Selasa, 9 Juni 2026

Opini

Seandainya Dunia tanpa Buku

KEMAJUAN teknologi di era digital, telah membuat buku semakin terisolasi dari masyarakat kita, utamanya di kalangan akademisi

Tayang:
Editor: hasyim

Oleh Masduri

KEMAJUAN teknologi di era digital, telah membuat buku semakin terisolasi dari masyarakat kita, utamanya di kalangan akademisi. Sekarang ini, masyarakat lebih suka menulis di website, blog, facebook, ataupun twitter. Sebab menulis di sana sangat praktis dan tidak ribet seperti menulis buku. Menulis di buku selain njelimet, halamannya panjang, harus banyak referensi, sangat ketat seleksi penerbit, dan beragam keribetan lainnya dalam menulis buku. Sehingga kebiasaan malas menulis buku semakin membudaya di masyarakat.

Belum lagi masyarakat juga memang lebih suka membaca lewat internet, baik melalui website, blog, facebook, ataupun twitter. Alasannya juga sangat sederhana, membaca di internet itu lebih mudah, tidak banyak biaya, informasi selalu update, sementara untuk mendapatkan buku lumayan sulit, harga buku mahal, pengetahuannya tidak bisa selalu update, membeli satu buku hanya berisi satu pengetahuan, semenatara membaca di internet, beragam ilmu pengetahuan bisa kita dapatkan. Apa saja disajikan dengan sangat praktis oleh beragam situs yang ada di dunia maya.  

 Apatisme pada buku
Fakta ini semakin menjamur di masyarakat kita, apatisme pada buku menjadi realitas keseharian yang bisa kita jumpai di mana-mana, termasuk juga pelajar ataupun akademisi ikut-ikutan apatis lantaran kemajuan teknologi segala sesuatu dapat diakses melalui dunia maya.

Tentu kita sangat prihatin terhadap masa depan buku jika masyarakat terus apatis tanpa menyadari makna subtantif dari buku. Orang banyak menilai pengetahuan yang diakses dari website ataupun dunia maya secara umum praktis dan mudah dimengerti, sementara banyak tulisan di wibsite tidak memiliki kebenaran otoritatif dan tidak bisa dipertanggungjawabkan seperti buku.

Belum lagi, para akedemisi, baik dosen ataupun mahasiswa lebih suka menggunakan rujukan melalui website ketimbang buku. Alasannya tetap saja karena website lebih praktis dan mudah. Jika merekapun sebagai insan terdidik juga kurang perhatian terhadap buku, kita tidak dapat membayangkan bagaimana masa depan buku di masa mendatang? Mungkin buku menjadi tumpukan-tumpukan sampah atau bahkan tidak lagi ada buku-buku cetak seperti sekarang, lantara buku tidak diminati masyarakat. Meskipun ada buku, paling buku digital, buku yang sebenarnya sangat mengancam terhadap kesehatan mata seseorang.

Apatisme masyarakat terhadap buku di era digital ini tidak lagi sebagai bias dari kemajuan teknologi, satu sisi kemajuan teknologi sangat membantu pengembangan keilmuan seseorang, tetapi sisi lain juga sangat mengancam terhadap pengembangan keilmuan. Bayangkan misalnya para pelajar tidak lagi suka membaca buku lantaran sibuk facebook-an ataupun twitter-an.

Karenanya, jalan satu-satunya kita harus bijak dalam menyikapi setiap perkembangan teknologi, sehingga tidak ikut-ikutan terjebak pada sisi buram kemajuan teknologi. Sebab teknologi, bukan saja memudahkan manusia dalam beragam aktivitas kehidupan. Tetapi juga banyak mengancam sisi kehidupan manusia.

Untuk meminimalisir bias teknologi, tentu perlu juga digalakkan pendidikan teknologi tepat guna di berbagai lembaga pendidikan. Agar para pelajar dapat memahami dengan baik penggunaan setiap hasil kemajuan teknologi, berikut dengan pemanfaatannya.

Selama ini di lembaga pendidikan lebih sering diajarkan pemahaman dan praktik penggunaan alat-alat teknologi, tanpa dibarengi pemahaman tentang efisiensi penggunaan alat-alat tersebut, sehingga dampaknya banyak pelajar yang tesesat karena HP atau internet. Betapa akhir-akhir ini kehancuran moral akibat HP ataupun internet sangat banyak sekali. Belum lagi dampaknya bagi prestasi peserta didik, tidak usah heran bila pelajar perestasinya menurun, karena tesesat akibat teknologi sehingga malas membaca buku.

Meskipun akses informasi ataupun pengetahuan bisa diadapat dengan mudah melalui internet, lantas bukan berarti membuat kita apatis terhadap buku, baik dalam menulis ataupun membaca. Bagaimanapun buku tetap merupakan sumber pengetahuan paling otoritatif dan dapat dipertanggung jawabakan.

Para penulis buku pasti tidak main-main dalam menulisnya, sebab tulisan tersebut akan dikonsumsi banyak orang. Bayangkan bagaimana kritikan ataupun persepsi negatif akan bermunculan, bila seseorang menulis buku main-main. Berbeda dengan internet, walaupun menulis asal-asalan dan banyak yang salah, yang merespon sangat sedikit atau bahkan tidak ada yang peduli sama sekali.

 Menyambung peradaban
Karenanya, jangan sampai kemajuan teknologi dengan beragam kemudahan mengakses informasi dan pengetahuan membuat kita semua lupa terhadap buku. Buku bukan sekadar tumpukan kertas dengan beragam bentuk tulisan pengetahuan di dalamnya, lebih dari itu buku merupakan kekayaan berharga yang akan menyambung peradaban suatu bangsa pada generasi berikutnya.

Karena buku kita tahu kejayaan masa lalu, karena buku kira mengenal peradaban masa lalu, karena buku pengetahuan ribuan tahun yang lalau bisa kita nikmati sampai sekarang, karena buku wawasan pemikiran kita akan semakin luas, melampaui batas ruang dan waktu, karena buku pulalah kehidupan ini akan benar-benar hidup.

Kita tak dapat membayangkan, bagaimana seandainya dunia tanpa buku, pasti dunia ini buram dan kacau balau, sebab melalui bukulah dunia ini berjaya menuju perabadan yang lebih baik. Selamat Hari Buku Nasional, 17 Mei 2013!
        
Masduri, Mahasiswa dan Pustakawan Pesantren Mahasiswa (PesMa) IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Email: masduri_as@yahoo.co.id

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved