Home »

Opini

Opini

Embargo Ekonomi vs Bendera Aceh

SAYA sering mendapati fenomena aneh di masyarakat kita, yakni wajah-wajah orang Aceh yang bermuka masam

Oleh Helmy N. Hakim

SAYA sering mendapati fenomena aneh di masyarakat kita, yakni wajah-wajah orang Aceh yang bermuka masam, murung dan pemarah. Awalnya saya mengira ini terjadi hanya di lingkungan komunitas saya sendiri. Lalu semakin hari saya saya lalui dan banyak orang saya temui ternyata raut-raut wajah demikian semakin familiar. Karena begitu familiarnya, saya menerka ini adalah sebuah fenomena unik.

Dalam beberapa kesempatan saya memberanikan diri mempertanyakan persoalan di balik raut-raut wajah pada pemiliknya. Satu-dua orang menjawab ekonominya sedang mengalami masalah.

Lalu, saya coba tanyakan kepada yang berseragam coklat, jawaban yang saya dapati pun sama. Hari-hari berikutnya, hampir di setiap pertemuan dengan teman dan kerabat diskusinya hanya berkaitan dengan ekonomi dan ekonomi. Untuk kemudian saya mencoba riset kecil-kecilan setiap kunjungan ke kedai kopi maupun pedagang sayuran dan profesi lainnya di Banda Aceh. Dari tauke kedai kopi sampai nyak-nyak pedagang sayur menjawab dengan jawaban yang sama, “pasaran sepi”.

Saya menanggapi dengan skeptis, mungkin ini cuma fluktuasi pasar mencoba menghibur mereka, namun tanggapan yang semakin meyakinkan saya terima, sebagian dari mereka mencoba meyakinkan bahwa mereka telah lama berusaha dan tak pernah mengalami penurunan omset berbulan-bulan lamanya seperti akhir-akhir ini. Hal ini menimbulkan rasa penasaran yang luar biasa, sehingga saya menghubungi beberapa kawan di kabupaten lain menanyakan keadaan ekonomi di sana.

 Keadaan ekonomi terburuk
Dari Bireuen, seorang pemilik satu kedai kopi terbesar di daerah itu dengan mengejutkan menjawab: “Keadaan ekonomi terburuk selama 6 tahun terakhir.” Hal ini memaksa beliau untuk “merumahkan” beberapa karyawan kedai kopinya. Saya mencoba mencari data BPS dan kemudian menemukan Penurunan produksi terjadi pada Industri Manufaktur Mikro dan Kecil (IMK) Triwulan I yaitu sebesar -4,14% dibandingkan produksi IMK pada Triwulan I 2012. Sayangnya, BPS belum mengeluarkan update triwulan kedua.

Dari sudut pandang di lapangan, pada saat meugang terakhir di Banda Aceh, di beberapa lokasi di Banda Aceh pedagang daging sapi pun masih menjual dagingnya hingga hampir tengah malam karena masih banyak tersisa. Sebuah pemandangan yang jarang terjadi sebelumnya. Ketika persoalan ekonomi dalam suatu wilayah sudah dirasakan oleh berbagai profesi, golongan dan lapisan masyarakat, maka saya kira fenomena ini sudah layak kita sebut krisis ekonomi atau boleh jadi Aceh sedang memasuki ancaman krisis ekonomi.

Saya ingat ketika Radio Serambi FM membahas 1 tahun pemerintahan ‘Zikir’ yang melibatkan unsur pemerintahan dengan “hanya” memaparkan seputar hambatan mekanisme pengambilan kebijakan ini dan itu tanpa membahas persoalan yang sangat penting terjadi di masyarakat. Bisa jadi ini hanya sekedar lips service atau malah pemerintah pura-pura tidak tahu akan persoalan ini.

Boleh jadi pemaparan saya di atas masih sekedar dugaan saya dan berpotensi besar keliru dan perlu ditindaklanjuti. Namun bahwa perekonomian di Aceh sangat bergantung pada anggaran pemerintah  adalah kenyataan pahit yang belum mampu ditanggulangi hingga saat ini. Ekonomi Ketuk Palu (meminjam istilah Arif Ramdan) yang belum juga usai setelah usainya perang di Aceh.

Fakta lainnya adalah penundaan pengucuran APBA karena masih dalam proses di Kemendagri karena harus disesuaikan seperti Qanun Bendera dan Lambang Aceh serta Qanun Wali Nanggroe. Pemerintah RI di bawah kepemimpinan Presiden SBY tak merestui qanun tersebut berlaku di Aceh, saat ini sampai setidaknya bergantinya pemerintahan nasional baru di Indonesia. Secara tidak kasat mata, Pemerintah Indonesia sedang menerapkan embargo ekonomi terhadap Aceh.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: bakri
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help