Selasa, 9 Juni 2026

Culik Pekerja Asing

Investor Migas Takut ke Aceh

Guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Ir Doddy Abdasah Msc PhD, mengungkapkan, investor migas (minyak dan gas), baik asing maupun

Tayang:
Editor: bakri

MEDAN - Guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Ir Doddy Abdasah Msc PhD, mengungkapkan, investor migas (minyak dan gas), baik asing maupun lokal, takut berinvestasi di Aceh.

Lebih-lebih setelah terjadinya kasus penculikan karyawan PT Blade Energy, Sub Kontraktor PT Medco E&P Malaka di Kabupaten Aceh Timur, belum lama ini. Kasus tersebut ternyata berpengaruh sangat besar terhadap citra Aceh di mata investor.

“Saat ini investor sepertinya enggan ke Aceh. Lebih-lebih setelah terjadinya kasus penculikan pekerja Medco, sehingga investor yang mau masuk ke Aceh semakin hati-hati,” kata Doddy.

Profesor pada Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB ini menyampaikan hal itu di hadapan puluhan wartawan dalam acara Kegiatan Sosialisasi Tentang Produksi Migas, yang diselenggarakan oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) di Hotel Santika Dyandra Medan, Rabu (19/6).

Dia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 670 lapangan migas. Dari jumlah tersebut, 40 persennya berada di kawasan Sumatera bagian Utara (Sumbagut). Untuk di Aceh sendiri, ia perkirakan, sedikitnya ada 40 sampai 50 unit sumur tua yang masih bisa dimanfaatkan, tetapi terbengkalai karena berbagai kendala di lapangan.

Kalaupun ada beberapa perusahaan kontraktor migas yang mulai melakukan aktivitas, seperti Medco, Eni Krueng Mane dan Triengle, tetapi sampai saat ini ketiga perusahaan itu belum mampu mencapai hasil sesuai harapan.

“Mereka menghadapi berbagai kendala, baik itu secara administrasi maupun kendala di lapangan. Perusahaan harus memperhitungkan keselamatan para pekerja dan masyarakat lingkungannya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Doddy Abdasah, juga menyampaikan jumlah sumber minyak dunia yang bisa diproduksi mencapai lebih dari 2 triliun barel. Sementara yang sudah diproduksi selama sekitar 120 tahun ini mencapai 1 triliun barel, atau tersisa sekitar 1,2 triliun barel lagi.

“Semakin lama akan semakin sulit menemukan sumber minyak, bahkan dalam beberapa tahun ini belum pernah ditemukan sumber minyak sebesar yang ditemukan di Aceh,” jelas Doddy.

Negara yang paling banyak mengandung migas adalah Venuzuela, Arab Saudi, dan Canada. Sedangkan Indonesia berada di urutan kelima.

Acara yang digelar SKK Migas berlangsung tiga gelombang. Gelombang pertama dilakukan dengan sejumlah Panglima Laot, karena pencarian sumber migas dilakukan di daerah Laut, seperti di Aceh Utara dan Aceh Timur, serta Sabang.

Gelombang kedua, pertemuan dengan para camat di beberapa kabupaten/kota di Sumbagut, dan gelombang terakhir pertemuan dengan wartawan di Hotel Santika. Jumlah wartawan yang hadir sekitar 30 orang yang berasal dari berbagai media.(ib)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved