Minggu, 21 Desember 2014
Serambi Indonesia

Istri Juragan: Rk dan Fd Dipaksa Karang Pengakuan

Kamis, 11 Juli 2013 10:30 WIB

Istri Juragan: Rk dan Fd Dipaksa Karang Pengakuan
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Maya Purnama Sari, Isteri Ketua DPRK Nagan Raya, Samsuardi. 

* Juga Diminta Bayar Tebusan

SUKA MAKMUE - Maya Purnama Sari (22), istri Samsuardi alias Juragan yang kini menjabat Ketua DPRK Nagan Raya, membeberkan fakta baru tentang dugaan penganiayaan oleh sejumlah pria yang disebut-sebut sebagai pengawal suaminya terhadap dua pemuda, Senin (8/10) di wilayah hukum Nagan, sebagaimana diberitakan Serambi kemarin.

Datang khusus ke Biro Harian Serambi Indonesia di Meulaboh, Rabu (10/7) siang untuk tujuan klarifikasi, Maya berkali-kali menyebut kata rekayasa. Ia juga menjuluki para pria yang mengasari temannya itu sebagai “penculik”.

“Semua yang mereka nyatakan itu rekayasa. Tidak benar bahwa saya dipergoki sedang berduaan dengan seorang pemuda di dalam sebuah kafe di kawasan pantai Kuala Bubon, Aceh Barat,” kata Maya.

Selain itu, kata Maya, ia sama sekali tidak pernah bertemu dengan pemuda Rk (20) yang dia sebut sebagai temannya di pantai itu. “Demi Allah kami tidak bertemu di situ. Kami justru bertemu di pantai Nagan Permai Indah, tepatnya di kawasan Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya. Tapi saat bertemu kami tidak berduaan, seperti digosipkan. Saya justru sedang bersama tujuh anggota keluarga saya,” kata Maya.

“Saya sedih, teman saya Rk dan Fd dihajar hingga babak belur oleh orang yang menculik mereka, lalu dipaksa mengaku bahwa saya dan teman saya itu seolah-olah berduaan di dalam kafe pantai Kuala Bubon. Padahal, itu sama sekali tak pernah ada. Ini yang saya sebut rekayasa,” kata Maya didampingi saudara dan seorang anaknya.

Menurut Maya, Rk dan Fd (keduanya 20 tahun) merupakan temannya semasa SMP dulu. Jadi, tidak pernah ada hubungan asmara antara ia yang sudah diperistri Juragan dengan Rk maupun Fd.

“Kejadian yang menimpa teman sekolah saya itu telah direkayasa oleh penculik untuk mendapatkan keuntungan dan merusak rumah tangga saya. Makanya perlu saya klarifikasi untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, dengan harapan agar semua masyarakat tahu apa yang sebetulnya terjadi,” ucap Maya.

Versi Maya, sebelum Rk dan Fd diculik sejumlah pria yang datang naik dua mobil, sekitar pukul 18.00 WIB hari Senin itu, Maya bersama enam saudaranya yang lain sedang berada di Pantai Indah Naga Permai. Dari pantai itu ia berkomunikasi dengan Rk, temannya, via ponsel untuk menanyakan di mana posisi pemuda itu.

Rk, menurut Maya, mengaku kepadanya sedang berada di depan RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, Aceh Barat, mengambil obat untuk ibunya yang sakit. Saat itulah Maya minta tolong pada Rk supaya dibelikan susu formula untuk anaknya. Maya berjanji akan mengganti uang Rk setelah susu tersebut diserahkan kepadanya.

Via hp, mereka janji akan bertemu di Pantai Suak Puntong. Setiba Rk di pantai itu, Maya langsung mengambil susu tersebut dan sama sekali tidak masuk ke dalam mobil temannya, jenis Nissan Juke itu.

“Saya hanya mengambil susu dari jendela mobil dan menyerahkan langsung uang pengganti susu tersebut kepada Rk. Adegan itu disaksikan anggota keluarga saya yang lain,” kata Maya yang mengira serah terima susu formula tersebut tidak akan berbuntut panjang.

Tapi belakangan ia merasa ada sesuatu yang tak beres. Tatkala ia sedang kembali ke kediamannya via jalan di depan SPBU Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, tiba-tiba ia ditelepon kembali oleh Rk. “Saat itu dia minta maaf dan langsung terdengar suara minta ampun. Merasa panik dan ingin tahu apa yang terjadi, saya berusaha menghubungi Fd yang saat kejadian juga bersama-sama dengan Rk di dalam satu mobil,” tutur Maya.

Namun, nomor handphone Fd yang dituju Maya tak kunjung tersambung, sehingga ia berinisiatif menghubungi seorang kakak korban untuk menghubungi adiknya itu. “Soalnya, saya berfirasat bahwa teman saya ini sedang dalam bahaya,” ujanya.

Setelah kejadian itu, Maya langsung pulang ke rumah suaminya, Juragan, di Desa Alue Ie Mameh, Kecamatan Kuala, bersama anggota keluarganya. Pukul 20.00 WIB ia kembali terkejut, karena Rk dan Fd  dibawa dalam kondisi babak belur ke kediamannya untuk diperlihatkan kepada sang suami, Samsuardi. Pemuda Rk juga dipaksa mengaku duduk berduaan dengan Maya di pantai Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat. “Padahal, itu cuma rekayasa para penculik.”

Ia tambahkan, Rk dan Fd juga mengaku kepadanya saat bertelepon bahwa sang penculik sempat memianta uang tebusan kepada Rk, karena pemuda itu sebelum kejadian sempat menarik uang Rp 600 juta di sebuah bank di Jeuram, Nagan Raya.

Maya mengaku, ingat persis wajah dari pelaku penculik yang memukul dua tamannya itu. Namun, para pelaku bukanlah anak buah atau pengawal suaminya, Juragan, selaku Ketua DPRK Nagan Raya. “Tidak satu pun di antara para penculik itu saya kenal,” ujarnya.

Memperkuat pengakuannya, Rani bersumpah. “Kalau saya berbohong, maka sepulang dari sini biarlah saya kecelakaan mobil,” kata Maya.  Ia juga mengaku, siap membeberkan fakta sebenarnya kepada polisi, karena persoalan ini merupakan rekayasa pihak tertentu untuk merusak citra rumah tangganya. “Padahal, suami saya sama sekali tak terlibat dalam persoalan ini,” pungkasnya. (edi)

Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas