• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 2 September 2014
Serambi Indonesia

Pakar: Setipe dengan Gempa Tangse

Rabu, 3 Juli 2013 14:27 WIB

BANDA ACEH - Gempa berkekuatan 6,2 skala Richter (SR) yang mengguncang Bener Meriah, Aceh Tengah, dan sejumlah kabupaten/kota lainnya di Aceh pada Selasa (2/7) pukul 14.37 WIB, diyakini pakar gempa bukan merupakan gempa vulkanik, melainkan jenis tektonik. Tipenya sama dengan gempa yang mengguncang Tangse, Pidie, pada 22 Januari 2013.

Berdasarkan jenis getarannya, besar kemungkinan sumber gempa tidak langsung terjadi di bawah Takengon, tetapi agak dekat dengan kota penghasil kopi itu. Gempa tersebut pun tidak persis berada di jalur Patahan Sumatera (Sumatra Fault), melainkan kemungkinan berada di lintasan sesar lokal.

Pernyataan itu disampaikan dua pakar gempa, masing-masing Prof Kimata dari Universitas Nagoya, Jepang, dan Dr Nazli Ismail dari Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universiatas Syiah Kuala (FMIPA Unsyiah) kepada Serambi, Selasa pukul 23.00 WIB.

Saat gempa mengguncang, baik Prof Kimata maupun Dr Nazli, sedang berada di Takengon. Mereka sudah sejak tiga hari lalu berada di kota dingin itu melakukan riset dan kajian terkait gempa Sumatera, dipimpin Nazli. Ia merupakan jebolan Universitas Uppsala, Swedia, mantan wartawan Harian Serambi Indonesia, yang kini menjabat Ketua Jurusan Fisika FMIPA Unsyiah.

Prof Kimata menambahkan, gempa di Patahan Sumatra seharusnya tidak terlalu besar atau tidak lebih dari 6 SR. Di Jepang, gempa dengan kekuatan 6,2 SR jarang merusak banyak bangunan. “Tapi di sini bangunan tidak kokoh, kualitasnya buruk, sehingga banyak yang rusak. Ke depan, kualitasnya perlu ditingkatkan,” demikian Prof Kimata.

 Bencana geologi
Sementara itu, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh, Ir Faizal Adriansyah MSi juga mengatakan, gempa yang terjadi di Bener Meriah kemarin merupakan gempa tektonik dari segmen patahan Sumatera/Patahan Semangko.

“Berdasarkan data yang kita terima dari BMKG, gempa tersebut sama seperti yang terjadi di Tangse, Pidie, beberapa bulan lalu,” kata Faizal kepada Serambi kemarin.

Gempa Tangse itu merusak rumah, masjid, sekolah, dan bangunan lainnya terutama di Kecamatan Mane dan Geumpang, sehingga total kerugiannya mencapai Rp 41,7 miliar.

Faizal Adriansyah menambahkan, ciri gempa tektonik, cakupan getarannya luas dan bersifat regional, karena yang bergerak adalah lapisan kulit bumi. Gempa darat memang tidak akan memicu tsunami, tapi karena umumnya pusat gempa darat sangat dekat dengan tempat aktivitas manusia dan apabila pusat gempanya dangkal, maka efek getarannya sangat besar dan dapat mengguncang lapisan bumi dengan kuat walaupun magnitude-nya kecil, 6,2 SR. (dik)

 Perlu Perhatian
Pascagempa 2 Juli
Pascagempa 2 Juli 2013 yang melanda Bener Meriah dan sekitarnya, menurut Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh, Ir Faizal Adriansyah MSi, perlu diwaspadai hal-hal berikut:
* Adanya longsoran atau gerakan tanah sepanjang wilayah tengah Aceh akibat terganggunya kestabilan lereng,
* Waspadai status gunung api, khususnya Burni Telong, di Bener Meriah. Informasi status gunung api agar selalu di-update dan disampaikan ke masyarakat melalui pemkab setempat,
* Masyarakat diharapkan dapat tenang sambil memperbanyak zikir dan doa, karena gempa tektonik tidak serta merta mengakibatkan meningkatnya aktivitas gunung api Burni Telong. Hanya yang diperlukan adalah pemantauaan untuk meningkatkan kewaspadaan,
* Wilayah yang dilalui Patahan Semangko ini juga sangat rentan terhadap longsor. Oleh karena itu, perlu penanganan teknis yang tepat untuk pemotongan lereng dan pembuatan jalan di daerah tersebut. (dik)

Editor: hasyim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
218214 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas