Home »

Opini

Opini

Majelis Taklim Virtual

INI bukan gambaran suatu realitas yang tengah terjadi. Hanya khayalan, atau agar terkesan akademis, mungkin

Oleh Bisma Yadhi Putra

INI bukan gambaran suatu realitas yang tengah terjadi. Hanya khayalan, atau agar terkesan akademis, mungkin lebih baik disebut prediksi tentang sebuah fenomena lenyapnya pelan-pelan metode konvensional pendidikan agama. Bayangkan ilustrasi berikut ini. Ada sebuah ruangan besar berisi 100 orang. Semuanya punya tujuan seragam, belajar Tajwid. Sebanyak 99 orang dilengkapi laptop untuk mengakses internet. Aneka laman penyedia beragam artikel dan/atau video pelajaran tajwid diakses. Inilah pengajian virtual.

Tiada interaksi fisis di sana. Mereka sibuk masing-masing, terpaku menatap monitor. Tanya-jawab berlangsung via obrolan maya (online chat/chatting) atau di kolom komentar. Pengajian memang dihadiri seratus orang, tetapi sepi. Sebuah pengajian senyap. Tiada suara karena masing-masing mengenakan headset. Sesekali muncul suara saat ada yang berbicara via video conference atau melafalkan bacaan doa/ayat.

Maka kesepianlah satu-satunya orang yang tak memiliki perangkat apa pun untuk mengakses internet. Meski berada di tengah-tengah keramaian, seolah ia bukan bagian dari keramaian tersebut. Ia bertanya, tapi tak didengar. Barangsiapa yang tak bisa masuk ke dalam cyberspace, maka tak dianggap bagian dari pengajian.

 Pengajian di internet
Perlahan, pengajian tatap muka digantikan pengajian di internet. Kelak, untuk membuat balai pengajian ilmu agama, tak dibutuhkan lagi bahan-bahan seperti kayu, papan, triplek, paku, atap rumbia, atau seng. Balai pengajian masyarakat siber (cyber society) dibangun dengan arus listrik, perangkat PC/laptop/tablet, koneksi internet, dan media sosial atau blog tempat artikel dan/atau video ilmu agama diunggah-unduh.

Fenomena seperti itu mungkin tak akan terwujud. Kecuali, dengan dalih modernisasi metode belajar, kita semakin bergantung pada internet dan meninggalkan-entah secara perlahan maupun radikal-metode konvensional belajar ilmu agama.

Untuk mengetahui doa mandi junub, seseorang cukup membuka internet. Tulisan Arab dan Latin-nya tersedia di berbagai laman. Malah, tersedia pula video ceramah tentang ritual penyucian diri tersebut. Sayangnya, sejauh penelusuran saya, belum ada video yang meragakan tata caranya: menyiram air ke sekujur tubuh sambil melafalkan doa.

Belajar mengenal huruf hijaiyah pun bisa lewat YouTube. Ditampilkan huruf sekaligus cara membacanya. Lengkap dengan penjelasan mengenai tanwin dan tasydid. Ada video versi animasi (misalnya: 3 Hari Pintar Membaca Alquran), ada pula yang menampilkan langsung cetakan buku Iqra’ (misalnya: Cara Cepat Membaca Alquran Iqra 1).

Lebih lanjut, cara membaca Alquran pun tersedia. Lengkap dengan terjemahan ayat, penjelasan tajwid, dan bermacam jenis irama bacaan yang baik dan indah. Untuk mencari tahu apa itu saktah dan iqlab, misalnya, tersedia bermacam artikel dan video yang mengulasnya.

Video-video Ilmu Tajwid biasanya membahas bagian-bagian dari tajwid secara terpisah. Misalnya sebuah video hanya khusus membahas perihal ikhfa syafawi. Tidak hanya video berbahasa Indonesia dan Arab, tersedia pula versi bahasa Inggris. Beberapa yang dapat kita gunakan adalah The Ruling of Qalqalah dan Ayat Al-Qursi 10 Different Qiraat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help