Kamis, 27 November 2014
Serambi Indonesia

Kurikulum 2013 dan Peran Bahasa Indonesia

Minggu, 28 Juli 2013 10:58 WIB

Oleh Caswo, S.Pd.Guru SD 67 Percontohan, Community School, Banda Aceh

MEMBERLAKUAN Kurikulum 2013 serentak telah dilaksanakan beberapa waktu yang lalu. Untuk lingkup Provinsi Aceh peresmian atau peluncuran Kurikulum tersebut beberapa waktu lalu dilakukan di SMA 4 Banda Aceh yang dilakukan oleh Inspektur Jenderal Kemdikbud, Hayono Umar.

Dengan demikian, Kurikulum 2013 secara nasional juga telah resmi diluncurkan penerapannya, meskipun masih banyak menimbulkan polemik di masyarakat tentang format kurikulum ini. Polemik di masyarakat wajar terjadi karena apapun yang masuk dalam kategori baru pasti akan menimbulkan sikap antara yang pro dan yang kontra.

Salah satu yang akan penulis soroti tentang kurikulum baru ini adalah model pembelajaran tematik. Efek dari pemberlakuan kurikulum ini salah satunya adalah ada beberapa mata pelajaran atau bidang studi, khususnya di satuan pendidikan setingkat Sekolah Dasar yang mengalami perubahan terutama pada jam pelajarannya dalam seminggu.

Sekilas kalau kita amati bidang studi atau mata pelajaran bahasa Indonesia memiliki jumlah atau porsi jam yang relatif banyak. Apa implikasinya? Sejatinya, dalam pengamatan penulis selaku guru di Sekolah Dasar, bahasa Indonesia baik secara langsung maupun secara tidak langsung sudah ada hampir di setiap bidang studi.

Hal ini karena pada dasarnya fungsi hakiki bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Apabila kita cermati di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) disebutkan salah satu di dalamnya tentang bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah bahasa Indonesia.

Artinya, mata pelajaran atau bidang studi apapun sudah dapat dipastikan diajarkan dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Pada kasuskasus tertentu terkadang proses belajar-mengajar memang masih membutuhkan peranan bahasa daerah. Berdasar pada kondisi ini, penulis berasumsi bahwa secara tidak langsung, bidang studi bahasa Indonesia sudah ada sejak lama di bidang studi yang lain.

Bidang studi IPS, PPKn dan lain-lain hampir dapat dipastikan materinya menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini yang menurut hemat penulis sekarang ditunjukkan di dalam Kurikulum 2013 bahwasanya porsi bidang studi bahasa Indonesia yang lalu ditambah jamnya.

Berkenaan dengan peran bahasa Indonesia di dunia pendidikan khususnya dalam setiap bidang studi, ada anomali yang justru terjadi pada beberapa tahun belakangan ini. Fenomena Ujian Nasional, terutama tingkat SMA menunjukkan nilai bahasa Indonesia tidak lebih baik daripada pelajaran bahasa Indonesia. Padahal secara yuridis dan faktual, bahasa Indonesia telah menjadi bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan termasuk sinyalemen penulis bahwa pelajaran bahasa Indonesia secara tidak langsung ada di pelajaran-
pelajaran lain. Ada apa gerangan dengan fenomena ini.

Salah satu yang mungkin dapat kita duga yaitu dari sisi materi pelajaran bahasa Indonesia itu sendiri kalau boleh lebih umum daripada aspek sumber daya manusia, guru. Pada lingkup pendidikan dasar (SD) dalamamatan penulis, materi pelajaran bahasa Indonesia bersifat sangat teknis. Artinya, murid-murid diajarkan tentang bahasa Indonesia bukan pada fungsi hakiki bahasa sebagai alat komunikasi tetapi pada teori-teori kebahasaan semata.

Kalaupun ada materi tentang fungsi dan peran bahasa pada pelajaran bahasa Indonesia, persentasenya sangat kecil. Akibatnya, muridmurid seperti kehilangan arah dalam  memahami pelajaran bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, pada setiap tahun pasca-ujian nasional, selalu muncul pendapat tentang menurunnya nilai bahasa Indonesia lebih karena ketidaksesuaian antara materi yang diajarkan di dalam buku-buku dengan soal-soal yang diujikan.

Pada konteks ini, penulis menduga karena muatan bahasa Indonesia lebih menitikberatkan pada aspek teknis bahasanya, bukan pada fungsi hakiki bahasa. Dengan pemberlakuan Kurikulum 2013 ini diharapkan akan terjadi perubahan paradigma terhadap pelajaran bahasa Indonesia yang telah ditambah jumlah jam tatap mukanya. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana menyiapkan sumber daya guru yang berkompeten. Komponen kurikulum membutuhkan peran serta beberapa komponen, termasuk guru sebagai garda terdepan pelaku atau agen. Harapan ke depan nantinya, tujuan pembentukan karakter bangsa melalui pendidikan akan tercapai.

Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas