Opini
Peucëcë
PEUCECE merupakan sebuah istilah dalam terminologi keacehan yang mengandung makna sinis, humoris, dialogis serta apologis
PEUCECE merupakan sebuah istilah dalam terminologi keacehan yang mengandung makna sinis, humoris, dialogis serta apologis. Sulit mencari definisi peucëcë karena istilah ini tidak semua orang Aceh mamahami hakikat maknanya. Bagi masyarakat Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, sebagian masyarakat Kota Sabang, Aceh Jaya, Aceh Barat dan Aceh Timur memahami hakikat makna dan penggunaan istilah peucëcë tersebut dalam kehidupan masyarakatnya. Tetapi sebagian besar masyarakat Aceh kawasan Barat-Selatan dan Tenggara masih terasa asing dengan istilah peucëcë ini.
Yang jelas peucëcë adalah ucapan seseorang yang bersifat menyindir orang lain dengan apa yang sudah atau belum pernah terjadi terhadap orang tersebut sehingga memalukan atau menyusahkan orang tersebut untuk melihat atau mendengarnya. Peucëcë boleh jadi wujud dalam bentuk tutur kata, tingkah laku atau isyarat-isyarat sehingga menggambarkan sesuatu yang menuju kepada seseorang berkaitan dengan apa yang sudah pernah berlaku atau dilakukan orang tersebut. Peucëcë sering terjadi di kalangan masyarakat pedalaman Aceh, baik yang dilakukan oleh anak-anak terhadap kawan-kawannya, para pemuda maupun orang tua.
Efek dari peucëcë tersebut sering memunculkan lelucon dan tawa ria ketika usaha peucëcë sudah sampai ke puncaknya atau tak kurang juga yang berakhir dengan pertengkaran karena pihak yang terpeucëcë tidak sanggup menahan peucëcë kawannya sehingga ia menjadi emosi dan beraksi. Kalau peucëcë itu muncul dalam kalangan anak-anak sering menjurus kepada perkelahian karena anak-anak belum mampu meredam emosi, tetapi kalu peucëcë itu terjadi dari seorang dewasa terhadap orang muda atau anak-anak sering menimbulkan gelora tawa ria dan dapat menciptakan suatu suasana menyenangkan bagi semua pihak.
Ragam peucece
Dalam kehidupan anak-anak di kampung-kampung pedalaman Aceh sering terjadi dakwa-dakwi antara seorang anak dengan anak lainnya. Lalu ketika dakwa tersebut sedang memuncak didengar oleh seorang pemuda menjelang dewasa, sipemuda segera mengambil sehelai daun kayu dan mengusap kepala anak-anak tersebut kemudian diletakkan di tanah seraya berucap: ayo siapa yang duluan menginjaknya itulah dia yang menang atau siapa yang cepat menginjak daun tersebut berarti telah menginjak kepala orang tua lawannya. Nah, dalam posisi sedemikian itu si anak yang sedang sama-sama emosi tadi, tentunya berebut menginjak daun, dalam perebutan itulah terjadi perkelahian besar akibat di-peucece oleh seorang pemuda tersebut.
Pada suatu hari ada seorang mahasiswa asal sebuah kampung di pedalaman Aceh yang sedang rajin mempelajari istilah-istilah asing dalam bahasa Indonesia seperti diskriminasi, apresiasi, evakuasi, akreditasi, inisiasi dan semisalnya. Dalam sebuah acara diskusi lokal di fakultas, pimpinan diskusi ingin menulis sesuatu di papan tulis tetapi papan tulis sudah duluan tertulis sesuatu dengan permanent marker (spidol mati dawat di papan tulis). Si pimpinan diskusi tersebut menghapusnya dengan capek tidak juga terhapus sehingga dia bosan dan marah lalu melemparkan penghapus.
Dalam kondisi seperti itu bangun dan majulah ke depan si mahasiswa yang sedang menarik mempelajari istilah-istilah asing tadi seraya berucap: kamu ini betul-betul tidak punya isniatif sedikit pun untuk menghapus papan ini, kita tulis dulu dengan spidol di atas tulisan yang ada lalu baru kita hapus kembali, betul-betul kamu tidak punya isniatif.
Mendengar ucapan isniatif itu, semua peserta diskusi tertawa terbahak-bahak seraya mengoreksinya: inisiatif hai rakan, bulan isniatif. Sejak itulah ketika bertemu dengan si mahasiswa tersebut kawan-kawannya menanyakan: Bagaimana keadaan hari ini, ada isniatif sedikit? Esok harinya peucëcë itu dipoles oleh kawan-kawannya dalam ucapan lain di samping mahasiswa tersebut: Ada diskusi hari ini? Tidak ada, esok baru ada jawab kawan lain. Oya kalau sudah diskusi besok jangan lupa isniatif-nya ya?
Suatu hari dalam sebuah ceramah halal bi halal di masjid Cordoba di pesisir Aceh Besar, penceramahnya membacakan satu hadis Rasulullah saw sebagai berikut: “Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa mandi pada hari Jumat seperti ia mandi junub, kemudian berangkat ke masjid di awal waktu maka ia seperti orang yang berkurban seekor unta. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu kedua, maka ia seperti orang yang berkurban seekor sapi. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu ketiga, maka ia seperti orang yang berkurban seekor kambing yang memiliki tanduk. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu keempat, maka ia seperti orang yang berkurban seekor ayam. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu kelima, maka ia seperti orang yang berkurban sebutir telur. Jika imam (khatib) telah keluar (naik ke mimbar), maka para malaikat hadir untuk mendengarkan zikir (khutbah Jumat)” (HR. Bukhari No.881 dan Muslim No.850).
Seorang jamaah yang rumahnya tujuh kilometer jaraknya dengan masjid mem-peucëcë penceramah dengan pernyataan: Dah, nanti gue bikin masjid sendiri biar sebelum yang lain masuk, saya yang masuk duluan, dengan begitu saya berhak atas pahala kurban Unta... hehehe... Ketika penceramah mendengar ucapan tersebut merasa risau seraya berpikir ini orang waras, abnormal atau tukang peucëcë. Sementara para jamaah lainnya pada ketawa terbahak-bahak semuanya. Begitulah sepintas ragam atau model-model peucëcë yang banyak muncul dalam kehidupan orang Aceh, dan itu sebagian kecil dari jutaan contoh lainnya, yang apabila kita tulis beruntun bisa berbentuk beberapa buah buku.
Akibat dari peucëcë
Tidak sedikit orang berkelahi akibat dari perbuatan peucëcë dalam kehidupan orang Aceh terutama sekali para kawula muda dan anak-anak kecil. Sesekali juga dialami oleh orang-orang dewasa yang tidak punya kerjaan tetap dan hari-hari duduk dan tidur di bulukoh atau jambo jaga. Awalnya bercerita sesuatu yang menarik didengar semua pihak, tetapi ketika ada sedikit khilaf dari cerita tersebut dimanfaatkan oleh kawan lain untuk mem-peucëcë kawannya itu, ketika peucëcë itu sudah berlebihan berakhirlah ia dengan pertengkaran atau perkelahian.
Tidak kurang juga orang yang selalu kena peucëcë yang IQ-nya tinggi memanfaatkan peucëcë tersebut menjadi satu ilmu dan gaya tersendiri dalam kehidupannya, sehingga ia bisa memerankan aksi peucëcë itu kepada orang lain di tempat lain pula sehingga dia dianggap orang pandai di tempat tersebut. Ketika orang lain menghadiahkan peucëcë kepadanya, dia tidak pernah marah malah diam dan sabar saja, nanti dia mengolah hasil peucëcë tersebut untuk dijadikan bahan baku kepada kelompok dan komunitas lainnya.
Peucëcë itu suatu sikap dan upaya dari seseorang yang dialamatkan kepada orang lain yang kadangkala menjadi obat bagi orang tersebut, dan kadangkala menjadi penyakit bagi dia, malah salah-salah cara peucëcë bisa menjadi racun bagi orang yang kena peucëcë. Semoga saja semua peucëcë ke depan dalam kehidupan bangsa Aceh menjadi obat mujarab dan menjadi penyejuk kehidupan umat.
* Hasanuddin Yusuf Adan, Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, dan Dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: diadanna@yahoo.com