan batu nisan mereka.

Tarian berawal dengan gerak para sufi mencium tangan pimpinan mereka. Kemudian mereka menanggalkan jubah hitam sebagai perlambang perpisahan mereka dari pusara menuju ke haribaan Sang Pemilik Alam Semesta. Mereka mulai berputar berlawan dengan arah jarum jam secara perlahan. Gerakan ini melambangkan alam semesta yang selalu berputar mengelilingi garis edarnya masing-masing. Tangan kanan dengan telapak tangan menghadap ke atas di muka, sedangkan di belakang tangan kiri menghadap ke bawah. Itulah simbol bahwa apa yang mereka dapatkan dari kemurahan dan kasih sayang Allah mereka sebarkan ke seluruh semesta.

Lalu mereka berputar semakin lama semakin cepat. Melalui tarian itulah para sufi mencapai suatu tingkatan yang terkendali untuk mencapai dan menyentuh puncak kesempurnaan.

Keinginan Rumi hanyalah menyatu dengan Allah. Dan, menurutnya, Tuhan bukan menjelma dalam alam semesta, melainkan dalam hati manusia. Karena itulah manusia lebih cenderung menggunakan hatinya dalam berbuat daripada berdasarkan pikiran.

Terkadang masyarakat awam mengira bahwa orang yang menarikan tarian sufi ini kesurupan karena bisa berputar-putar begitu lama. Tidak, jangan keliru sangka, mereka bukan kesurupan, tapi justru tengah berada dalam kesadaran yang tinggi dan mampu mengidentifikasi keadaan di sekitarnya dengan lebih baik. Bahkan membuat mereka semakin sadar tentang siapa mereka sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Bapak sekularisme Turki, Mustafa Kemal Ataturk, melarang tarian ini pada tahun 1925. Namun, sejak Desember tahun 1954 kematian Rumi (17 Desember 1273) kembali diperingati di Konya dan tari sufi mendadak melalang buana sebagai atraksi wisata.

Sungguh tiada kata-kata lagi yang dapat menggambarkan rasa puas di batin saya karena telah berhasil menginjakkan kaki saya di Kota Sufi ini, terlebih lagi menyaksikan langsung penampilan tari sufi. Semoga catatan perjalanan saya kali ini dapat memberikan hal-hal positif yang dapat memengaruhi kehidupan banyak orang menjadi lebih baik dan arif di kemudian hari.
[email penulis: asmi.amalia23@gmail.com]

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved