Home »

Opini

Opini

Penentuan Awal Ramadhan, Mengapa Beda?

HAMPIR setiap tahun kaum muslimin disibukkan dengan masalah awal puasa dan berhari

Oleh Alfirdaus Putra

HAMPIR setiap tahun kaum muslimin disibukkan dengan masalah awal puasa dan berhari raya. Pemerintah dan pengurus lembaga-lembaga Islam seperti ormas disibukkan berijtihad untuk memastikan kapan Ramadhan dan Syawal tahun itu dimulai dan berakhir, sementara masyarakat sebagai pengikut setia acap kali dibingungkan dengan berbagai keputusan yang dibuat oleh pemerintah dan Ormas serta lembaga Islam yang terkadang keputusannya berbeda-beda.

Selayaknya hal ini tidak menjadikan perpecahan pada umat Islam walaupun tidak jarang karena perbedaan-perbedaan tersebut, timbul kesalahpahaman dan gesekan-gesekan di antara masyarakat. Masing-masing menganggap benar apa yang diputuskan oleh ormas atau lembaga yang diikutinya dan menganggap salah yang lain, tanpa mereka tahu apa sebetulnya yang dijadikan patokan sebagai pentuan awal dan akhir puasa oleh masing-masing ormas dan lembaga-lembaga Islam tersebut.

 Metode penentuan
Perbedaan penetapan awal bulan Hijriah tak terlepas dari perbedaan metode penetuan awal bulan yang digunakan oleh pihak yang ber-ijtihad. Selama ini dikenal dua metode yang utama dalam penentuan awal bulan Hijriyah, yaitu metode rukyah dan metode hisab. Kedua metode ini sama-sama didasari interpretasi terhadap Alquran maupun hadis yang menjelaskan tentang tata cara memulai mengakhiri puasa.

Metode rukyah menggunakan pengamatan langsung dengan mata (rukyah bil-ain), sementara metode hisab menggunakan pengamatan tak langsung dengan mengandalkan hitungan ilmiah (rukyah bil-ilmi). Meski begitu, kedua metode ini tetap memakai Ilmu Hisab atau Ilmu Falak dalam prosesnya masing-masing. Hanya saja metode rukyah masih memakai pengamatan fisik sebagai final keputusan sedangkan metode hisab cukup dengan perhitungan ilmiah semata tanpa perlu lagi membuktikan dengan pengamatan fisik.

Dalam menentukan masuknya awal bulan kelompok yang berpedoman pada rukyat murni yang menetapkan awal bulan hijriah hanya observasi hilal semata, menghasilkan istimbat hukum apabila hilal tampak pada saat observasi, maka ditetapkan tanggal 1 bulan baru keesokan harinya dan apabila bulan tidak tampak maka di-istikmal-kan (disempurnakan) 30 hari bulan yang sedang berjalan.

Metode yang kedua adalah metode hisab murni berpedoman pada konsep wujudul hilal, yaitu konsep yang menyatakan bahwa keberadaan hilal tidak perlu di-rukyat tetapi cukup dengan perhitungan saja, karena apabila hilal sudah ada secara perhitungan maka dianggap sudah ada secara substansi walaupun tidak mungkin dilihat baik karena terlalu rendah atau tertutup awan, konsep ini sangat berpatokan pada posisi hilal sudah di atas ufuk tanpa mematok ketinggian tertentu.

Kementerian Agama RI sebagai lembaga negara yang berwenang menetapkan awal Ramadhan secara resmi dalam sistem ketatanegaraan kita menggunakan metode imkanur rukyah (kemungkinan hilal dapat di-rukyat) dalam penentuan awal bulan qamariah. Metode ini menyatakan bahwa hilal dianggap terlihat dan keesokannya dapat ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila: Pertama, ketika matahari terbenam, altitude (ketinggian) bulan di atas horison tidak kurang dari 2 derajat; Kedua, jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3 derajat, dan; Ketiga, ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku. Hal ini didasarkan pada pengalaman  astromonis seluruh dunia yang belum pernah dapat mengobservasi hilal jika belum memenuhi kriteria di atas dan tentunya dengan bukti yang otentik.

 Hilal 1434 Hijriah
Awal Ramadhan 1434 Hijriah ini, kembali memunculkan perbedaan sebagai konsekuensi dari perbedaan metode yang digunakan. Hasil perhitungan Badan Hisab dan Rukyat Provinsi Aceh merilis bahwa ijtima’ awal Ramadhan terjadi pada 8 Juli 2013 pukul 14:16:07 WIB, ketinggian hilal berada pada posisi 0 derajat 06 menit 42 detik di atas ufuk untuk markaz Observatorium Hilal Pantai Lhoknga, Aceh Besar, dengan posisi hilal berada pada azzimuth 287 derajat 42' 48" dari titik utara. Hilal berada di sebelah kanan matahari atau sebelah kiri pemantau ketika matahari terbenam.

Beberapa daerah lainnya di Indonesia, ketinggian hilal juga rendah, seperti Jakarta 0 derjat 28' 20", Surabaya 0 derajat 21' 50", Medan 0 derajat 06' 30"  bahkan untuk sebagian Indonesia bagian tengah dan timur piosisi hilal masih negatif atau di bawah ufuk, seperti Samarinda -0 derajat 0' 47", Gorontalo -0 derajat 01' 30", Ambon -0 derajat 01' 04" dan Jayapura -0 derajat 04' 31". Sampai saat ini, hilal yang dapat dilihat dan dibuktikan secara astronomis adalah pada ketinggian 2 derajat.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: bakri
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help