Cerpen

Malam Qadar Haji Ramli

Sejak beberapa hari yang lalu, Haji Ramli terlihat gelisah. Sepanjang hari, lelaki paruh baya itu hanya bergonta-ganti

Karya  Rinal Sahputra

Sejak beberapa hari yang lalu, Haji Ramli terlihat gelisah. Sepanjang hari, lelaki paruh baya itu hanya bergonta-ganti posisi dari tidur ke duduk atau sebaliknya di panteu depan rumah dan berulang kali menatap lekat pada langit siang seolah sedang menunggu jatuhnya sesuatu di sana. Meskipun begitu, mulutnya tak henti mengucapkan lafaz zikir.

Istri Haji Ramli, yang biasa dipanggil Mak Yek oleh warga desa karena ukuran tubuhnya yang sangat bongsor sama sekali cuek dengan perilaku aneh suaminya. Setelah menikah selama hampir 15 tahun dengan Haji Ramli, Mak Yek sudah tidak asing lagi dengan perilaku suaminya itu; menjadi gelisah setiap bulan Ramadhan tiba. Mak Yek tahu bahwa kegelisahan suaminya itu dikarenakan keinginan lelaki itu yang begitu besar untuk dapat bertemu dengan malam Lailatul Qadar.

Azan Zuhur terdengar nyaring dari arah meunasah. Beranjak dari panteu, Haji Ramli menuju ke kamar mandi yang posisinya berdekatan dengan dapur. Terdengar bunyi kerekan katrol di sela-sela suara azan dan suara benturan timba dengan dinding sumur. Sambil menunggu suaminya selesai mengambil wudhu, Mak Yek ikut mendongak, mencoba meniru apa yang suaminya sering lakukan akhir-akhir ini. Mak Yek tidak melihat apa pun, kecuali langit biru, gumpalan awan, rombongan burung pipit yang sedang bermigrasi, dan leher yang pegal.

“Harus orang-orang dengan hati bersih yang dapat menyaksikan tanda-tanda kedatangan malam Qadar.” Mak Yek sempat terkejut, sama sekali tidak menduga jika suaminya sudah selesai dari kamar mandi dan sedang menatap tajam ke arahnya. Malas meladeni sindiran suaminya, Mak Yek memilih diam dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

Menjelang waktu berbuka, Haji Ramli kian sering menatap jauh pada langit senja. Tiba-tiba Haji Ramli tampak terburu-buru masuk ke dalam rumah. Rupanya hendak mengambil kaca mata. Bahkan pertanyaan Mak Yek tentang waktu berbuka puasa untuk hari itu tidak digubrisnya sama sekali. Merasa heran dan setengah kesal, Mak Yek mengikuti suaminya ke panteu.

“Dah, kaulihat bentuk bulan itu?” Tanpa menoleh ke arah istrinya, Haji Ramli menunjuk pada bulan yang baru saja melenggang. Mak Yek ikut mendongak, berlagak seolah ahli astronomi. “Tidak ada yang aneh dengan bentuk bulannya. Bukannya bentuk bulan di akhir-akhir Ramadhan memang seperti itu?” Kerutan di kening Mak Yek kian dalam. Lehernya pun mulai pegal.

“Itu, coba kauperhatikan lebih teliti. Bukannya itu terlihat seperti bentuk setengah bejana?” Tampak kesal dengan kebodohan istrinya, Haji Ramli ngotot menyuruh istrinya itu untuk tetap melihat ke arah bulan yang tampak samar pada langit senja.

“Itu berarti malam ini adalah malam Lailatul Qadar. Mungkin karena hatimu yang masih belum bersih sehingga kau tidak melihatnya seperti yang aku lihat.” Wajah Haji Ramli untuk pertama kalinya terlihat begitu berbinar. Sedangkan Mak Yek, bibirnya terlihat manyun; namun sekali lagi mendongakkan kepala sambil menahan pegal. Bulannya baru saja tersaput mendung.

Dan gerimis pun merinai. Berbarengan dengan bunyi seurunee tanda tibanya waktu berbuka puasa dari radio yang sengaja dihidupkan sedari tadi oleh Mak Yek.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved