• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 15 September 2014
Serambi Indonesia

Larangan Menganiaya

Kamis, 25 Juli 2013 08:55 WIB

Oleh Jarjani Usman

“Tidak boleh membahayakan orang lain, dan tidak boleh membalas bahaya orang lain melebihi bahaya yang diberikannya” (HR. Ibnu Majah).

Orang mukmin (diharapkan) pandai merasa bagaimana rasanya menjadi orang lain. Kemampuan merasa ini memberi nilai tambah positif terhadap perilaku. Bila mampu merasa bagaimana susahnya hidup orang yang teraniaya, tentunya tak akan terbetik niat untuk menganiaya dan akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu bila ada umat manusia yang teraniaya. Sehingga sangat tidak bisa diterima akal, bila ada yang mengaku beriman, tetapi malah tega berbuat aniaya.

Apalagi doa-doa orang yang teraniaya, menurut Rasulullah SAW, mudah dikabulkan oleh Allah. Hal ini menandakan betapa adilnya Allah, sehingga menyeru kepada hamba-hambaNya untuk menjalani kehidupan tanpa   berbuat aniaya satu sama lain.  Karena itu, setiap ada niat untuk melakukan sesuatu, dianjurkan untuk memikikan dampak (positif dan negatif)nya terlebih dahulu.  Meskipun bagi diri pribadi kita itu sifatnya iseng atau masalah kecil, bisa jadi malapetaka besar bagi orang lain atau orang banyak. Di sinilah perlu kemampuan untuk berempati.

Dalam sejarah juga disebutkan, akan diberi surga bukan hanya kepada orang yang mampu merasa penderitaan (dan membantu) meringankan penderitaan orang lain.  Seorang wanita yang dengan hati yang ikhlas membuka sepatunya, lalu menciduk air untuk membantu anjing yang sedang kehausan di tengah padang pasir, juga disebutkan menjadi calon penghuni surga. Karena itu, bila ada kesempatan untuk berbuat baik, mengapa harus mengisi kesempatan itu untuk berbuat aniaya.

Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
229513 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas