Serambi MIHRAB
Masjid Baiturrahim Peninggalan Sultan Aceh
MASJID Baiturrahim yang terletak di Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh telah menjadi saksi bisu dahsyatnya gempa dengan
MASJID Baiturrahim yang terletak di Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh telah menjadi saksi bisu dahsyatnya gempa dengan kekuatan 8,9 skala richter dan gelombang tsunami 26 Desember 2004 silam.
Masjid yang dibangun sejak tahun 1923 tersebut juga menjadi saksi saat air laut tumpah ruah ke daratan, ratusan warga berbondong-bondong menyelamatkan diri dengan naik ke lantai dua Masjid. Namun tak lama berselang air laut kembali menghantam segala apa yang ada di kecamatan yang berada di pinggir pantai Ulee Lheue itu. Sehingga ratusan warga yang berada di lantai dua Masjid, tak mampu bertahan dengan dahsyatnya hantaman air laut. Menyebabkan ratusan warga terjatuh terbawa oleh gelombang tsunami. Hanya sembilan warga dan seorang bayi yang selamat saat tsunami menghantam masjid peninggalan Sulthan Aceh pada abad ke-17 itu.
Imarah Masjid Baiturrahim, Tgk Bukhari Harun menuturkan setelah air laut surut kondisi di halaman dan dalam Masjid tidak terlalu terlihat kotor. Hanya jendela Masjid yang rusak, dua tiang patah, serta kayu-kayu yang terbawa gelombang tsunami berserakan di halaman.
“Karena tidak terlalu kotor maka bersama warga sekitar melakukan gotong royong membersihkan masjid. Sehingga seminggu setelah tsunami, Masjid dapat langsung digunakan untuk melaksanakan shalat Dzuhur dengan 35 jamaah, serta 19 hari setelah tsunami Masjid ini juga digunakan untuk melaksanakan shalat Idul Adha dengan menampung ratusan jamaah. Usai shalat di sini para jamaah menangis mengingat tentang betapa besarnya kekuasaan Allah dalam musibah itu,” katanya mengenang peristiswa besar itu.
Tgk Bukhari mengatakan, salah satu dinding Masjid tepatnya di belakang mimbar khatib, saat itu terdapat lubang sekitar tiga meter akibat sebuah mobil yang terbawa air laut menghantam dinding Masjid. Namun, setelah mobil itu diturunkan lubang tersebut ditutup dengan seng. Tak jarang dalam kondisi yang belum aman dengan masih terjadi gempa, angin kencang dan hujan. Para jamaah mundur ke belakang saat melaksanakan shalat agar tidak terkena hujan yang tertiup angin, melalui celah lubang yang telah ditutupi seng tersebut. “Alhamdulillah para jamaah terus bertambah hingga sekarang Masjid mampu menampung sekitar 1.000 jamaah” ujarnya.
Tgk Bukhari yang merupakan penduduk asli Ulee Lheue mengungkapkan dua tiang yang patah akibat hantaman tsunami tersebut hanya menggunakan susunan bata dan semen. “Kami tahu jika tiang masjid yang berada di depan tidak ada besinya saat patah akibat tsunami. Maka tiang tersebut juga diperbaiki dengan menggunakan bahan yang sama,” tuturnya.
Ia menjelaskan pada tahun 1984 Masjid yang memiliki satu kubah itu diperluas, namun tetap menyisakan bangunan asli di bagian depannya yang terdiri dari belasan tiang, dan terbuat dari susunan bata dan semen saja. Sementara tiang-tiang lain di dalam Masjid menggunakan material besi.
Hingga saat ini bangunan asli Masjid masih terlihat kokoh di bagian depannya. Dengan izin Allah mampu bertahan di tengah gempa yang maha dahsyat dan terjangan gelombang tsunami. (mawaddatul husna)