Senin, 30 Maret 2015

Baitul Musyahadah Lambang Perjuangan Rakyat Aceh

Jumat, 7 Juni 2013 10:49

Beberapa orang  memilih tiduran di pojok ruangan. Mereka tampak pulas di bawah hembusan kipas angin. Suasana ini setidaknya Serambi rasakan saat memasuki Masjid Baitul Musyahadah atau Masjid Teuku Umar, di kawasan pinggiran jalan raya Setui, Banda Aceh, Kamis (6/6) kemarin. Awalnya suasana masih sepi. Hanya beberapa jamaah lelaki yang mulai berdatangan, dan seorang jamaah wanita. Dari dalam masjid jelas terdengar suara cericit burung walet. Kedengaran jernih saling berlomba dengan lantunan ayat suci Alquran dipancarkan dari pengeras suara di atas menara kubah masjid. Di antara beberapa jamaah yang mulai datang, ada seorang lelaki tua, yang Serambi temui di dalam masjid. Seusai melaksanakan shalat tahyatul masjid, lelaki ini menuju ke sebuah ruangan di samping mihrab atau dekat posisi imam memimpin shalat. Serambi mencoba menanyakannya beberapa informasi tentang masjid ini.

“Saya belum bisa memberi keterangan. Sebab, sekarang semua pengurus masjid bersama rombongan sudah keluar daerah. Sebab ini hari libur. Mereka seperti liburan begitu,” kata lelaki itu. Belakangan ia memperkenalkan diri sebagai salah satu pengurus masjid. Dari usianya, lelaki ini kelihatan sudah lama menjadi khadam.

“Saya salah satu orang tua, yang sudah lama juga di sini,” sebutnya.

“Tapi kalau tidak ada pengurus, saya tidak bisa kasi tau iformasinya, karena nanti tidak baik melangkahi. Coba saya menghubungi pengurusnya,” kilah bapak tua itu. Mendapati informasi itu, Serambi hanya bisa mengamati saja ruangan masjid. Berjalan ke beberapa sudut, sambil menjepret beberapa angle (sudut) untuk dokumen foto. Ternyata ada banyak pemandangan yang menarik dari sisi interior masjid ini. Lihat saja misalkan di bagian mihrabnya yang tampak lumayan eksotik dengan latar belakangn cat warna hijau. Ada tulisan “Allah” dalam bahasa Arab berukuran besar di sisi dalam mihrab semakin menambah nilai kekhusyukan jamaah. Tak jauh dari mirab ada satu mimbar yang biasanya digunakan untuk khatib atau penceramah menyampaikan tausyiahnya. Meski tampak tak terlalu besar, namun warna dan ukirannya sangat indah. Tidak hanya itu. Ada juga dua buah “jam berdiri” di sisi kanan dan kiri mihrab. Sementara tepat di bagian atas mimbar terlihat satu relief timbul berbentuk kupiah pahlawan nasional Teuku Umar, atau lebih populer disebut Kupiah Meukutop.

Di bagian atas Kupiah Meukutop terdapat satu bulan sabit sebagai simbol keislaman. Secara umum permukaan Kupiah Meuketop ini dicat warna warni. Ada merah, hitam, hijau dan kuning. Terlihat begitu indah. Perlu juga diketahui Kupiah Meukutop yang di dekat mirab imam ini, lebih kecil dibandingkan dengan yang berada di atas bangunan masjid. Kupiah Meukutop yang berada di atas bangunan masjid dijadikan sebagai kubah utama masjid yang kemudian menjadikan ciri khas tersendiri dari Masjid Baitul Musyahadah atau lebih dikenal dengan Masjid Teuku Umar (baca selintas sejarah).

Masih dari dalam masjid, Serambi juga menyaksikan ada empat buah pintu Aceh (Pintoe Aceh) dalam ukuaran besar. Dua di samping kiri mihrab dan dua lainnya di samping kanan. Empat Pintoe Aceh yang melambangkan adat keacehan terbuat dari besi (plat). Posisinya kontras terpajang di dinding utama masjid dalam balutan kuningan.

Dari segi arsitektur Masjid Baitul Musyahadah dibangun dua lantai yang ditopang dengan puluhan tiang besar dan kokoh. Bila dilihat dari luar, masjid yang berdiri di lahan sekitar 3 Ha ini memiliki beberapa fasilitas. Seperti tempat whuduk laki-laki dan perempuan yang representatif dan lahan parkir yang luas.

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas