KAI

Hukum Menagih Utang

Ustaz yang saya hormati. Dulu, saya memiliki teman yang sangat membutuhkan uang karena belum bekerja, sehingga saya bersedia meminjamkan

Pertanyaan:
Assalamualaikum wr wb.

Ustaz yang saya hormati. Dulu, saya memiliki teman yang sangat membutuhkan uang karena belum bekerja, sehingga saya bersedia meminjamkan uang saya kepadanya. Ia pun berjanji akan membayar utangnya tersebut.

Pada suatu hari, saya mendapat informasi kalau ia sudah memiliki pekerjaan yang cukup layak dan memiliki uang. Karena tempat tinggal kami berbeda kota, maka saya mencoba untuk menanyakan kabarnya sekaligus mengingatkan akan utangnya melalui handphone. Dan menyarankan untuk membayar utangnya melalui transfer bank, karena saat itu saya sangat membutuhkan uang tersebut. Namun, ia enggan untuk membayar utangnya tersebut.

Yang ingin saya tanyakan: Bagaimana tata cara menagih hutang dalam Islam? Saya sudah mengingatkan teman saya tersebut hingga tiga kali, namun ia tetap tidak mau membayarnya. Apakah cara saya salah? Bolehkah saya menagih hutang tersebut lagi dilain waktu? Bagaimana hukumnya menunda hutang tersebut?

Demikian pertanyaan saya, atas perhatian dan jawaban Ustadz Navis, saya ucapkan terima kasih.

Ismail Hasan
Aceh Jaya.

Jawaban:
Saudara Ismail, yth.
Waalaikumussalam wr wb.

Utang adalah kewajiban sesama manusia yang harus dibayarkan. Allah swt tidak akan mengampuni dosa seseorang yang masih punya tanggungan utang atau hak adami. Bahkan, ruhnya masih tergantung antara langit ketika meninggal dunia kalau utangnya belum dibayar atau belum diikhlaskan oleh yang memberikan utang, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Ruh seorang mukmin yang meninggal dunia akan terus menggantung selama hutangnnya belum dilunasi” (HR. Turmudzi)

Baiklah, pengasuh jawab pertanyaan Anda secara ringkas: Pertama, cara menagih utang dalam tuntunan Islam, di antaranya sebagai berikut: “Jika yang punya hutang mempunyai iktikad baik, maka hendaknya menagih dengan sikap yang lembut penuh maaf. Boleh menyuruh orang lain untuk menagih utang, tetapi terlebih dulu diberi nasihat agar bersikap baik, lembut dan penuh pemaaf kepada orang yang akan ditagih” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Hakim).

“Allah swt akan memberikan kasih sayangNya kepada orang yang bermurah hati ketika menagih utang” (HR. Bukhari). Bahkan, sangat baik kalau kemudian mengikhlaskanya dan menyedekahkannya. Karena menyedekahkan utang terhadap orang yang menemui kesulitan atau kesukaran mengembalikannya, itu lebih baik. “Dan, menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 280).

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help