• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 17 April 2014
Serambi Indonesia

Mengintip Renovasi Masjidil Haram

Jumat, 28 Juni 2013 08:53 WIB
Mengintip Renovasi Masjidil Haram
H AKMAL ELHANIEF Lc

OLEH H AKMAL ELHANIEF Lc, jamaah umrah asal Aceh, melaporkan dari Mekkah

SAAT menginjakan kaki di Mekkah, tempat pertama yang ingin saya kunjungi adalah pasar yang berdekatan dengan Masjidil Haram, tempat favorit jamaah asal Indonesia untuk berbelanja. Di sana berjejer toko-toko yang menjajakan tasbih, tas, pakaian, jam, dan barang elektronik. Tapi kini, pasar favorit jamaah Indonesia itu sudah menjadi lapangan terbuka. Toko-toko sudah dirobohkan, hanya berdiri warung kecil tempat minuman dan makanan yang tidak permanen. Soalnya, kawasan itu kini masuk dalam areal perluasan Masjidil Haram. Seperti kabar yang tersiar, renovasi terhadap Masjidil Haram dilakukan besar-besaran. Luasnya akan ditambah 400.000 meter persegi.

Proses pembangunan kini sedang berjalan. Haram kini bukan saja dipadati jamaah, tapi juga oleh kendaraan alat berat. Di setiap sudut terlihat plang nama proyek dan pekerja yang berlalu lalang. Mereka bekerja di bawah kendali Saudi Bin Ladin Group. Konon pekerjanya mencapai 8.000 orang. Aktivitasnya 24 jam, kecuali waktu shalat.

Ratusan truk terlihat hilir mudik mengangkut batu dan tanah bekas galian dari Syamiyah, gunung batu di sekitar Masjidil Haram. Tadinya gunung itu menjulang tinggi. Kini dibuat rata menjadi fondasi, sementara bagian yang tersisa masih terlihat bangunan rumah dan toko yang sudah ditinggalkan penghuninya.

Beberapa bagian masjid sudah dirobohkan dan sedang dalam proses renovasi. Akibatnya, space masjid yang digunakan untuk shalat juga berkurang. Daya tampungnya pun ikut berkurang.

Karena keterbatasan tersebut, untuk shalat di Masjidil Haram ditetapkan aturan baru. 15 Menit sebelum waktu shalat petugas keamanan sudah menutup pintu dan baru dibuka lagi 15 menit seusai shalat. Jadi, jangan coba datang terlambat, karena Anda akan kehilangan kesempatan berjamaah di masjid mulia ini.

Situasi tawaf pada umrah kali ini pun sungguh berbeda. Pasalnya, jalur tawaf sedang dalam renovasi, sehingga lokasinya jadi sempit. Untuk bisa tujuh kali putaran Baitullah tentu butuh energi ekstra. Bertahan dan berdesakan dalam lautan manusia, didera panas, dan menghirup debu dari bangunan yang dibongkar, itulah kondisi tawaf saat ini.

Situasi tawaf semakin sulit karena jamaah yang normal secara fisik bercampur baur dengan penyandang cacat yang menggunakan kursi roda. Saat berjalan, kadang tumit kita tersandung kursi roda. Tak jarang ada yang jatuh dan terluka. Jamaah lanjut usia lebih memprihatinkan lagi. Fisik yang melemah dan suhu panas, membuat mereka sulit bertahan dalam lautan manusia yang terus bergerak cepat.

Dalam proses perbaikan, lokasi untuk tawaf hanya mampu menampung 22.000 jamaah, padahal dalam kondisi normal bisa mencapai 52.000 orang. Alat berat dan pekerja menyita banyak tempat di jalur tawaf, sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi yang tawaf.

Dalam suasana umrah saja banyak jamaah yang terluka dan berdarah, karena terinjak kursi roda atau terimpit, apalagi dalam musim haji yang jumlah jamaahnya bisa mencapai 30 kali lipat. Untuk menghindari berbagai situasi yang tidak diinginkan itu, maka kuota haji tahun ini dikurangi Pemerintah Arab Saudi 20%. Jika melihat situasi saat kami umrah 21 orang bersama rombongan Elhanif Tour, alasan ini cukup masuk akal, karena areal pelaksanaan ibadah sudah berkurang lebih dari 30%. Tapi khusus jalur tawaf, usai perluasan nanti akan bisa menampung 150.000 jamaah. Tak akan ada lagi percampuran dengan penyandang cacat, karena jalur untuk mereka diperlebar 12 meter.

Sekarang ini sekitar 30% bagian bangunan Masjidil Haram sudah dibongkar. Penghancuran dimulai dari bagian timur tempat Sa’i sampai  Almekpria di bagian utara. Dua kawasan ini untuk sementara ditutup total mulai dari lantai dasar hingga lantai tiga.

Selain perluasan Masjidil Haram, Raja Abdullah juga membangun Mekkah Royal Clock Tower, sebuah menara jam yang puncaknya dilapisi emas setinggi 600 meter. Menara ini akan menjadi bangunan kedua tertinggi di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai. Jam menara tersebut dibuat enam kali lebih besar dari Big Ben di London dan akan dijadikan patokan waktu alternatif selain GMT (Greenwich Mean Time).

Puncak manara akan dilengkapi dengan pengeras suara yang mampu memancarkan suara azan sejauh 7 km dari Masjidil Haram. Dilengkapi dengan lampu hijau dan putih yang menyala saat azan berkumandang. Lampunya bisa dilihat dari jarak 30 km, sebagai pertanda bagi mereka yang tak terjangkau suara bahwa sedang berlangsung azan di Haram. Selain itu untuk menghindari kemacetan, juga akan dibangun terowongan yang menghubungkan Mina Mudzalifah dan Arafah.

Secara keseluruhan proyek ini diprediksi selesai tahun 2016, namun untuk kawasan Masjidil Haram akan selesai lebih cepat. Jika proyek ini rampung, maka jamaah yang bisa beribadah di Tanah Suci akan meningkat pesat. Dari hanya 2,5 juta orang akan bertambah jadi 4 juta jamaah. Kendati sekarang kuota haji dikurangi 20%, moga saja setelah proyek renovasi ini rampung, pihak kerajaan akan tambah kuota untuk Indonesia dan Aceh 2 hingga 4 kali lipat dari jumlah sekarang.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
214014 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas