Pemotongan BSM
Warga Miskin Mengamuk
Puluhan warga miskin menyerbu ke SDN 2 Teubeng, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, Selasa (21/5) pagi sambil menumpahkan kekesalan
SIGLI - Puluhan warga miskin menyerbu ke SDN 2 Teubeng, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, Selasa (21/5) pagi sambil menumpahkan kekesalan kepada kepala sekolah yang dituding memotong bantuan siswa miskin (BSM) mencapai Rp 50.000/anak. Kepala sekolah sempat diamankan guna menghindari aksi anarkis.
Pantauan Serambi, sekitar pukul 09.00 WIB, Selasa (21/5), puluhan wali murid--mayoritas ibu-ibu--mendatangi SDN 2 Teubeng yang berjarak sekitar lima kilometer barat daya Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie. Di depan sekolah, wali murid berteriak-teriak meminta kepala sekolah keluar untuk menjelaskan alasan pemotongan BSM yang sejatinya adalah hak penuh murid. “Kami ingin mendapat penjelasan dari kepala sekolah kenapa jatah anak kami dipotong. Padahal uang itu disediakan oleh pemerintah untuk membantu siswa miskin,” teriak seorang ibu sambil menggendong anaknya.
Aksi wali murid tersebut dikawal aparat kepolisian dari Polsek Pidie. Sekitar pukul 11.00 WIB datang pejabat dari Dinas Pendidikan Pidie dan Komisi E DPRK Pidie. Selanjutnya Kepala SDN 2 Teubeng, Dra Halimatussakdiah dijemput keluar oleh staf Pendidikan Dasar (Dikdas) Disdik Pidie, Marzuki dan diamankan ke dalam sebuah mobil menghindari terjadinya hal-hal tak diinginkan.
Aksi wali murid SDN Teubeng bubar sekitar pukul 12.00 WIB setelah melakukan pertemuan dengan anggota DPRK dan Disdik Pidie selama satu jam lebih di SD tersebut.
Wali murid SDN 2 Teubeng, M Nasir (45) didampingi Irwan (36) kepada Serambi membenarkan adanya pemotongan BSM oleh kepala sekolah dengan alasan untuk biaya administrasi. “Dana BSM jatah anak saya dipotong Rp 50.000 oleh kepala kepala sekolah saat kami mengambil dana itu sama kepala sekolah,” kata Irwan dibenarkan wali murid lainnya.
Saifuddin (50), wali murid lainnya menyatakan kecewa terhadap kepemimpinan kepala sekolah, Dra Halimatussakdiah. Menurut Saifuddin, cucunya sempat dijanjikan mendapat dana BSM, ternyata tidak diberikan. “Guru bilang cucu saya terpilih menerima dana BSM karena menggantikan seorang murid yang tidak sekolah lagi. Tapi, saat saya tanyakan kepada kepala sekolah, diperoleh informasi tidak mendapatkan dana itu,” kata Saifuddin.
Saifuddin bersama istrinya bergabung dengan warga lain memprotes kasus pemotongan BSM itu ke SDN 2 Teubeng. “Istri saya meninggalkan pekerjaannya mencuci pakaian orang untuk datang ke sekolah ini,” kata Saifuddin.
Keuchik Teubeng Meucat, Sulaiman Muddin, kepada Serambi mengatakan, wali murid menuntut Kepala SDN 2 Teubeng dipindahkan. Wali murid mengancam jika kepala sekolah tidak dipindahkan, warga dari Gampong Teubeng Meucat, Teubeng Abo, dan Teubeng Ulee Ceu tidak akan mendaftarkan lagi anak-anak mereka ke sekolah tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Pidie, H Bukhari Thahir MPd menegaskan, apapun alasannya, dana BSM itu tak boleh dipotong. “Meski demikian saya belum tahu ada kepala sekolah yang memotong dana tersebut. Tolong Anda tanyakan saja masalah ini kepada Kepala UPTD Kota Sigli,” kata Bukhari yang ketika dihubungi Serambi sedang dalam perjalanan kembali dari Jakarta.(naz)