Tafakur
Berdosa
Dalam kata-kata yang diucapkan, bisa dikenali bagaimana seseorang memosisikan diri terhadap dosa
Oleh: Jarjani Usman
“Allah telah berfirman,’Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka ber-istighfar-lah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni” (HR.Ibnu Majah, Tirmidzi).
Dalam kata-kata yang diucapkan, bisa dikenali bagaimana seseorang memosisikan diri terhadap dosa. Sebahagian orang, ketika menyebut dosa, menggunakan kata-kata “dia”, “mereka”, dan “kalian” atau “kamu”. Orang lain diposisikan (selalu) melakukan dosa. Sedangkan dirinya diposisikan tidak berdosa.
Padahal telah dikatakan bahwa setiap hamba tak terlepas dari dosa, kecuali yang dijaga Allah seperti Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, seseorang yang alim atau senantiasa mengajak orang lain kepada kebenaran pun berpeluang mempunyai dosa, Apalagi manusia adalah makhluk pelupa dan mudah terpedaya oleh indahnya dunia.
Karena itu, sangat elok bila sesama insan (yang berdosa), kita menggunakan kata yang menunjukkan kesalingan. Artinya, kita tidak hanya menunjuk orang lain, kita juga demikian. Sehingga perlu mengajak orang lain sekaligus mengajak diri sendiri untuk tidak melakukan perbuatan dosa. Kata-kata yang bernada kesalingan yang seharusnya dilakukan manusia bisa ditemukan dalam Kitab Suci Alquran. Dalam surah al ‘Ashr, misalnya, disebutkan: “...nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran” dan “ nasehat-menasehati untuk menetapi kesabaran”.