Selasa, 9 Juni 2026

MPU Nagan Selidiki Kasus Perampasan Tongkat Khatib

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Nagan Raya, mulai menyelidiki kasus jamaah yang merebut/merampas tongkat

Tayang:
Editor: bakri
SUKA MAKMUE - Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Nagan Raya, mulai menyelidiki kasus jamaah yang merebut/merampas tongkat khatib ketika berlangsung prosesi shalat Jumat di Masjid Baitul Qudus, Desa Keudee Seumot, Ulee Jalan, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Jumat (17/5).

“MPU Nagan Raya sudah turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini, karena apabila tak segera diatasi dikhawatirkan memunculkan persoalan baru dalam masyarakat,” kata Ketua MPU Nagan Raya, Tgk M Khalid Al Yoemla, menjawab Serambi, Sabtu (18/5).

Menurutnya, kasus perebutan tongkat khatib yang dilakukan oleh tiga jamaah shalat Jumat, yaitu H IB beserta dua anaknya, Ar dan Ir sama sekali tak bisa dibenarkan dan tak boleh lagi terjadi. Sebab, kata Tgk M Khalid, aksi ini bisa memicu kemarahan warga lainnya yang merasa tersinggung dengan tindakan pelaku secara sepihak karena melihat tata laksana ibadah shalat Jumat yang berbeda dari biasanya. “MPU bukannya menyalahkan siapapun dalam perkara ini, akan tetapi kita masih melihat apa penyebab masalah ini dan solusi apa yang akan kita cari,” terangnya.

Ketua MPU Nagan Raya mengatakan, sepanjang hari kemarin, Sabtu (18/5), pihaknya berulang kali dihubungi oleh masyarakat yang meminta MPU Nagan Raya turun tangan menyelesaikan insiden di Masjid Baitul Qudus. “MPU Nagan Raya meminta masyarakat menahan diri menyikapi masalah ini. Kita umat Islam semuanya bersaudara, masalah ini akan kita selesaikan secara bijak dan musyawarah,” pungkasnya.

Hingga Sabtu kemarin, Serambi masih terus berusaha mendapatkan tanggapan dari H IB terkait tindakan yang dilakukan bersama anaknya di Masjid Baitul Qudus, Jumat (17/5). Namun upaya itu belum berhasil meski sudah meminta Keuchik Keudee Seumot, A Rani Ib untuk memfasilitasi.

“Saya lagi makan, nanti saja saya hubungi dan berikan nomor HP mereka,” kata Keuchik Rani ketika Serambi meminta nomor HP H IB agar bisa dihubungi untuk konfirmasi. Namun hingga tadi malam, Serambi belum mendapatkan nomor HP tersebut.

Imam Masjid Baitul Qudus, Desa Keudee Seumot, Ulee Jalan, Tgk H Ramli Adam yang ditanyai Serambi secara terpisah mengatakan, insiden penghentian azan pertama dan perebutan tongkat khatib oleh tiga jamaah shalat Jumat telah memunculkan beragam reaksi di tengah masyarakat. Namun, sebagian besar masyarakat sangat menyayangkan terjadinya insiden itu.

“Seharusnya masalah yang dilihat dan didengar oleh jamaah tersebut bisa ditanya terlebih dahulu kepada panitia masjid, sehingga tak terjadi persoalan seperti kemarin,” kata Tgk H Ramli.

Menurut Ramli Adam, sebetulnya mimbar baru yang berada di desa mereka itu merupakan sumbangan seorang hamba Allah yang merupakan warga setempat yang telah bersedia memberikan sumbangan karena menilai mimbar yang digunakan selama ini sudah lapuk.

“Biaya untuk membuat mimbar ini saja termasuk bahan mencapai Rp 25 juta, seharusnya kita bersyukur karena sudah dibantu. Kalaupun ada masalah kan bisa dibicarakan baik-baik,” kata Tgk Ramli. Penggantian mimbar tersebut sudah pernah disampaikan kepada pengurus masjid dengan harapan mendapatkan persetujuan dan dilakukan musyawarah. “Kami tetap bertekad bisa menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya,” demikian Imam Masjid Baitul Qudus.

Seperti diberitakan, tiga jamaah shalat Jumat yang terdiri seorang ayah bersama dua anaknya mengamuk di Masjid Baitul Qudus, Desa Keudee Seumot, Ulee Jalan, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, pada saat pelaksanaan shalat Jumat (17/5). Ayah dan anak ini sempat menggagalkan kumandang azan pertama dan kemudian merampas tongkat khatib saat berkhutbah.(edi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved