Rabu, 4 Maret 2015

Mengintip Renovasi Masjidil Haram

Jumat, 28 Juni 2013 08:53 WIB

Mengintip Renovasi Masjidil Haram
H AKMAL ELHANIEF Lc

OLEH H AKMAL ELHANIEF Lc, jamaah umrah asal Aceh, melaporkan dari Mekkah

SAAT menginjakan kaki di Mekkah, tempat pertama yang ingin saya kunjungi adalah pasar yang berdekatan dengan Masjidil Haram, tempat favorit jamaah asal Indonesia untuk berbelanja. Di sana berjejer toko-toko yang menjajakan tasbih, tas, pakaian, jam, dan barang elektronik. Tapi kini, pasar favorit jamaah Indonesia itu sudah menjadi lapangan terbuka. Toko-toko sudah dirobohkan, hanya berdiri warung kecil tempat minuman dan makanan yang tidak permanen. Soalnya, kawasan itu kini masuk dalam areal perluasan Masjidil Haram. Seperti kabar yang tersiar, renovasi terhadap Masjidil Haram dilakukan besar-besaran. Luasnya akan ditambah 400.000 meter persegi.

Proses pembangunan kini sedang berjalan. Haram kini bukan saja dipadati jamaah, tapi juga oleh kendaraan alat berat. Di setiap sudut terlihat plang nama proyek dan pekerja yang berlalu lalang. Mereka bekerja di bawah kendali Saudi Bin Ladin Group. Konon pekerjanya mencapai 8.000 orang. Aktivitasnya 24 jam, kecuali waktu shalat.

Ratusan truk terlihat hilir mudik mengangkut batu dan tanah bekas galian dari Syamiyah, gunung batu di sekitar Masjidil Haram. Tadinya gunung itu menjulang tinggi. Kini dibuat rata menjadi fondasi, sementara bagian yang tersisa masih terlihat bangunan rumah dan toko yang sudah ditinggalkan penghuninya.

Beberapa bagian masjid sudah dirobohkan dan sedang dalam proses renovasi. Akibatnya, space masjid yang digunakan untuk shalat juga berkurang. Daya tampungnya pun ikut berkurang.

Karena keterbatasan tersebut, untuk shalat di Masjidil Haram ditetapkan aturan baru. 15 Menit sebelum waktu shalat petugas keamanan sudah menutup pintu dan baru dibuka lagi 15 menit seusai shalat. Jadi, jangan coba datang terlambat, karena Anda akan kehilangan kesempatan berjamaah di masjid mulia ini.

Situasi tawaf pada umrah kali ini pun sungguh berbeda. Pasalnya, jalur tawaf sedang dalam renovasi, sehingga lokasinya jadi sempit. Untuk bisa tujuh kali putaran Baitullah tentu butuh energi ekstra. Bertahan dan berdesakan dalam lautan manusia, didera panas, dan menghirup debu dari bangunan yang dibongkar, itulah kondisi tawaf saat ini.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas