Rabu, 5 Agustus 2015
Home » Opini

Penentuan Awal Ramadhan, Mengapa Beda?

Senin, 8 Juli 2013 10:12

Oleh Alfirdaus Putra

HAMPIR setiap tahun kaum muslimin disibukkan dengan masalah awal puasa dan berhari raya. Pemerintah dan pengurus lembaga-lembaga Islam seperti ormas disibukkan berijtihad untuk memastikan kapan Ramadhan dan Syawal tahun itu dimulai dan berakhir, sementara masyarakat sebagai pengikut setia acap kali dibingungkan dengan berbagai keputusan yang dibuat oleh pemerintah dan Ormas serta lembaga Islam yang terkadang keputusannya berbeda-beda.

Selayaknya hal ini tidak menjadikan perpecahan pada umat Islam walaupun tidak jarang karena perbedaan-perbedaan tersebut, timbul kesalahpahaman dan gesekan-gesekan di antara masyarakat. Masing-masing menganggap benar apa yang diputuskan oleh ormas atau lembaga yang diikutinya dan menganggap salah yang lain, tanpa mereka tahu apa sebetulnya yang dijadikan patokan sebagai pentuan awal dan akhir puasa oleh masing-masing ormas dan lembaga-lembaga Islam tersebut.

 Metode penentuan
Perbedaan penetapan awal bulan Hijriah tak terlepas dari perbedaan metode penetuan awal bulan yang digunakan oleh pihak yang ber-ijtihad. Selama ini dikenal dua metode yang utama dalam penentuan awal bulan Hijriyah, yaitu metode rukyah dan metode hisab. Kedua metode ini sama-sama didasari interpretasi terhadap Alquran maupun hadis yang menjelaskan tentang tata cara memulai mengakhiri puasa.

Metode rukyah menggunakan pengamatan langsung dengan mata (rukyah bil-ain), sementara metode hisab menggunakan pengamatan tak langsung dengan mengandalkan hitungan ilmiah (rukyah bil-ilmi). Meski begitu, kedua metode ini tetap memakai Ilmu Hisab atau Ilmu Falak dalam prosesnya masing-masing. Hanya saja metode rukyah masih memakai pengamatan fisik sebagai final keputusan sedangkan metode hisab cukup dengan perhitungan ilmiah semata tanpa perlu lagi membuktikan dengan pengamatan fisik.

Dalam menentukan masuknya awal bulan kelompok yang berpedoman pada rukyat murni yang menetapkan awal bulan hijriah hanya observasi hilal semata, menghasilkan istimbat hukum apabila hilal tampak pada saat observasi, maka ditetapkan tanggal 1 bulan baru keesokan harinya dan apabila bulan tidak tampak maka di-istikmal-kan (disempurnakan) 30 hari bulan yang sedang berjalan.

Metode yang kedua adalah metode hisab murni berpedoman pada konsep wujudul hilal, yaitu konsep yang menyatakan bahwa keberadaan hilal tidak perlu di-rukyat tetapi cukup dengan perhitungan saja, karena apabila hilal sudah ada secara perhitungan maka dianggap sudah ada secara substansi walaupun tidak mungkin dilihat baik karena terlalu rendah atau tertutup awan, konsep ini sangat berpatokan pada posisi hilal sudah di atas ufuk tanpa mematok ketinggian tertentu.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas